
"I love you," bisik Rio di telinga Zakia.
"I love you too," balasnya.
Rio melepas pelukannya. Membantu Zakia untuk kembali ke tempat tidur. Terlihat sekali gadis itu pucat dan lemas.
"Kenapa kamu bisa sampai kayak gini? Kita ke rumah sakit ya?" ajak Rio.
Gadis itu menggelengkan kepala. Menolak ajakan Rio.
"Temani aku di sini. Jangan pergi ya?" pinta Zakia.
"Iya. Aku nggak akan ke mana-mana. Aku selalu di sampingmu," jawab Rio yakin.
Pintu kamar Zakia terbuka dari luar, di sana berdiri Bu Sarah yang tak lain adalah mama dari Zakia.
Ibu paruh baya itu tersenyum lega melihat Zakia yang terlihat bahagia meski wajahnya pucat.
"Nak Rio, kamu bisa istirahat di kamar sebelah. Pasti kamu lelah setelah perjalanan jauh dari Malang," ucap Bu Sarah.
"Iya, Tante, terimakasih. Sepertinya saya tidak bisa menginap," jawab Rio sopan.
"Kenapa?" tanya Zakia.
Rio tersenyum sesaat memandang wajah kecewa Zakia. Terlihat jelas bahwa gadis itu mengharapkan lelaki yang tengah duduk di sampingnya itu untuk menetap lebih lama.
"Mama di rumah sendirian, Tante. Saya ndak bisa lama-lama di sini. Sebenarnya niat saya kalau diijinkan, saya ingin Zakia ikut kembali ke Malang. Tapi, sepertinya keadaan dia tidak memungkinkan."
"Jangan dulu ya, Nak. Untuk sementara waktu biar Zakia tenang dulu di sini. Dan Tante rasa di sana tidak aman untuk kami."
"Masalah itu, saya sudah tahu, Tante. Dan saya juga sudah membereskannya. Orang-orang yang meneror keluarga Tante dan Kia udah dapat hukuman yang seusai."
"Bagaimana bisa? Bukankah mereka ada yang anggota dewan?" tanya Bu Sarah tidak percaya.
"Memang bukan saya sepenuhnya, Tante yang mengatasinya. Calon suami sepupu saya yang mengurus masalah itu. Entah apa yang dia lakukan pada mereka dengan kekuasaannya."
"Apa dia Kak Ega?" tanya Zakia.
"Iya, Yang. Dia yang bantu aku buat ngurus supaya mereka mendapat hukuman," jawab Rio dengan senyuman menghiasi wajahnya.
__ADS_1
"Apa nanti tidak akan menimbulkan masalah baru untuk kalian, Nak?" tanya Bu Sarah.
"Kita berdoa saja yang terbaik, Tante."
"Semoga. Ya sudah, Tante tinggal dulu. Istirahatlah di sini barang sebentar, Nak. Jangan lupa kabari mama kamu ya," pesan Bu Sarah sebelum meninggalkan lagi mereka berdua.
*****
"Assalamualaikum," ucap Zahra saat memasuki rumah megah Ega.
Di ruang tamu Uti Salma sedari tadi memang menunggu kedatangannya. Ia segera berjalan menghampiri Zahra yang masih berdiri di depan pintu masuk.
"Cucu mantuku," sapa Uti Salma pada Zahra. Beliau langsung memeluk gadis itu menyalurkan rasa rindunya.
"Kita langsung berangkat ya, Uti udah gak sabar nunggu nanti," ajak Uti Salma pada Zahra dan Ega.
"Perlengkapan semua udah siap? Barang bawaan Uti mana?" tanya Ega.
"Di sana, punyamu punya papamu juga sudah Uti siapkan. Tinggal masukkan ke mobil," jelas Uti Salma.
Tanpa menjawab Ega langsung mengambil barang-barang yang telah disiapkan oleh sang nenek. Setelah semua siap, mereka bergegas menaiki mobil Ega yang lain yang telah disiapkan supir keluarga.
"Siap, Nyonya. Sepertinya aku ganti profesi jadi supir kalian," keluh Ega.
Lelaki itu duduk sendirian di depan. Sementara Zahra diminta Uti Salma untuk menemaninya di belakang.
"Nanti kan papamu bisa duduk di depan. Ngunu ae kok repot, (gitu aja kok repot)," ucap Uti Salma.
