Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
74. Masalah


__ADS_3

Selamat membaca readersku ♥️♥️😘 Yang mau numpang promo saya persilahkan untuk promo di gc saya. Promo di kolom komentar yang sewjarnya saja ya.. dan jangan lupa pencet like dong, jangan cuma numpang promo🤭🤭


mohon maaf dan terimakasih 🙏🏻🙏🏻🤗🤗🤗


*********


Ega tengah duduk di antara para petinggi perusahaan. Suasana di dalam ruang rapat itu terlihat cukup tegang.


"Saya menyayangkan promosi jabatan untuk Pak Ega dibatalkan," ucap salah satu peserta memecah keheningan.


"Apa alasan Ibu Desi untuk pernyataan Ibu?" tanya pemimpin rapat saat itu.


"Terlepas dari alasan pembatalan promosi, beliau adalah orang yang kompeten. Selama beliau menjabat sebagai penanggung jawab kepala bidang beberapa tahun terakhir perusahaan kita berkembang cukup pesat. Apa hal itu tidak dijadikan pertimbangan?" ucap Bu Desi memaparkan.


"Apa ada yang setuju dengan pendapat dari Ibu Desi?" tanya pemimin rapat.


Moderator itu memberikan waktu beberapa menit pada para peserta rapat untuk menyampaikan sanggahan jika ada yang menolak keputusan dewan direksi. Hingga beberapa menit itu berlalu, barulah di penghujung waktu ada yang mengacungkan tangannya.


"Saya setuju dengan Ibu Desi, Pak," ucap salah satu orang di sana.


"Baiklah silahkan jika ada yang lain yang setuju mohon angkat tangan," pinta moderator.


Satu persatu para peserta rapat mengangkat tangan tanda setuju. Hampir setengah dari perserta rapat mengangkat tangannya. Moderator meghitung peserta yang mengangkat tangan. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang bekerja di bawah tanggung jawab lelaki itu.


"Baik. Jumlah peserta rapat yang mengangkat tangan lima belas orang. Dan peserta rapat pada kali ini sejumlah tiga puluh delapan orang. Sesuai dengan peraturan musyawarah, suara terbanyak lah yang harus kita sepakati bersama. Maka dari itu, pembatalan promosi jabatan Bapak Ega tetap dilakukan. Terima kasih."


Setelah menyampaikan keputusan akhir, moderator, para petinggi dan orang-orang penting lainnya keluar ruangan dengan wajah - wajah puas mereka.


"Bapak, maafkan kami tidak bisa membantu Bapak untuk tetap maju dan bersaing dengan Pak Hendrik," ucap salah satu bawahan Ega.


"Tidak masalah. Toh saya tidak membutuhkan promosi jabatan itu," jawab Ega berusaha menenangkan hati para rekan kerjanya.


"Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit Ega pada yang lainnya. Ia berjalan keluar ruangan rapat dan segera memasuki ruangannya.


"Pak Ega! Tunggu sebentar," dari arah belakangnya terlihat Desi berjalan cepat menghampiri Ega.


"Ya, Bu? Ada apa?" tanya Ega formal.

__ADS_1


"Maaf, Pak, apa bisa kita bicara sebentar?" tanya wanita itu.


"Baiklah, mari ke ruangan saya saja," ajak Ega.


Lelaki itu masuk ke dalam ruangannya diikuti Desi di belakangnya. Keduanya duduk di kursi tamu yang tersedia di ruangan Ega. Desi duduk dihadapan Ega, perempuan yang mengenakan kemeja slim fit yang memperlihatkan lekuk tubuh indahindahnya dan bawahan rok sepan sedikit diatas lutut itu duduk dengan anggun.


"Apa yang ingin anda bicarakan, Bu?" tanya Ega to the point.


"Saya mau minta maaf, Pak. Saya sangat menyesal tidak bisa membantu Bapak untuk mendapatkan promosi itu kembali," ucap Desi Sedih.


"Tidak masalah, Bu. Saya tidak begitu mementingkan hal itu. Saya tidak berambisi untuk mendapatkan jabatan pimpinan cabang itu."


"Ehm, bukankah kamu pernah berjanji padaku kalau kita hanya berdua tidak menggunakan bahasa yang formal?" ucap Desi mengingatkan Ega tentang  janjinya.


"Ya, Aku ingat. Apa itu berlaku di tempat kerja? Kurasa di tempat kerja kita tetaplah rekan kerja," jawab Ega masih menggunakan bahasa yang formal.


