
Ega melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit terdekat dari rumah Zahra. Raut cemas tergambar jelas di wajah lelaki itu. Untungnya jalanan cukup sepi sehingga tak sampai sepuluh menit mobilnya sudah sampai di depan rumah sakit yang beberapa waktu lalu sempat ia datangi untuk menjemput tunangannya.
Para perawat IGD dengan sigap membantu Zahra untuk segera mendapatkan penanganan. Gadis itu di bawa masuk menuju ruang IGD. Ega dan Bu Ratih serta Adam yang ikut menemani harus menunggu di luar ruangan. Bu Ratih tak henti-hentinya menangisi anak gadisnya.
"Bunda, tenang ya, Zahra pasti gak kenapa-kenapa," ucap Ega menenangkan calon ibu mertuanya juga sebenarnya menenangkan dirinya sendiri. Ia berharap ta terjadi sesuatu yang buruk pada tunanganya.
"Apa yang sebenarnya kalian lakukan? Kenapa anakku bisa mengalami luka seperti itu?" ucap Bu Ratih tergugu.
"Maaf, Tante. Kejadiannya tak terduga oleh kami. Tadi ada anak-anak yang bermain menendang bola setelah acara selesai. Kebetulan saat itu panitia sedang penutupan. Dan entah bagaimana bola yang anak-anak tendang itu mengenai kepala Mbak Zahra," tutur Adam menjelaskan.
"Siapa yang menendang? Saya ingin bertemu dengan dia. Saya mau minta pertanggungjawabannya."
"Nanti dulu ya, Bunda. Sekarang kita berdoa saja untuk Zahra." ucap Ega membawa ibu mertuanya yang sedang emosi ke dalam pelukannya.
"Keluarga pasien?" ucap seorang perawat yang baru saja keluar dari ruang IGD.
"Saya ibunya, Sus. Bagaimana anak saya?" tanya Bu Ratih.
"Silahkan masuk, Bu. Dokter yang akan menjelaskan."
Bu Ratih dan perawat itu masuk ke dalam Ruang IGD.Dua lelaki itu memlih saling duduk berdampingan tanpa ada obrolan yang terdengar.
Bu Ratih melihat putri sulungnya terbaring lemah dengan selang infus kembali menancap di tangannya. Pemandan itu serupa dengan pemandangan beberapa bulan lalu atau hampir setahun lalu saat Zahra mengalami drop akibat awal pertemuannya dengan Ega dulu.
"Bagaimana keadaan putri saya, Dok?" tanya Bu Ratih saat duduk di hadapan dokter yang menangani anaknya.
"Sebaiknya kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui secara pasti luka yang menyebabkan pendarahan di telinga putri Ibu. Melihat darah yang mengalir di telinganya sepertinya putri Ibu mengalami benturan yang keras di kepalanya dan berpengaruh pada organ telinga bagian dalamnya," tutur dokter itu.
"Iya, Dok. Anak saya baru saja terkena tendangan bola yang sangat keras di kepalanya."
"Jika Ibu bersedia kami akan melakukan pemeriksaan lanjutan kepada putri Ibu. Mohon menandatangani beberapa berkas yang disiapkan di bagian administrasi untuk proses selanjutnya," ucap dokter.
__ADS_1
"Baik, Dok. Tolong lakukan yang terbaik untuk anak saya."
Bu Ratih keluar ruangan dengan perasaan berkecamuk. Ia memikirkan kondisi terburuk sang anak nantinya. Membuatnya berkecil hati.
"Gimana, Bunda?" tanya Ega berdiri menghampiri calon ibu mertuanya.
"Bisa Bunda minta tolong?" tanya Bu Ratih dengan suara yang lirih.
"Apa yang bisa aku bantu, Bunda? Ada apa dengan Zahra? Dia baik-baik saja kan, Bunda?"
"Dokter menyarankan pemeriksaan lanjutan. Tolong kamu urus administrasinya ya," pinda Bu Ratih.
Ega menuntun calon ibu mertuanya untuk duduk di kursi tunggu. Ia meminta tolong pada Adam untuk menemani Bu Ratih selama ia mengurus administrasi.
