
Selesai makan siang, Zahra masih harus membersihkan dapur yang ia kotori. Mencuci semua peralatan masak dan peralatan makan yang baru saja dipakai.
Ayah dan anak tadi lebih dulu kembali ke ruang tamu. Duduk bersantai sambil menikmati kopi buatan Zahra.
Selesai membersihkan dapur mewah itu Zahra ikut bergabung dengan Ega dan papanya. Memilih tempat duduk di sofa yang berbeda dengan Ega.
Papa Adnan memuji masakan Zahra yang menurutnya sangat lezat. Bahkan lebih lezat dari masakan restoran yang banyak bintangnya.
Ega menyetujui ucapan sang papa. Ia sangat suka masakan yang dibuat Zahra. Apalagi sambal terongnya, membuat ketagihan. Hampir semuanya dimakan lelaki itu.
"Kira-kira kapan papa bisa ketemu sama ayahmu, Ra?" tanya Papa Adnan.
"Mungkin minggu depan, Pa," jawab gadis itu.
"Papa mau silaturahmi ke rumahmu."
Silaturahmi, kalau dalam artian di daerah Zahra itu semacam kode bahwa akan diadakan acara tunangan.
Zahra mengangguk sebagai jawaban. Dalam pikirannya berkecamuk rasa belum siap untuk menikah. Masih terbayang-bayang hal buruk yang pernah menimpanya.
"Ra, kok ngelamun?" tanya Ega.
"Ya sudah, kalian lanjutkan ngobrolnya. Papa mau istirahat dulu. Zahra kalau mau istirahat silahkan, banyak kamar yang bisa kamu tempati di sini. Dan jangan mau kalau Ega mengajakmu ke kamarnya," ucap sang papa.
"Iya, Pa."
"Ah, Papa mah, kan udah mau sah."
"Belum sah! Awas kamu kalau macam-macam."
"Iya, Pa, iya. Satu macam aja kok. Tenang aja," jawab Ega.
Papa Adnan berlalu melewati Ega. Sebelum benar-benar pergi, beliau sempat menarik telinga kanan anaknya. Membuat lelaki itu mengaduh kesakitan.
Zahra tersenyum di tempatnya. Melihat kedekatan dan keakraban dua orang lelaki yang beberapa bulan terpisah jauh itu.
Setelah Papa Adnan masuk ke kamarnya, Ega berpindah duduk ke samping Zahra. Merebahkan kepalanya di pangkuan gadis itu.
"Kamu ngapain sih?"
"Pengen dielus sama kamu."
"Bangun dong. Gak nyaman nih," ucap gadis itu.
"Belajar. Harus dibiasain mulai sekarang."
"Kamu ngeselin."
"Udah cepetan."
Ega mengambil tangan Zahra dan meletakkannya di atas kepalanya. Menuntun tangan gadis itu untuk mengusap kepalanya.
"Nah, kayak gitu. Ayo lanjtin."
"Biar apa sih diginiin?" tanya Zahra.
"Ya biar romantis."
"Iya kalau romantis. Kalau aku nemu kutu rambut gimana?"
"Mana ada! Aku gak kutuan, ya!" serunya.
__ADS_1
"Yah kan aku bilang kalau. Aku enggak ngatain kamu."
"Kamu kok gemesin sih, Sayang. Pengen cium. Udah lama gak cium kamu."
Zahra memukul dada Ega karena ucapannya. Membuat lelaki itu mengaduh kesakitan. Karena memang Zahra benar-benar memukulnya dengan tenaga.
"Sakit tahu, Yang," keluhnya.
"Kamu sih, ngomongnya sembarangan."
"Eaa, malu dia. Padahal udah pernah cium-cium juga."
Ega masih terus saja menggoda gadisnya. Membuat gadis itu sengaja menambah rambutnya.
"Aduh! Aduh! Sakit, Yang. KDRT mulu kamu."
"Kamu kan ngeselin emang."
"Orang ganteng begini di bilang ngeselin," ucap Ega dengan pedenya.
"Ga. Kamu masih hutang penjelasan ya sama aku," kata Zahra mengingatkan.
Gadis itu kembali mengusap kepala Ega yang sempat ia jambak. Ega memegang tangan Zahra yang satunya, menggenggamnya erat, sesekali mendaratkan kecupan di punggung tangan gadis itu.
"Yakin kamu mau denger?"
Zahra mengangguk sebagai jawaban.
*****
EGA
Aku tersenyum memandang wajah indah gadisku yang tengah menunduk memandangku. Ingin sekali kukecup bibir merah alaminya itu.
Kali ini ia meminta penjelasan atas apa yang tidak diketahuinya. Sebenarnya aku enggan menceritakannya. Bukan aku ingin menutupi sesuatu darinya. Tapi menurutku ini bukan hal yang penting.
Melihat wajahnya yang sangat ingin penjelasan dariku, dan juga aku tak ingin ia salah paham. Jadi, aku menceritakan semuanya padanya.
Selama di Singapura, papa kembali merintis usahanya di sana. Berbekal pengalaman yang ia dapat dahulu, beliau membuka usaha pengiriman barang online. Dulu hanya beberapa saja karyawannya, semua karyawan papa asli orang Indonesia. Entah papa bertemu mereka di mana aku tak tahu.
