Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
75. Hempaskan Saingan


__ADS_3

Selamat membaca readersku β™₯️β™₯️😘 Yang mau numpang promo saya persilahkan untuk promo di gc saya. Promo di kolom komentar yang sewjarnya saja ya.. dan jangan lupa pencet like dong, jangan cuma numpang promo🀭🀭


mohon maaf dan terimakasih πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ€—πŸ€—πŸ€—


*********


Begitu sampai di parkiran rumah sakit, Ega segera melangkahkan kakinya menuju kamar rawat Zahra. Sampai di sana sudah ada kedua orang tua gadis kesayangannya.


"Loh, Nak Ega? Kok udah ke sini lagi?" tanya Ayah.


"Masalah di kantor udah selesai, Om," jawab Ega.


"Biasakan panggil Ayah dan Bunda mulai sekarang," peringat Ayah Irawan.


"Iya, Yah. Maaf belum terbiasa."


"Jadi, urusan di kantor benar udah selesai?" tanya Ayah Irawan memastikan.


"Sudah, Yah," jawab Ega mantap.


Dering ponsel Ega menginterupsi obrolan mereka. Lelaki itu ijin keluar sebentar untuk menerima panggilan.


"Siang, Pak," ucap Ega begitu keluar dari ruangan.


"Siang. Pak Ega, sekretaris anda bilang, kalau anda tidak mengikuti rapat lanjutan. Bagaimana bisa Bapak seperti ini?" ucap si penelepon di seberang sana.


"Maafkan saya, Pak. Sejujurnya saya sudah tidak menginginkan jabatan tersebut. Biarlah Pak Hendrik menang dengan caranya ini," jawab Ega mantap.


"Saya sangat menyayangkannya, Pak. Bapaklah yang lebih kompeten dalam hal ini."


"Tidak masalah, Pak. Saya menerima apapun keputusannya. Dan sebelumnya saya ingin memberi tahu, Bapak, saya sudah menyiapkan surat pengunduran diri saya. Secepatnya akan saya berikan pada HRD."


"Apa karena masalah ini Bapak mengundurkan diri?"


"Tentu saja tidak, Pak. Sebelumnya saya memang berniat mengundurkan diri, berhubung saya masih punya tanggung jawab dengan promosi jabatan, saya mengurungkan niat saya. Dan setelah rapat direksi tadi, kesempatan saya untuk mundur dari jabatan saya terbuka lebar."


"Lalu, Bapak akan bergabung dengan perusahaan mana?"


"Saya akan meneruskan kepemimpinan orang tua saya di JPO Corp."


"Astaga! Perusahaan online itu milik Pak Ega? Baiklah, Pak. Saya mendukung keputusan Bapak."


"Mikik orang tua saya, Pak. Terima kasih banyak, Pak. Siang," ucap Ega mengakhiri panggilan.


Ada perasaan lega pada hati lelaki itu setelah menyampaikan keputusan besarnya pada atasannya. Ia kembali masuk ke dalam ruang rawat Zahra.


"Sayang, sudah minum obat?" tanya Ega begitu masuk ke dalam kamar.


"Apa kamu b*d*h? Sekarang obat selalu disuntikkan melalui selang infus," celatuk Dokter Arga memancing emosi Ega.


Zahra menahan tangan Ega agar tetap di sampingnya. Gadis itu mulai menyesal membiarkan Dokter Arga berada di ruangannya.

__ADS_1


"Arga. Maaf aku mau istirahat," ucap Zahra mengusir lelaki itu dengan halus.


"Baiklah. Nanti aku sempatkan menjengukmu lagi saat dinas," jawab Dokter Arga.


"Terima kasih. Sebaiknya tidak perlu," jawab Zahra.


Ega tersenyum penuh ejekan pada lelaki di depannya.


Zahra melihat ada kekecewaan di mata Doker Arga. Namun, ia juga tidak mau ada kesalahpahaman dengan Ega. Sendirinya juga kurang nyaman ada lelaki lain yang mencoba mendekatinya.


"Silahkan, Dokter. Pintu keluar ada di sebelah sana. Apa perlu saya antarkan?" tambah Ega.


"Cepet sembuh, Ra. Aku balik dulu," pamitnya.


Zahra mengangguk sebagai jawaban. Lalu Dokter Arga berjalan menghampiri orang tua Zahra yang duduk di sofa kamar rawat itu untuk berpamitan.


"Kenapa kamu gak mengusir dia dari tadi?" tanya Ega menuntut penjelasan.


"Aku udah ngomong sama dia. Tapi dia enggak menggubris omongan aku," ucap Zahra membela dirinya.


"Kamu ngomong seperti apa memangnya sampai dia gak menggubris?"