Setelah mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan pemeriksaan dan perawatan Zahra, lelaki itu segera kembali menemui Bu Ratih di dekat Ruang IGD. Ia ikut bergabung dengan Bu Ratih dan Adam.
*******
Diagnosa dari dokter itu mmbuat Bu Ratih dan Ega tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Mereka berdua hanya terdiam dengan memandang gadis itu yang masih terlhat tidur pulas di atas tempat tidur rumah sakit.
"Bagaimana kalau sampai dia khilangan pendengarannya," lirih Bu Ratih, Air matanyaturun deras membasahi pipinya.
"Saya akan datangkan dokter terbaik yang bisa menyembuhkan Zahra, Bunda," tekad Ega.
Lama mereka menunggu, hingga gadis yang mereka jaga terbangun dari tidurnya. Terliat raut wajah gadis itu mengernyit menahan sakit. Membuat dua orang yang sedari tadi menunnggunya tampak cemas.
"Sayang, mana yang sakit, Nak?" ucap Bu Ratih menggenggam tangan Zahra yang terbebas dari selang infus.
"Bunda, Kepala aku sakit banget, telinga aku sakit banget, Bun," keluh gadis itu.
Ega dengan sigam memencet tombol daruat untuk memanggil perawat atau dokter. Tak berapa lama Dokter yang menangai gadis itu datang bersama seorang perawat. Dokter itu segera memeriksa keadaan Zahra. Menanyakan beberapa hal yang berhubungan dengan pendengaran dan apa yang dirasakan gadis itu.
__ADS_1
Ia mengeluh sakit di kepalanya, dan juga telinganya.Ia tak dapat mendengar apapun dari telinganya bagian kanan. Gadis itu menangis ketakutan membayangkan salah satu telinganya tidak dapat mendengar.
"Tenanglah, Sayang, Bunda dan ayah akan melakukan apapun agar kamu bisa mendengar lagi," ucap Bu Ratih memenangkan anaknya.
"Kita lihat penanganan di sini bagaimana. Kalau kurang memuaskan Kita pindah saja ke rumah sakit di kota, Bun," usul Ega.
*******
Di tempat lain, tepatnya di salah satu rumah mewah di perumahan elit Bukit Tidar, Rio tengah duduk berdua dengan sang mama. Ia baru saja sampai setelah kepergiannya ke kota Solo untuk menjemput gadis yang ia cintai.
"Kenapa kamu kembali sendirian? Mana Zakia?" cerca Bu Rossa.
"Zakia sakit, Ma, di sana. Aku nggak bisa ajak dia kembali ke sini. Dan juga keluarganya tidak membolehkannya," ucap Rio.
"Apa mereka menolakmu, Nak?" tanya Bu Rossa lirih.
"Mama lihat ini." Rio menunjukkan cicin yang melingkar di jari manisnya.
"Untuk apa kamu menunjukkan cincin itu pada mama saat ini? Mama hanya ingin kamu kembali dengan Zakia. Apapun yang terjadi padanya, Mama menerimanya dengan ihklas. Kebahagian kamu segalanya untuk Mama."
"Mama dengar dulu. Ini cincin tunangan aku dengan Kia, Ma.?
"Apa kamu bilang? Jangan mengada-ada. Bagaimana bisa kamu bertunangan tanpa Mama? Jangan coba-coba membohongi Mama,"
"Aku nggk bohong, Ma. Dengerin Rio mau cerita. Mama janji dulu nggak akan memotong cerita Rio." Bu Rossa mengangguk menyanggupi.
"Sebelum Mbak Zahra sama Ega tunangan, Rio udah ngelamr Kia, Ma. Tapi saat itu dia masih belum menerima. Terus Aku minta dia buat menyimpan keuda cincin itu. Dan kemarin saaat aku ke sana, dia udah pakai cincin yang aku kasih. Itu artinya dia nerima lamaran aku. Nanti, kita ke sana ya, Ma, lamarin KIa buat aku ke orangtuanya."
Bu Rossa terharu mendengar cerita anak semata wayangnya. Ia memeluk anak lelakinya itu. Dalam tangisnya ia berdoa untuk kebahagiaan anak kesayangannya itu.
********
__ADS_1