
Sabtu siang, Ega menjemput Zahra ke rumahnya yang di Tumpang. Rencananya siang ini mereka akan melakukan penerbangan ke Jakarta. Tempat acara pernikahan teman mereka Rio dan Tria. Bukan Rio sepupunya Zahra ya. Kebetulan nama mereka sama. Hehehe.
Sampai di rumah Zahra lelaki itu memarkirkan mobilnya di garasi. Rencananya mereka berangkat ke bandara dengan taksi online.
Zahra tengah duduk bercengkrama di ruang tamu dengan sang bunda, menunggu kedatangan lelaki itu. Terlihat di sana sudah ada koper kecil yang siap dibawa.
"Assalamualaikum," ucap lelaki itu begitu masuk rumah.
"Waalaikumsalam," jawab keduanya serempak.
Ega masuk dengan menenteng ransel di pundaknya. Berjalan menghampiri dua wanita yang duduk di sofa ruang tamu itu dan menyalami sang bunda.
"Udah siap?" tanyanya pada gadis yang duduk di samping bunda.
"Udah," jawabnya.
"Bunda nitip Zahra ya, Le. Dijaga baik-baik," pesan bunda.
"Iya, Bunda," jawab lelaki itu.
"Penerbangan jam berapa?" tanya Bunda Ratih lagi.
"Jam tiga, Bun. Tapi ya harus segera berangkat. Weekend pasti macet nanti."
"Bawa mobil?"
"Ndak, Bun. Mobilnya tinggal sini aja. Ini udah pesen taksi online."
Tak berapa lama sebuah mobil Daihatsu Sigra berhenti tepat di depan rumah Zahra. Notifikasi dari ponsel Ega memberitahukan bahwa mobil pesanan mereka telah sampai.
Mereka berdua diikuti bunda keluar menuju mobil itu. Setelah berpamitan pada Bunda Ratih, keduanya memasuki mobil.
Mobil itu membawa mereka menyusuri jalanan desa tempat tinggal Zahra. Tak begitu banyak kendaraan yang lewat. Karena masih terbilang jalanan kampung.
Sampai di pasar Tumpang, jalanan mulai terlihat ramai. Sepanjang perjalanan mereka membicarakan banyak hal. Sesekali driver yang berada di depan ikut dalam obrolan. Kebetulan sekali mereka mendapatkan driver yang ramah.
Hampir satu jam berlalu akhirnya mereka sampai di bandara Abd. Rahman Saleh. Keduanya turun dari mobil. Driver itu membantu membukakan bagasi dan mengeluarkan koper Zahra.
Ega memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan padanya. Sebagai biaya jasa mengantarkan mereka sampai tujuan dengan selamat.
Keduanya segera melakukan check-in di lantai satu bandara. Setelah selesai mereka memasuki ruang boarding di lantai dua bandara.
Tak menunggu lama, sekitar tiga puluh menit kemudian pengumuman bahwa pesawat mereka telah datang dan siap kembali terbang. Keduanya dan penumpang lainnya berbondong-bondong untuk masuk ke dalam pesawat.
Perjalanan satu setengah jam dari Malang ke Jakarta ditempuh Zahra dengan tidur di pundak Ega. Beberapa kali gadis itu mengeluh mual. Membuat lelaki di sebelahnya diserang panik yang berlebihan.
Untungnya Zahra dapat tidur selama perjalanan. Sehingga membuat kekhawatiran Ega sedikit berkurang.
"Sayang, bangun dulu ya, udah mau landing bentar lagi," ucap Ega membangunkan Zahra yang tidur bersandar di pundaknya.
Zahra yang terganggu tidurnya sedikit bergerak mencari posisi yang nyaman.
"Sayang. Kamu mau aku tinggal di pesawat?" bisik Ega di telinga Zahra.
Akhirnya karena usapan-usapan lembut di wajahnya, Zahra membuka matanya. Melihat Ega yang begitu dekat dengan wajahnya membuatnya reflek mendorong lelaki itu.
"Maaf, gak sengaja," ucap Zahra begitu ia sadar seratus persen dari tidurnya.
__ADS_1
"Gak papa, Sayang. Pake sabuk pengamannya. Bentar lagi kita turun," ucap Ega.
Ia kembali mencondongkan tubuhnya ke arah Zahra. Membuat gadis itu menahan nafas. Lelaki itu memasangkan sabuk pengaman gadisnya.
"Aku bisa sendiri, Ga," ucap Zahra begitu Ega menarik tubuhnya.
"Kamu masih ngantuk. Nanti nggak pas kalau masang sendiri," jawab lelaki itu.
Tepat jam setengah lima sore, pesawat mereka landing dengan sempurna di bandara Soekarno - Hatta Jakarta.
Setelah keluar dari area bandara, Ega membawa Zahra ke hotel yang dekat dengan acara besok.
Sebelumnya ia telah memesan hotel terlebih dahulu. Begitu sampai di hotel, Ega langsung mengambil dua kunci kamar pesanannya.
Jangan berfikiran ia akan satu kamar dengan Zahra ya. Ia tak mau nanti pulang ke Malang di gantung oleh papanya di pohon cabai karena sekamar dengan calon mantunya.
Zahra segera mengistirahatkan tubuhnya begitu melihat kasur empuk di depannya. Memejamkan mata menikmati empuknya kasur itu.