"Ayolah, usia kia sama, bukan? Anggaplah aku sebagai temanmu," ucap Desi mulai menggunakan nada bicara yang sedikit mengganggu telinga Ega.


"Maafkan saya, Bu. Jika tidak ada yang dibicarakan lagi, silahkan anda keluar dari ruangan saya, Bu. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan," ucap Ega setengah mengusir Desi dari ruangannya.


"Apa kamu tidak tertarik denganku?" ucap Desi terang-terangan.


"Apa selama ini kamu tidak pernah memandangku sebagai seorang wanita?"


"Maaf, Bu Desi. Silahkan keluar dari ruangan saya," kata Ega kembali mngusir Desi yang mulai berbicara tidak jelas menurutnya.


"Apa kamu tidak risih dengan gosip yang beredar di kantor? Mereka bilang kamu tidak normal! Tidak menyuai perempuan! Apa memang benar kamu seperti itu? Apa selama ini kamu tidak pernah merasakan perhatian yang aku kasih sama kamu?"


"Desi! Silahhkan keluar! Jangan pernah urusi urusan pribadi aku! Terserah mereka menggosipkan aku seperti apa!" ucap Ega sedikit meninggikan suaranya.


Ega berjalan menuju pintu ruangannya, membukanya dan mempersilahkan Desi keluar dengan gerakan tangannya.


Perempuan itu keluar dengan perasaan dongkol yang bercokol di hatinya. Menyumpah serapahi Ega dalam hatinya, Setelah perempuan itu keluar, lelaki itu kembali menutup pintu ruangannya.


Ega menghempaskan tubuhnya di kursi yang biasa ia tempati. Mengistirahatkan pikirannya yang sedikit kacau. Kedatangan perempuan tadi membuatnya semakin pusing.


Ia megambil ponselnya yang sempat ia bisukan saat rapat tadi. Ia membuka beberapa chat yang masuk. Salah satu chat itu berasal dari Efelin yang mengirimkan gambar kakaknya yang sedang mengobrol dengan Dokter  Arga.

__ADS_1


Rasanya kepala Ega seketika makin mendidih melihat foto itu. Terlihat Dokter si*lan itu tengah duduk di dekat kaki Zahra yang tengah bersandar di kepala ranjang rumah sakit.


Segera lelaki itu menghubungi Zahra dengan video call. Setelah beberapa saat gadis itu mengangkat panggilannya. Terlihat wajah gadis itu sudah tidak sepucat kemarin.


"Sayang, lagi sama siapa?" tanya Ega dengan suara yang selalu lembut dan penuh kasih sayang pada Zahra.


"Sama Efel, Ayah sama bunda masih keluar sebentar," jawab gadis itu.


"Hanya berdua?" tanya Ega memastikan.


"Em, ada Arga juga sih," jawab Zahra sedikit ragu.


"Betah banget dia di sana? Apa dia gak punya kesibukan lain. Dan kenapa kamu gak usir dia?"


"Em, Ga. Kamu ngomongnya kok gitu sih. Ini ... dia juga bisa denger kata - kata kamu," ucap Zahra merasa tidak enak pada lelaki yang ada di sampingnya.


"Oh, baguslah kalau dia dengar. Sekalian aku mau bilang. Pulang sana! Jangan godain tunangan orang!" ucap Ega dengan mengomel.


Arga di sana hanya tersenyum meremehkan. Ia merasa di atas angin karena Zahra dengan mudahnya menerima kehadirannya.


"Gak bakal bisa kamu dapatin hati Zahra, karena dia hanya cinta sama aku," lanjut Ega dengan suara menggebu.


"Ega! Malu ih, Kamu kok kayak anak kecil gitu sih," peringat Zahra.


"Sayang, kamu belain dia! Tunggu aku ke sana!" Ega langsung mematikan sambungan teleponnya.


Ia mengambil tas kerjanya dan segera keluar dari ruangannya.


"Bapak, mau ke mana?" tanya sekretarisnya.


"Ada urusan di luar. Tunangan saya dirawat di RS. Kamu urus saja semua jadwal saya!" jawabnya.


"Tapi, Pak. Anda ada meeting lanjutan dengan  Pak Direktur dan Pak Hendrik," jawab serkretaris Ega sedikit takut.


"Tolong buatkan saya surat pengunduran diri. Taruh di meja saya besok pagi.Nanti saya akan menghubungi Pak Direktur sendiri," ucap Ega.


"B-bapak mau resign?" tanya sekretarisnya terkejut.

__ADS_1


"Iya. Pergi dulu."


__ADS_2