Sepuluh menit perjalanan mereka sampai di kantor Papa Adnan, setelah beliau masuk mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit di luar kota tempat Keyla di rawat.
Perjalan yang memakan waktu berjam-jam itu membuat Zahra terlihat bosan. Obrolan dengan Uti Salma sesekali terhenti ketika topik yang mereka bahas tidak memiliki lanjutan.
Sesekali Papa Adnan menyinggung tentang hari pernikahan, Zahra masih terlihat bimbang saat topik yang dibicarakan adalah pernikahan.
Ega tak begitu menanggapi melihat respon Zahra yang terlihat tidak mantap. Sejujurnya ia menanti kesanggupan gadisnya untuk menerima jika pernikahan mereka dipercepat.
Mereka berhenti di rest area untuk istirahat sejenak dan menjalankan ibadah salat maghrib. Setelah selesai dengan ibadahnya, Papa Adnan mengajak mereka semua untuk mengisi perut di restoran yang ada di dekat rest area.
"Apa kalian berdua ada masalah?" tanya Uti Salma saat mereka tengah menunggu pesanan.
__ADS_1
"Maksud Uti?" tanya Ega.
"Uti perhatikan dari tadi kalian saling diam dan jaga jarak."
"Hanya perasaan Uti saja mungkin," jawab Zahra tersenyum dengan mengusap lembut pundak Uti Salma yang duduk di sebelahnya.
"Hem. Apa benar begitu? Kalau kalian memang ada masalah segera selesaikan. Ndak baik membiarkan masalah berlarut-larut. Bicarakan baik-baik, jangan menggunakan emosi. Uti harap kalian sudah berbaikan sebelum sampai di tempat Keyla."
Zahra hanya mampu memberikan senyum untuk Uti Salma dan Papa Adnan yang diam-diam memperlihatkan. Memang, Ega masih mendiamkannya gara-gara salah paham kemarin.
Makanan pesanan mereka datang dan menghentikan sejenak pembahasan Uti Salma. Mereka menikmati hidangan masing-masing dalam diam.
******
Seusai salat maghrib, Rio berpamitan pada keluarga Zakia untuk kembali ke Malang. Dengan berat hati gadis itu merelakan kekasihnya itu kembali.
"Nanti secepatnya aku sama mama bakal ke sini lagi buat ngelamar kamu," pamitnya pada Zakia. Gadis itu mengangguk mengiyakan.
"Hati-hati ya, Nak Rio," ucap Bu Sarah.
"Sebenarnya Tante ingin kamu menginap sehari di sini. Bahkan kamu baru tadi pagi sampai, Nak," lanjut beliau.
"Kasihan mama, Tante. Tadinya saya sudah menghubungi Mbak Zahra untuk menemani mama. Tapi, ternyata dia sedang dalam perjalanan menjenguk saudara tunangannya. Jadi mau ngga mau saya harus kembali, Tante," ucap Rio menjelaskan.
"Iya, Tente ngerti. Salam buat mama kamu ya. Tolong sampaikan maaf Tante untuk mama kamu."
"Iya, Tante. Saya jalan sekarang ya," pamit lelaki itu. Ia menyalami Bu Sarah dan Zakia yang mengantarkannya sampai di halaman rumah.
Sebelum beranjak, ia memberanikan diri mencium pucuk kepala Zakia. Bu Sarah tersenyum melihat keberanian Rio.
"Jadilah imam yang baik untuk putriku kelak, Nak," pesannya menepuk pundak lelaki itu.
"Insyaallah, Tante. Saya pamit, Assalamualaikum," ucap Rio yang dijawab bersamaan oleh Zakia dan ibunya.
Lelaki itu masuk ke dalam mobilnya. Melakukan perlahan meninggalkan Zakia dan ibunya yang masih terlihat dari kaca spion.
Rasa berat meninggalkan gadisnya di sana begitu besar dirasakannya. Tetapi, ia juga tak bisa berlama-lama berada di sana. Andai saja keadaan gadis itu memungkinkan untuk ia ajak bepergian, sudah pasti ia akan memintanya pada orang tua gadis itu untuk kembali ke Malang bersamanya.
Sepanjang perjalanan ia terus memperhatikan cincin putih yang melingkar di jari manisnya. Akhirnya keinginannya untuk memakai cincin pasangan itu terpenuhi. Tinggal meresmikannya di depan semua keluarga pikirnya.
__ADS_1