Seiring berjalannya waktu, banyak pengusaha yang memakai jasa papa. Dan tak sedikit dari mereka mengajak papa untuk kerja sama. Hingga akhirnya sukses sampai sekarang.
Papa berniat kembali ke Indonesia memang, makanya beliau membeli rumah ini setahun yang lalu. Beliau bilang ingin menghabiskan masa tua di sini, di kota kelahirannya.
Sebenarnya papa ingin sekali mewariskan usahanya padaku. Namun, aku masih belum berkeinginan untuk melanjutkannya. Bukan aku tak mau, tapi menurutku papa masih mampu mengurusnya sendiri.
Maka dari itu aku memilih bekerja di perusahaan lain. Hitung-hitung mencari pengalaman.
Papa setuju-setuju saja dengan keinginanku. Beliau hanya meminta saat aku umur tiga puluh tahun nanti aku menggantikan posisinya.
Saat ini papa sedang meninjau tempat baru di Surabaya. Rencananya beliau akan membuka satu cabang di sana. Karena ada juga pengusaha yang mengajaknya kerja sama.
Kalau cocok, kemungkinan besar akan membuat satu unit kantor di sana. Saat kutanya kenapa tidak di Malang saja, beliau menjawab di Malang potensi memang sangat bagus. Namun, sayang masih belum menemukan partner yang cocok.
Kulihat gadisku menyimak semua ceritaku dengan seksama. Tanpa memotong sedikitpun ucapanku.
Satu sisi yang sangat kusukai darinya sejak dulu, dia akan selalu mendengarkan semua keluh kesah siapapun tanpa memotong atau menghakimi.
****
Author
__ADS_1
"Jadi selama ini kamu anak sultan?" tanya Zahra mencoba bergurau.
"Ya anak papa dong. Sejak kapan papa jadi sultan?" balas Ega tersenyum lalu mencium tangan Zahra lagi.
"Lah ini rumah aja udah kayak istana. Rumah Rio aja gak se gede ini. Kayaknya ini rumah yang paling gede dan megah di Bukit Tidar."
"Aku gak tau. Meski satu perumahan sama Rio aku gak pernah main ke rumahnya. Hehehe."
"Dasar! Padahal punya rumah segede gini, kenapa ngontrak coba? Anak sultan kok ngontrak?"
"Ya terserah aku dong."
"Iya terserah deh. Sebahagiamu Mas."
"Aku bahagia kalau bisa seperti ini setiap hari sama kamu, dek."
"Kamu kan anak sultan. Gak pengen gitu beli kue yang harganya setengah juta itu? Kemaren aku lihat statusnya temenku di WA dia beli itu loh," kata Zahra tiba-tiba mengalihkan obrolan.
"Ogah. Buat apa?"
"Ya dimakan."
"Dari pada beli yang merah lima ratus ribu dapat tiga buletan. Mending beli yang item tuh lima ratus ribu dapat buanyak bisa dibagiin ke orang sekampung."
"Kan penasaran tuh rasanya gimana."
"Udah. Kujamin sama aja. Nanti masuk perut diproses di sana gak sampai sehari udah keluar jadi kotoran. Sayang dong, lima ratus ribu itu."
"Anak sultan kok perhitungan," ejek Zahra.
"Oh iya, Yang. Hari minggu kita dapat undangan nikah dari Rio sama Tria."
"Wah mereka udah mau nikah aja. Rosa sama Dion diduluin ya."
"Rosa sama Dion udah tunangan tapi. Kita kapan, Yang?"
"Entar kapan-kapan," jawab Zahra sekenanya.
"Kamu inget gak sih, Yang. Dion tuh bucin banget sama Rosa. Mungkin aku kena karma kali ya, dulu suka ngatain dia. Sekarang malah aku juga bucin sama kamu," ucap Ega.
"Heleh. Emang kamu bucin sama aku?"
"Iyalah. Aku dari SMA juga kan cinta sama kamu. Ya, nasib baiknya sih dari dulu kita deket. Nah si Dion kan ngejar Rosa ditolak mulu."
Mereka berdua terlarut dalam obrolan ringan. Ega berangan-angan membayangkan tentang keluarga kecilnya. Menikmati kebersamaan dengan istri dan anak-anak yang banyak.
"Kamu pikir aku ayam bisa beranak banyak?"
Protes Zahra saat Ega berkata ingin mempunyai anak yang banyak.
Ega mengajak Zahra untuk beristirahat. Ia berjanji akan mengantarkannya nanti setelah salat maghrib.
Tanpa diketahui Zahra, lelaki itu telah meminta ijin pada sang bunda kalau gadis itu pulang sedikit terlambat.
Sang bunda mengiyakan dan berpesan untuk selalu menjaga Zahra. Dan harus di pulangkan dengan keadaan utuh tidak lecet sedikitpun.
******
yang kepo kebucinan Dion sama Rosa, ikuti ceritanya di sini ya.. nanti kalian ketemu Zahra sama Ega di sana. hehehe..
Adelkha Depe : Tentang Hati
__ADS_1