Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
98. Sedikit Kenangan Manis


__ADS_3

Ega membawa Zahra masuk ke dalam kamarnya. Membuat gadis itu bertanya-tanya. Karena baru pertama kalinya lelaki yang telah berstatus tunangannya itu mengajaknya masuk ke dalam kamarnya.


Meski ia beberapa kali pernah menginap di rumah besar ini. Sekalipun ia belum pernah menginjakkan kaki ke dalam kamar tunangannya. Rasa trauma berada di dalam kamar bersama seorang lelaki masih melekat dalam ingatannya. Itu pula yang membuat Ega tak berani mengajak tunangannya hanya berdua dalam satu kamar.


"Ega, kenapa mengajakku ke sini?" tanya gadis itu.


"Aku ingin kamu menemaniku malam ini," jawab lelaki itu memegang bahu Zahra.


Gadis itu menggeleng tanda tak mampu mendengar apa yang ia lelaki di hadapannya ucapkan.


Ega mengambil ponselnya dan mengetikkan apa yang ia ucapkan sebelumnya.


"Haruskah di dalam kamar?" tanya Zahra ragu.


Karena di luar pasti mereka akan mengganggu.


Tulis lelaki itu pada layar ponselnya.


"Pasti mereka akan membicarakan kita yang tidak-tidak kalau kita berdua di dalam kamar."


Hanya hari ini. Aku ingin kamu berada di sini bersamaku. Aku takut saat aku bangun kamu juga pergi meninggalkan aku.


Tatapan lelaki itu sungguh membuat siapapun yang melihatnya akan merasakan kepedihan. Zahra tak kuasa untuk menolak permintaan tunangannya.


"Aku nggak akan ke mana-mana. Aku akan di sini menunggumu. Bersamamu," ucap gadis itu tersenyum memberikan semangat untuk tunangannya.


Terimakasih, Sayang.


"Bersihkanlah dirimu. Aku akan menunggu di sini."


Lelaki itu mengangguk. Sebelum ia pergi ke kamar mandi, ia menyempatkan dirinya untuk mendekap erat gadis yang ada di hadapannya.


"Jangan pergi," bisik lelaki itu meski tahu Zahra tak bisa mendengar.


"Mandilah," perintah Zahra begitu Ega melepas pelukannya.


Dengan berat hati Ega beranjak meninggalkan Zahra. Masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

__ADS_1


Zahra mengamati suasana kamar yang bernuansa putih dan abu-abu itu. Dinding-dindingnya tertempel banyak foto kebersamaannya dengan sang pemilik kamar. Mulai dari mereka kecil hingga mereka SMK.


Satu persatu ingatan tentang momen diambilnya foto itu bermunculan di kepalanya. Sejenak ia bernostalgia pada masa beberapa tahun silam. Di mana ia mulai memahami bahwa perasaannya pada Ega lebih dari sekedar teman.


Zahra masih fokus dengan foto-foto itu. Dilihatnya pula di atas nakas ada foto dirinya dan Ega tengah duduk di atas pohon yang banyak cabangnya. Gadis itu ingat betul. Foto itu diambil beberapa hari sebelum ujian nasional dilaksanakan. Ia ikut Ega untuk pergi ke sebuah sumber air yang berada di sebuah desa yang cukup jauh dari kota. Ega memaksanya untuk menaiki sebuah pohon yang memiliki banyak cabang. Dan dari bawah salah satu teman mereka mengambil foto itu.


Itu adalah saat terakhir ia pergi bermain bersama Ega. Sebelum lelaki itu menghilang tanpa kabar setelah ujian nasional.


"Sayang," panggil Ega dengan menepuk pelan pundak Zahra.


"Astaghfirullah." Ia terkejut akan kedatangan Ega yang sudah waberganti pakaian dan terlihat lebih segar.


"Kamu mengagetkanku. Istirahatlah. Aku akan menemanimu," ucapnya.


Ega menuntun Zahra menuju tempat tidurnya yang berukuran besar. Mendudukkan tunangannya di tepi tempat tidur.


"Tidurlah bersamaku," pinta lelaki itu. Zahra memperhatikan gerakan bibir Ega mencoba menebak apa yang lelaki itu ucapkan.


