
Setelah acara pertunangan selesai. Zahra dan Zakia masuk ke dalam kamar gadis itu yang berada di lantai dua.
Kamar bernuansa khas perempuan itu terlihat nyaman untuk di tempati. Membuat Zakia ingin sekali segera membaringkan badannya di sana.
(Sumber : internet)
Zahra membuka lemari pakaiannya dan mengambil dua piyama untuk mereka berdua.
"Kia, nih kamu pakai, ucapnya dengan mengulurkan salah satu piyamanya.
"Makasih, Mbak. Aku ganti dulu ya," jawab Zakia.
Gadis itu berjalan mengambil tasnya yang tergeletak di kursi baca di kamar itu untuk mengambil tas kecil yang berisi sabun muka dan yang lainnya. Lalu berjalan menuju kamar mandi yang terletak di sudut kamar Zahra.
Zahra duduk di tepian kasurnya sambil menunggu Zakia selesai. Memperhatikan cincin indah yang tersemat indah di jari manisnya. Tak menyangka, jika dirinya sekarang telah resmi bertunangan dengan Ega.
Kegiatannya itu sempat terganggu lantaran bunyi ponsel Zakia yang memekakan telinga. Ia mencari-cari sumber suara itu tetapi, tidak menemukannya.
Tak berapa lama suara ponsel itu berhenti. Zahra kembali menekuni kegiatannya memandang cincin pertunangannya.
"Bahagia banget ya, Mbak. Akhirnya tunangan sama kak Ega," ucap Zakia yang mengagetkan Zahra.
"Oh-eh, udah selesai ya?" jawab gadis itu sedikit tergagap karena kaget.
"Udah, Mbak."
"Oh iya, tadi ponselmu bunyi. Kayaknya ada telepon," ucap Zahra memberi tahu.
"Oh, iya, Mbak. Makasih."
Zahra berpamitan untuk berganti pakaian di kamar mandi. Meninggalkan Zakia yang sedang mengecek ponselnya.
Gadis itu fokus melihat beberapa pesan dan panggilan yang masuk. Banyak pesan dari teman-temannya yang menanyakan kabarnya.
Hatinya sedikit tersentuh melihat masih banyak teman yang care dan peduli padanya. Bahkan keempat temannya ternyata juga masih peduli padanya.
Dari info yang ia tahu dari Rio, orang yang tega melakukan pelecehan padanya itu ternyata adalah suruhan Alena.
Ia benar-benar tak menyangka Alena sejahat itu. Rio dibantu oleh Raka, Devan, dan Alan, akhirnya dapat menemukan orang yang telah merusaknya.
Sayangnya, kedua orang tua Zakia tidak mau berurusan dengan polisi. Mereka lebih memilih menerima permintaan maaf dari keluarga Alena dan orang yang telah berbuat asusila padanya.
__ADS_1
"Kia, kok ngelamun?" tegur Zahra.
"Oh, udah selesai ya, Mbak? Mau langsung istirahat?"
"Belum. Kayaknya aku gak bakal bisa cepet tidur," jawab Zahra.
"Mau denger aku cerita gak, Mbak?" tanya Zakia ragu-ragu, mengingat hari ini baru saja gadis di depannya itu melalui hari yang bahagia.
"Tentu. Ayo, cari posisi yang pewe."
Kedua gadis itu menaiki kasur berukuran queen size itu. Menempatkan diri mencari posisi ternyaman.
"Mau bercerita tentang apa?"
"Yang kemarin, Rio udah tahu pelakunya," ucap gadis itu memandang langit-langit kamar.
"Siapa? Kamu mengenalnya? Udah dilaporin?"
"Papa sama mama gak mau memperpanjang masalah ini, Mbak. Keluarga mereka jauh lebih kaya, dan itu membuat papa berfikir akan keselamatan aku."
"Maksud kamu?"
"Papa memilih menerima permintaan maaf mereka. Mama Rossa sempat tidak terima waktu itu. Dia dan Alena beserta keluarganya mendatangi rumah Mama Rossa untuk meminta maaf.
Zakia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Iya, Mbak. Dia yang merencanakannya. Dan cowok itu, teman Alena. Raka bilang dia salah satu anak kampus juga."
"Kemarin, cowok itu bersedia bertanggung jawab, tapi mama dan Mama Rossa menolaknya."
"Aku takut, Mbak. Aku takut dia muncul lagi dan menggangguku."
"Aku berfikiran lebih baik aku tidak melanjutkan kuliahku, aku takut bertemu mereka, Mbak."