"Bersih-bersih badan dulu, Ra. Terus istirahat. Nanti malam kita cari makan di luar," ucap Ega.
"Loh. Kamu kok di sini? Kan tadi pesen dua kamar?" tanya Zahra. Ia langsung duduk mengetahui Ega masih berada di dalam kamar hotelnya.
"Nanti aja tidurnya pisah. Sekarang mau berdua sama kamu."
"Pintunya buka aja," pinta gadis itu mulai kembali merasa tak nyaman.
"Kamu masih takut?" tanya Ega memastikan.
"Aku gak bakal apa-apain kamu, Sayang. Aku udah janji sama diriku sendiri, sama bunda, ayah, papa juga, aku bakal jaga kamu," ucap Ega meyakinkan.
Namun, lelaki itu tak berani mendekat pada gadisnya. Ia tetap duduk di sofa yang ada di kamar itu.
Justru ia mendapat hantaman bantal dan guling dari kekasihnya itu.
"Kenapa dilempar-lempar sih? Aku ngomong bener kan, Ra." Ega membela dirinya.
"Ngomong tuh disaring dulu dong!"
"Loh. Aku bener dong, Sayang. Coba kamu pikir. Masak iya kita udah sah, mau bikin adonan bayi pintunya dibuka?"
"Ega!!!" jerit Zahra karena malu dengan perkataan Ega.
****
Malamnya mereka berdua menikmati suasana malam di Monas. Sebelum besok pagi menghadiri acara nikahan Tria dan Rio. Memanfaatkan waktu yang ada untuk berlibur sejenak.
Dari jauh monumen itu terlihat indah dengan hujan lampu warna-warni yang saling beriringan.
Ega mengajak Zahra untuk menaiki puncak Monas. Butuh waktu untuk membujuk gadis itu. Segala rayuan maut dikeluarkan Ega demi bisa berdua menaiki puncak Monas.
"Lah emang dulu kamu ke Jakarta gak ke sini?" tanya Zahra yang masih kukuh tidak mau.
"Dulu kan aku kerja, Sayang. Ayo dong. Kapan lagi kita ke sini berdua aja gini. Ya, ya, ya, ya Sayang."
"Takut." Adalah alasan Zahra menolak ajakan kekasihnya.
"Astaga! Sama aku, Sayang. Di sana juga aman. Aku jamin kita balik ke bawah dengan selamat. Enggak bakal kayak Esteh temen hantunya si Keyla yang nyangkut di lemari."
__ADS_1
"Siapa Esteh, siapa Keyla?" cerca Zahra spontan.
"Saudara jauh aku. Kapan-kapan aku kenalin. Dia bisa lihat hantu katanya. Terus katanya dia juga punya temen hantu namanya Esteh."
"Ih. Aku kok jadi takut ya."
"Lah ngapain takut. Kan yang bisa lihat hantu si Keyla. Kok jadi kamu yang takut?"
"Udah ayok. Keburu malem. Tutup entar gak bisa naik."
Akhirnya dengan paksaan Ega berhasil membawa Zahra menaiki puncak Monas. Melihat pemandangan kota Jakarta yang bertaburan cahaya lampu mirip seperti bintang di langit.
"Cantik," ucap Zahra takjub melihat pemandangan di depannya.
"Kayak kamu," balas Ega yang tengah memeluk dirinya dari belakang. Menikmati indahnya gemerlap kota Jakarta.
"Gak nyesel kan naik? Sebanding sama pemandangan yang didapat," bisik Ega. Ia menumpukan kepalanya di bahu Zahra.
"Iya."
"Kamu tahu gak, kalau di Malang juga ada yang kayak gini?" tanya Ega.
"Tahu. Di kota Batu kan?"
"Udah pernah ke sana?"
"Belum."
"Next time kita ke sana. Mungkin kita bisa ajak Keyla, Bentar lagi dia liburan sekolah. Biar liburan di sini aja."
"Aku kira dia udah gede."
"Kamu cemburu?"
Mereka berdua saling berpandangan tetap dengan posisi Zahra dalam pelukan Ega.
"Enggak. Kan aku cuma bilang gitu aja. Kenapa kamu nuduh aku cemburu?" elaknya. Padahal dalam hatinya ia sedang meredam rasa yang entah terasa tidak enak dan mengganggu mood-nya.
"Dia masih SMP, Sayang. Tenang aja. Cuma kamu yang udah mengisi hati aku. Nggak ada yang lain."
"Lama-lama aku kok ngerasa kamu pinter merayu ya? Pinter bikin kata-kata manis gitu. Diajari siapa coba?"
"Dion. Hehehe."
"Serius? Kamu belajar gitu?"
"Itu rahasia para lelaki. Kaum perempuan seperti kamu dan Rosa gak perlu tahu. Ayo turun. Kita harus istirahat. Aku gak mau besok kamu kecapekan."
Ega menggandeng tangan Zahra. Kembali masuk lift yang akan membawa mereka kembali ke bawah sana.
*****
Yang belom tau Keyla. tengok dia di sini.
dia temennya hantu. Banyak yang bilang Keyla emaknya hantu ðŸ¤ðŸ¤
cus kepoin
__ADS_1
Lina Agustin : Apa Aku Berbeda?