Pemandangan itu membuat Ega salah mengartikan pandangan gadisnya. Ia balik menatap wajah Zahra yang terlihat menggemaskan dan menggodanya sebagi laki-laki.


"Ega, jangan seperti ini," pinta Zahra.


Dengan wajah memelasnya Ega kembali mendekatkan wajahnya nyaris bersentuhan kembali dengan bibir Zahra. Deru hangat nafas keduanya saling menerpa. Membangkitkan gelitikan menggelikan di bagian perut Zahra.


Sekali lagi, Ega menyatukan bibirnya dengan Zahra. Tanpa penolakan gadis itu menerima ciuman yang diberikan kepadanya.


Tak terasa gerakan ciuman mereka semakin dalam. Dengan salah satu tangannya Ega mendorong tengkuk Zahra untuk memperdalam ciuman mereka.


Dengan ciuman itu, Ega menyalurkan rasa sedihnya. Berusaha mencari sebuah kepercayaan dari Zahra bahwa gadis itu tak akan meninggalkannya.


Ciuman itu berlanjut cukup lama. Sesekali mereka melepaskan pagutannya untuk mengambil napas. Tak berselang lama Ega kembali menyatukan bibir mereka.


...****************...


Prosesi pemakaman jenazah Papa Adnan telah selesai di lakukan. Satu persatu para pelayat meninggalkan area pemakaman. Di sana tersisa Ega yang masih setia berjongkok di samping nisan yang bertuliskan nama orang yang teramat ia sayangi.


Tak ada kata yang terucap dari bibir lelaki yang tengah berduka itu. Pandangan matanya memancarkan kesedihan yang tak dapat lagi ia gambarkan.

__ADS_1


"Ayo, Nak. Papamu sudah tenang di sana," ucap Ayah Irawan menepuk pundak calon menantunya.


"Sebentar, Ayah. Aku ingin menemani papa di sini," jawab lelaki itu lekat memandang batu nisan di hadapannya.


"Ayah sama Bunda duluan aja nggak papa. Aku mau menemani Ega di sini sebentar lagi," ucap Zahra berdiri menghampiri bundanya.


Kedua orangtuanya mengangguk mengiyakan. Mereka berpesan pada mereka berdua untuk segera kembali ke rumah.


Setelah mengiyakan perintah kedua orangtuanya, Zahra kembali ikut berjongkok di samping Ega. Mengusap pundak lelaki itu untuk memberikan semangat dan dukungan.


"Kenapa mereka semua pergi meninggalkan aku, Ra? Apa kamu juga akan meninggalkan aku setelah ini?" tanya Ega lirih.


Tak mendengar apa yang diucapkan lelaki di sampingnya. Membuat gadis itu tak berani mengeluarkan sepatah kata pun.


"Apapun yang terjadi, jangan pernah tinggalkan aku, Ra. Aku mohon," ucap lelaki itu menolehkan wajahnya pada kekasihnya.


"Hanya kamu yang aku punya saat ini. Jangan juga kamu pergi, Ra."


Zahra hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Meski tak begitu paham dengan apa yang diucapkan oleh Ega. Ia masih belum bisa membaca gerak bibir lelaki itu untuk mengetahui apa yang tengah diucapkannya.


"Ayo. Kita sudah sangat lama di sini. Papa Adnan sudah tenang di sana. Beliau pasti sudah bertemu dengan mama kamu dan juga adik kamu," ajak Zahra.


Perlahan Zahra berdiri, mengulurkan tangannya pada lelaki yang masih belum beranjak dari tempatnya.


Ega menerima uluran tangan gadisnya. Menggenggam erat jemari lentik Zahra. Mereka berdua berjalan beriringan keluar dari area pemakaman.


Di ujung jalan, ada satu orang yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua. Dari raut wajahnya ia sangat tidak menyukai kedekatan mereka berdua.


Dalam kepalanya telah tersusun berbagai rencana untuk memisahkan keduanya.


"Bagaimanapun caranya mereka harus berpisah,"guman orang itu menatap sinis pada Zahra dan Ega yang perlahan menjauh dari area pemakaman.


"Kalau aku tidak bisa mendapatkan Ega, diapun tak akan bisa memilikinya. Apalagi dengan keadaannya yang cacat seperti itu," gumannya lagi.


"Mari kita lihat seberapa lama lagi kamu akan berada di sisi Ega."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2