"Aku tanya dia apa gak istirahat. Pasti capek semalaman jaga di RS."


"Astaga! Sayang! Itu bukan ngusir! Keliatan sekali kalau kamu perhatian sama dia. Dia pasti berpikir kamu memberikan kesempatan dia buat deketin kamu," ucap Ega dengan sedikit menggeram.


"Maaf. Tapi aku nggak ada niatan seperti itu sama sekali. Aku cuma gak bisa langsung mengusir orang. Ada ayah sama bunda juga kok dari tadi yang selalu nemenin aku. Kita gak cuma berdua."


"Nggak perlu, Sayang. Besok pagi aku sudah boleh pulang," jawab Zahra dengan menundukkan kepala.


"Kamu bilang apa? Coba ulangi!" pinta Ega.


"Kamu denger kan. Aku malu mengulanginya."


"Ayolah, bilang sayang aja susah banget. Ini baru pertama kalinya loh kamu manggil aku gitu."


"Ngapain sih nunduk-nunduk gitu?" tanya Ega mengangkat dagu Zahra.


"Malu," jawab Zahra.


"Kenapa harus malu, sama tunangan sendiri juga. Bentar lagi kita juga bakal nikah. Masak iya kamu masih tetep malu."


"Ih, apaan sih." Zahra semakin tersipu.


"Pacaran terooosssss! Jiaan gak ngerti papan panggonan!" celetuk Efelin yang melihat kakaknya malu-malu digoda Ega.


(Pacaran terus! Benar-benar gak tahu tempat.)


"Eleng iki rumah sakit. Guduk taman sing akeh kembange kayak ndek taman langit sing romantis gawe pacaran," lanjut gadis kecil itu.


(Ingat ini rumah sakit. Bukan taman yang banyak bunganya seperti di taman langit yang romantis buat pacaran.)

__ADS_1


"Efelin," peringat sang bunda.


"Dalem, Bunda," jawab gadis kecil itu.


"Yang sopan sama kakaknya."


"Selalu deh, Mbak sama Kak Ega dibelain," gerutunya.


"Assalamualaikum," ucap orang yang memasuki kamar rawat Zahra.


"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak.


"Uti," sapa Ega menghampiri Uti Salma.


"Ibu," sapa Bunda Ratih menghampiri nenek dari calon menantunya diikuti Ayah Irawan juga.


"Gimana keadaan cucu mantuku?" tanya beliau begitu semua orang yang ada di sana menyalaminya.


"Sudah lebih baik, Uti. Alhamdulillah," jawab Zahra yang hanya bisa duduk di ranjang rawatnya.


"Siapa orang yang tega melakukan ini sama kamu, Nduk," tanya Uti Salma prihatin.


Zahra kembali menceritakan kejadian malam itu. Uti Salma dengan seksama mendengarkan ceritanya.


"Kamu mengorbankan dirimu demi orang lain, Nak? Uti ndak nyangka hatimu sebaik itu. Ndak salah memang kalau Ega cinta mati sama kamu," tutur Uti salma setelah mendengar cerita Zahra.


"Jaga baik-baik cucu mantuku ini. Jangan sampai disakiti orang lagi," pesan Uti Salma pada cucunya.


"Enggeh, Uti. Dengan sepenuh hati," jawab Ega mantap.


"Nanti, kalau kalian sudah menikah. Pasti akan lebih banyak batu kerikil yang menerpa kalian. Belajarlah mulai dari sekarang. Saling percaya satu sama lain. Kepercayaan pada pasanganlah yang akan tetap menjaga pernikahan kalian nantinya, Uti hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua."


"Ga, kok kamu di sini?" tanya Uti pada cucunya.


"Kan dari tadi emang Ega di sini, Uti," jawab lelaki itu.


"Maksud Uti kenapa kamu gak ke kantor. Tadi kamu pamit ke kantor sama Uti," jawab Uti Salma menjelaskan maksudnya.


"Tadi udah ke kantor. Setelah itu langsung ke sini," jawab Ega.


"Yang begini ini gimana mau menghidupi keluarganya. Sama pekerjaannya saja tidak bertanggung jawab."


"Gak tanggung jawab gimana, kok Uti bilang seperti itu?"


"Lha wong kamu ada di sini di saat jam kerja. Apa itu tanggung jawab namanya? Kalau seperti ini bisa-bisa Zahramu bisa direbut orang karena kamu ndak bisa menafkahinya."


"Astaghfirullah, jangan sampailah," jawab Ega spontan.


"Jadi inget dokter yang tadi," ucap Efelin menimbulkan wejangan panjang dari Uti Salma.


****

__ADS_1


__ADS_2