"Sebaiknya memang kamu pindah kampus. Akan lebih mudah buatmu untuk melupakan kenangan buruk di sana."
"Kalau aku pindah kampus aku harus mengulang lagi, Mbak. Kasihan mama sama papa yang cari biaya, apalagi di kampung adikku juga masih sekolah. Lebih baik aku berhenti aja, Mbak, dan lanjut cari kerjaan."
"Udah ngomong sama Rio atau Tante Rossa?"
"Belum, Mbak. Aku hanya cerita sama Mbak aja. Sebenernya Mama Rossa udah mau ngajuin gugatan untuk masalah kemarin. Tapi mama sama papa tetep nggak mau, Mbak."
"Tante Rossa udah sayang banget sama kamu, Kia. Begitu juga Rio. Kamu harus semangat demi mereka. Kita harus berjuang melawan trauma dari kejadian kelam yang menimpa kita."
__ADS_1
"Iya, Mbak. Tapi, jujur, Mbak. Aku malu sama diriku sendiri, apalagi sama Rio, Mama Rossa, mereka terlalu baik padaku. Bahkan Rio, dia mengajakku menikah secepatnya."
"Kamu bagaimana diajak nikah sama dia?"
"Aku belum jawab, Mbak. Aku takut kalau nanti aku hamil anak cowok jahat itu, Mbak."
"Aku nggak akan memaksamu untuk menerima Rio. Aku sendiri pernah berada di posisi kamu, Kia. Aku juga merasa nggak pantas buat Ega. Butuh waktu dan kemauan yang tinggi untuk aku sampai di tahap ini."
"Pikirkanlah baik-baik, semua kamu yang menjalani nantinya. Kamu yang bisa menentukan jalan hidupmu. Dan yang terpenting, pikirkanlah orang-orang yang selalu ada di sampingmu saat kamu berada di titik terbawah. Dialah yang benar-benar mencintaimu."
"Mbak juga seperti itu?"
"Ya. Mereka yang selalu di sisiku yang membuatku bisa bangkit dari keterpurukan. Dan jujur, aku tidak rela saat ada perempuan yang mendekati Ega." (Baca detailnya pada bab Piknik - Kepergok calon Mertua)
"Saat itu aku juga berada di posisimu seperti ini. Merasa tidak pantas buat Ega. Tapi saat itu, aku tidak sengaja melihat panggilan masuk di telepon Ega dari seorang perempuan. Dan saat itu muncul perasaan tidak rela kalau aku harus kehilangan dia untuk yang kedua kalinya. Saat itu aku sadar, aku mencintainya, ku mantapkan hatiku untuk membuka lembaran baru bersamanya."
"Percayalah, kebahagiaan itu akan datang padamu, Kia."
"Mbak, sebenarnya Rio sudah melamarku," ucap Zakia membuat Zahra terkejut.
"Serius? Kapan? Kenapa Tante Rossa tidak memberitahu keluarga di sini?"
"Tidak ada acara resmi seperti pertunangan Mbak Zahra hari ini. Dia hanya memintaku untuk memikirkannya terlebih dahulu. Bahkan Mama Rossa juga nggak tau."
"Astaga! Kapan dia melamar kamu?"
"Tadi pagi sebelum berangkat ke sini."
Zakia mengeluarkan sebuah kalung berbandul cincin dari balik baju piyamanya.
(Sumber : internet)
"Dia bilang, kalau aku menerima lamarannya, aku harus memakai cincin ini, kalau aku tidak menerimanya, biarkan cincin ini tetap menjadi bandul kalung ini. Kalung ini juga dari dia, Mbak. Sambil memasangkannya padaku, dia berpesan seperti itu."
"Dia benar-benar serius padamu, Kia. Pikiran matang-matang. Hanya kamu yang tahu apa isi hatimu."
"Iya, Mbak. Makasih banyak ya. Tolong jangan bilang pada siapapun, termasuk Mama Rossa."
"Tenang saja. Aku tahu, kalau Tante Rossa sampai tahu, aku yakin hatimu tidak akan tenang. Karena dia pasti akan selalu menanyakan jawabanmu segera."
"Iya, Mbak. Itu juga yang aku takutkan."
__ADS_1
Mereka melanjutkan obrolannya hingga tengah malam. Saling bertukar cerita tentang masalah pribadi dan juga saling memberi dukungan satu sama lain. Karena mereka merasa sama-sama berada dalam ruang kelam yang sama.