
Rencana silaturahmi keluarga Ega akhirnya terlaksana juga. Rencana itu seharusnya terlaksana beberapa minggu lalu.
Karena adanya undangan pernikahan yang harus dihadiri oleh Zahra dan Ega ( Cerita detailnya baca bab Jakarta dan kondangan) rencana akhirnya diundur. Lalu, minggu selanjutnya, dua sejoli itu disibukkan oleh musibah yang menimpa Zakia. (Cerita detailnya baca bab ternyata - story of Zakia 2)
Tepat hari Minggu ini, akhirnya Ega dan papanya datang bersilaturahmi ke rumah orang tua Zahra.
Mengutarakan maksud kedatangan mereka untuk meminang anak gadis mereka yang telah memikat hati anak lelakinya.
Semua anggota keluarga Zahra ikut berkumpul menyaksikan acara tersebut. Bahkan Rio, Zakia, dan Bu Rossa juga datang untuk menyaksikan salah satu hari bahagia Zahra.
"Jadi, selain menjalin silaturahmi kita yang telah lama terputus, ada niatan lain yang menyangkut anak-anak kita," ucap Papa Adnan.
"Saya, sebagai wali dari Ega, ingin meminang anak sulung kalian untuk anakku ini," lanjut beliau.
Ega duduk di samping papanya dengan menahan debaran jantungnya yang menggila. Entah kenapa, tiba-tiba nyalinya menciut saat sang papa menyampaikan keinginannya.
Meski ia tahu orang tua Zahra pasti merestui, rasa tegang iku tetap tak bisa ia hindari.
Tak berbeda jauh dengan Zahra, ia pun merasakan hal yang sama. Bahkan telapak tangannya dingin dan berkeringat.
"Saya mah terserah anak-anak, Pak Andan. Semua keputusan saya serahkan sama Zahra. Bagaimana, Nduk? Kamu mau menikah sama Ega?" jawab Ayah Irawan.
"Terserah, Ayah," jawab Zahra.
"Lho. Masak terserah Ayah? Ini yang mau menikah kamu sama Ega. Kalau terserah Ayah mah, maunya kamu jadi kecil lagi. Ayah masih belum rela kamu dipinang sama orang," goda ayahnya.
"Ayah, ih," ucap sang bunda menjawil suaminya.
"Loh. Betul kan, Pak Andan apa yang saya bilang? Kalau terserah sama saya, ya saya kepinginnya anak saya tetep sama saya," gurau Ayah Irawan.
"Anak saya jadi bujang lapuk dong, Pak. Kasihan perjakanya ini udah minta sangkar loh," jawab Papa Adnan.
"Hahaha. La iya. Lah wong Zahranya bilangnya terserah saya. Bagaimana menurutmu, Nak Ega?"
"Ya saya maunya diterima jadi suaminya Zahra, Om," jawab Ega.
"Sekali lagi saya tanya sama kamu ya, Nduk. Kamu bersedia menerima lamaran Ega?" Kali ini dengan serius Ayah Irawan memberikan pertanyaan.
"Iya, Yah. Aku bersedia," jawab gadis itu malu-malu.
Sang bunda yang di sampingnya menahan tangis harunya. Sebentar lagi sang putri akan menjadi seorang istri.
"Alhamdulillah," lirih Ega begitu sang pujaan hati menjawab.
__ADS_1
"Nak Ega. Sebentar lagi, saya akan menyerahkan Zahra padamu. Jujur saya masih belum rela melepas anak saya ini," ucap Ayah Irawan.
"Zahra itu anaknya manja, ndak pandai masak, ndak pandai beres-beres rumah. Kamu bisa mengayominya?"
"Insyaallah, Om. Saya akan berusaha membahagiakan dan menjaga Zahra semampu saya," jawab Ega mantap.
"Alhamdulillah. Sebentar lagi kita resmi berbesanan ya, Pak," ucap Papa Adnan.
"Iya, Pak Adnan. Gurauan kita tempo dulu malah jadi kenyataan," balas Ayah Irawan.
"Untuk selanjutnya, masalah hari dan tanggal baiknya, saya ngikut aja sama keluarga laki-laki," lanjut Ayah Irawan.
"Hem. Begitu ya. Mungkin untuk itu, bisa kita sambung lagi lain waktu. Kalian gak keburu-buru ngebet kawin kan?" kata Papa Adnan.
"Sepertinya kalau dilihat dari wajah anak bapak sih, dia sudah kebelet kawin, Pak," goda Ayah Irawan.
