
Happy reading gaes..
******
Zahra menyandarkan punggungnya pada sandaran kursinya. Pikirannya kembali penuh setelah mendapat telpon dari resepsionis yang memberitahunya Ega ingin bertemu pak Erwin. Itu artinya secara tidak langsung ia juga akan bertemu Ega.
Dering telpon kembali berbunyi. Zahra segera mengangkatnya.
"Halo," ucap Zahra.
"Mohon maaf Bu, Pak Ega ingin bertemu anda secara langsung, apa bisa?" tanya orang di seberang sana.
Zahra diam. Ia bimbang. Sepertinya ia tak mungkin lagi menghindari Ega.
"Baik. Antarkan ke ruangan saya," ucap Zahra dengan satu kali tarikan nafas, setelahnya ia menghembuskan nafas kasar. Ia harus bertemu denganya hari ini.
Zahra tetap duduk di tempatnya menunggu kedatangan Ega. Dari tempatnya duduk ia dapat melihat pintu lift terbuka. Alia keluar diikuti oleh seorang laki-laki yang pasti itu Ega.
"Permisi, Bu," ucap Alia formal.
Namun, Zahra tetap diam di tempatnya tanpa merespon. Pandangannya tertuju pada Ega yang berada di samping Alia. Beberapa kali Alia memanggil nama Zahra tapi tetap tidak ada jawaban. Hingga akhirnya Alia memegang tangan Zahra yang ada di atas meja. Dingin sekali tangan Zahra.
"Zahra, kamu gapapa? Muka kamu agak pucat, tangan kamu dingin banget," kata Alia khawatir.
Zahra yang disentuh tangannya terlonjak kaget dan menatap Alia.
"Aku ga papa, kamu bisa kembali," ucap Zahra setelah dapat mengontrol kekagetannya.
"Kalo ada apa-apa kamu segera telpon ke bawah ya," pesan Alia sebelum beranjak meninggalkan Zahra dan Ega.
Setelah Alia pergi, terjadi keheningan di antara dua orang yang tidak pernah bertemu sekian lama itu. Ega tetap berdiri di depan meja kerja Zahra.
"Apa kabar?" kata yang diucapkan Ega setelah cukup lama keheningan itu terjadi.
Zahra sedikit mendongak untuk menatap mata Ega. Tidak ada suara yang terucap, tetapi buliran kristal bening begitu deras meluncur dari kedua mata Zahra.
Ega perlahan berjalan ke samping Zahra, sedikit memutar kursi Zahra agar menghadapnya. Ia jongkok di hadapan Zahra. Memegang kedua tangan Zahra yang begitu dingin.
"Maafkan aku, Ra. Maaf," ucap Ega lirih. Ega meletakkan kepalanya di atas pangkuan Zahra dan terus menggumankan kata maaf. Air mata Zahra tak berhenti mengalir. Ia terisak pelan.
__ADS_1
"Kamu ke mana?" ucap Zahra lirih.
Ega mendongak menatap wajah Zahra yang berlinang air mata. Ega menegakkan badannya dan bertumpu pada lututnya untuk mensejajarkan tingginya dengan Zahra. Ia mengusap kedua pipi Zahra dan masih mengguman kan kata maaf.
"Maafkan aku, aku meninggalkanmu tanpa pamit," ucap Ega dengan memeluk erat Zahra.
"Ke mana?" ulang Zahra tanpa membalas pelukan Ega.
Ega merenggangkan pelukannya dan menatap wajah Zahra.
"Akan aku ceritakan, nanti sepulang kamu kerja, bisa kah?" pinta Ega.
Zahra mengangguk sebagai tanda persetujuan. Ega kembali memeluknya, namun Zahra masih tetap tidak membalasnya. Dengan berat hati Ega melepaskan pelukannya. Ia kembali berdiri di depan Zahra.
"Aku akan menjemputmu nanti. Aku harus kembali," pamit Ega yang hanya dibalas dengan anggukan kepala oleh Zahra. Meski enggan meninggalkan Zahra, tetapi ia harus kembali ke kantornya.
********
Jam lima sore Zahra keluar dari kantor bersama Syifa. Ia telah menceritakan pertemuannya dengan Ega tadi siang pada Syifa.
Saat mereka berdua keluar dari lobi terlihat Ega tengah berbincang dengan salah seorang satpam. Melihat kedatangan mereka berdua, Ega segera menghampirnya.
"Ke tempatnya Doni," jawab Ega. Syifa mengangguk merasa sedikit lega karena tempat yang akan mereka tuju setidaknya masih dalam lingkup pertemanan mereka. Setidaknya ada Doni yang bisa memperhatikan keadaan Zahra nantinya, pikir Syifa.
Mereka berpisah di parkiran. Ega segera membukakan pintu mobil untuk Zahra, seteleh itu ia pun ikut masuk dan mengendarai mobilnya menuju kafe milik Doni. Selama perjalanan tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir mereka.