"Waduh, susah ini. Tak sunat lagi nanti dia kalau berani kawin duluan sebelum nikah. Ra, kamu lapor Papa ya kalau Ega macam-macam sama kamu," kata Papa Adnan lagi.
Ega yang digoda justru salah tingkah tanpa mau menjawabnya. Memang sepertinya dia sudah kebelet kawin. Kalau maunya dia ya besok langsung nikah saja.
"Sebagai tanda kalau kami melamar Zahra untuk Ega, alangkah baiknya dikasih simbol ya, Pak. Jadi, mohon diterima dan wajib dipakai," ujar Papa Adnan.
Beliau memberi kode pada Ega. Lelaki itu mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dari dalam saku bajunya.
Sebuah kotak perhiasan soft pink, di dalamnya terdapat dua buah cincin emas putih bermatakan berlian asli.
Ega mendekat pada Zahra yang duduk di samping bundanya. Ia bersimpuh di hadapan gadis itu. Meminta tangan kanan gadis itu dan memakaikan cincinnya di jari manis gadis itu.
Efelin sigap mengabadikan momen itu dengan kameranya. Gadis yang sedari tadi diam tanpa suara itu dengan inisiatifnya mengabadikan setiap momen yang tengah terjadi di salah satu hari bahagia kakaknya.
Setelah selesai memasangkan cincin untuk Zahra, kini gantian gadis itu memasangkan cincin satunya di jari manis Ega.
"Cantik," puji Ega terdengar oleh semua orang di sana.
"Kak, foto dulu," ucap Efelin.
Kini dua orang itu menghadap Efelin dan berpose. Menunjukkan jari-jari mereka yang kini telah tersemat indah sebuah cincin berlian berpasangan.
"Ayo, foto bareng-bareng sama semuanya. Aku yang fotoin," perintah Efelin.
"Oh. Gantian dulu. Itu Kak Rio sama Kak Kia dulu coba. Biar kalian cepet nyusulin," kata gadis kecil itu lagi.
__ADS_1
"Anak kecil tahu apa kamu, Fel," jawab Rio.
Tak urung ia mengajak Zakia untuk berfoto bersama kakak sepupunya. Rio mengambil tepat di samping Ega, sedangkan Zaki di samping Zahra.
"Selamat ya, Mbak," ucap Zakia memeluk Zahra.
"Makasih. Setelah ini Rio juga pasti ngelamar kamu," jawab Zahra.
Mereka mengambil banyak foto dengan berbagai pose. Bergantian dengan para orang tua yang juga ikut berfoto di hari pertunangan Zahra dan Ega.
Acara tersebut berakhir dengan jamuan makan malam. Aneka hidangan makanan tersaji di atas meja makan.
Semua keluarga menikmati acara tersebut dengan senda tawa. Merayakan hari bahagia keluarga Zahra.
Usai makan malam, Ega dan papanya berpamitan untuk pulang ke kota. Ayah Zahra menawarkan untuk mereka menginap dan kembali ke kota besok saja. Namun, dengan halus dua orang itu menolak tawaran itu.
Rio, Zakia, dan Bu Rossa memilih menginap di sana. Rencananya, Bu Rossa ingin mengajak Zakia menginap di rumah Bibi Dewi selama beberapa hari ke depan.
Beliau ingin Zakia menikmati indahnya alam, sekaligus memberikan sedikit ruang untuk calon mantunya itu menyegarkan pikirannya. Mungkin dengan suasana alam yang sejuk dan asri bisa membuat anak gadis itu menemukan kembali kepercayaan dirinya.
"Kia, tidur di kamarku ya malam ini," ajak Zahra.
"Boleh, Mbak. Tapi, Mama Rossa gimana?"
"Tenang, banyak kamar di sini," jawab gadis itu.
Mereka berdua berpamitan untuk istirahat lebih dulu pada para orang tua yang masih melanjutkan obrolan di ruang tamu.
Setelah berpamitan, mereka berdua menaiki tangga menuju kamar Zahra yang berada di lantai dua.
*****
Aku beberapa hari ini update selalu siang 🤭🤭
Ada yang nungguin gak sih? hehehe
Kalau ada yang menunggu, aku minta maaf banget.. karena aku udah mulai balik kerja, jadi malam kadang udah gak sempet nulis.
Tapi, tetep aku usahakan setiap hari update kok. Jadi tetep stay yaa readers...
Terima kasih banyak untuk dukungan kalian, komen-komen kalian yang bikin aku terharu bacanya****.
Terima kasih banyak.. jangan lupa pencet jempolnya ya... 😘😘😘
__ADS_1
salam sayang
♥️kiki rizki♥️