Sepuluh menit perjalanan menuju kafe milik Doni terasa begitu panjang bagi mereka. Ega memarkirkan mobilnya dan segera turun untuk membukakan pintu Zahra. Zahra keluar tanpa berkata apapun dan melangkah masuk kedalam kafe diikuti Ega yang berada sedikit dibelakangnya.
"Selamat sore, silahkan menunya, Kak," sapa salah satu karyawan kafe dengan memberikan sebuah buku menu dan notes kecil.
"Reservasi atas nama Ega," ucap Ega besertaan dengan ia mengambil buku menu yang diberikan.
"Sebentar, saya cek dulu," jawab karyawan itu.
"Mari saya antarkan," kata karyawan itu setelah melihat daftar reservasi.
Mereka diantarkan menuju lantai dua, di sana ada beberapa ruangan yang memang disediakan untuk orang-orang yang membutuhkan privasi. Zahra dan Ega memasuki salah satu ruangan itu.
Mereka berdua duduk di sofa yang berhadapan. Zahra memilih single sofa dan Ega duduk di depannya. Mereka memilih makanan dan minuman dan segera dicatat oleh karyawan yang mengantarkannya tadi.
__ADS_1
"Ra, kamu mau mendengarkanku sekarang?" tanya Ega memulai pembicaraan.
"Iya," jawab Zahra datar.
"Kamu masih ingat kan, Ra, aku punya adik perempuan yang ikut dengan tanteku di Singapura?" tanya Ega. Zahra mengangguk sebagai jawaban.
"Waktu kita melaksanakan unas terahir mama dan papa mendapat kabar kalau dia mengalami kecelakaan," Ega menjeda sejenak ceritanya dan memperhatikan Zahra yang terkejut.
"Mama dan papa saat itu juga mengambil penerbangan tercepat untuk ke sana, akupun juga terbang ke sana. Kamu ingat? Waktu itu aku meminta tolong Adit untuk mengantarmu pulang," Zahra mengangguk mengingat kejadian itu.
"Aku buru-buru menyusul mama papa ke bandara. Aku masih ingat, saat itu aku masih pakai seragam sekolah. Kami tiba di rumah sakit yang merawat Raissa. Tapi saat kami sampai di sana, Raissa udah ngga ada, Ra. Kami benar-benar terpukul saat itu. Bahkan mama pingsan berkali-kali." Ega diam sesaat mengontrol emosinya. Karena mengingat kejadian itu sungguh penyesalan yang ia rasakan tak pernah usai. Ia merasa gagal menjadi kakak karena belum pernah bisa menjaga adiknya.
Zahra pun tanpa terasa menangis tanpa suara. Ia tau betapa Ega sangat menyayangi adiknya. Hanya karena sang adik telah diangkat anak oleh tantenya sehingga dari kecil mereka terpisahkan.
"Raissa dimakamkan di Singapura, dan mama enggak mau balik ke Indonesia. Mama mengalami depresi berat semenjak kematian Raissa. Setiap hari mama datang ke makam Raissa, itu membuat kami khawatir. Akhirnya papa memutuskan untuk kita menetap di Singapura. Hari-hariku kuhabiskan untuk menemani mama di makam Raissa. Itu terjadi hampir setahun. Saat itu aku memutuskan untuk menunda kuliah demi menjaga mama," Zahra menangis membayangkan keadaan Tante Nisa, mama Ega.
"Depresi mama semakin menjadi-jadi dan akhirnya kami membawa mama ke rumah sakit jiwa. Aku sangat terpukul waktu itu. Melihat mama dibawa dan dirawat di sana. Atas paksaan papa aku melanjutkan kuliahku di Singapura. Setiap pulang kuliah aku selalu berkunjung ke tempat mama dirawat. Keadaan mama ngga ada perubahan selama bertahun-tahun. Mama sering mencoba untuk bunuh diri karena ingin bertemu Raissa. Selama itu hanya mama yang aku pikirkan. Aku melupakan semua yang ada di Indonesia. Maafkan aku, Ra," ucap Ega dengan mata sendunya.
"Lalu gimana keadaan Tante Nisa sekarang?" tanya Zahra di sela isak tangisnya.
"Mama, dia sudah bahagia, mungkin sekarang udah ketemu sama Raissa di surga."
Zahra menutup mulutnya untuk meredakan isak tangisnya.
"Mama meninggal tiga bulan lalu. Pesan terahir mama, aku harus bahagia, maka dari itu aku kembali ke sini. Karena aku yakin kebahagiaanku ada di sini," ucap Ega.
"Mama kamu juga di makamin di Singapura?" tanya Zahra yang masih menangis.
"Ya. mama di sana, dekat dengan Raissa," ucap Ega tanpa menyembunyikan perasaannya.
*****
Terimakasih sudah membaca.
Tinggalkan jejak kalian yaa..
Salam sayang
kiki rizki 😘
__ADS_1