Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
68. Suasana Pagi


__ADS_3

Semalaman ini Zahra sedikit kurang nyenyak dalam tidurnya. Setelah gelagat aneh ditunjukkan Keyla saat ia berdiri di depan jendela dan menanyakan tentang bangunan terbengkalai di belakang komplek perumahan Ega.


Untungnya Keyla tidak menceritakan apapun. Jadi rasa takut Zahra tidak sampai berfikir pada hal-hal yang menyeramkan.


Zahra terbangun saat mendengar alarmnya berbunyi. Tepat pukul setengah lima pagi jam digital yang tertera di ponselnya.


Gadis itu segera mematikan alarm itu, takut mengganggu tidur gadis kecil di sampingnya yang terlihat pulas.


Zahra segera bergegas ke kamar mandi mengambil air wudhu dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim. Setelah selesai ia membangunkan Keyla agar segera salat juga.


Begitu mereka berdua selesai dengan kegiatannya di kamar. Zahra memutuskan untuk pergi ke dapur. Membantu mbak asisten rumah yang biasanya memasak di pagi hari.


Ternyata di sana sudah ada Uti Salma dan ibunya Keyla yang asik di dapur berdua. Mereka terlihat sangat dekat. Zahra berharap kelak jika ia menikah dengan Ega akan bisa sama dekatnya dengan Uti Salma.


"Selamat pagi, maaf saya kesiangan," sapa Zahra pada dua orang itu.


"Ndak papa, Nduk. Cucuku yang satunya mana?" jawab Uti Salma juga menanyakan Keyla.


"Masih di kamar, Uti."


"Loh! Anak gadisku masih belum bangun ya?" tanya Tante Alifia ibunya Keyla.


"Sudah kok, Tante. Tadi saya turun dia masih melipat mukenah," jawab Zahra menjelaskan.


"Saya bantu apa ini?" tanya Zahra pada mereka berdua.


"Sudah. Kamu jangan ikut-ikut di dapur hari ini. Biar Tante sama Ibu saja yang masak. Ajak adikmu menyiram tanaman atau nyapu di halaman saja sana," perintah Tante Alifia.


"Iya, Tante. Saya keluar dulu kalau gitu," pamit gadis itu.


Saat hendak keluar menuju taman belakang Zahra berpapasan dengan Ega yang baru saja menuruni tangga.


"Mau ke mana?" tanya lelaki itu menyapa tunangannya.


"Ke taman, sama tante di suruh nyiram tanaman sama nyapu di sana," jawab Zahra.


"Emang kamu bisa?" tanya Ega setengah mengejek.


"Ya bisa lah. Perempuan tuh harus serba bisa," jawab Zahra.


"Katanya siapa?"


"Barusan kataku. Udah sana mandi! Emang kamu gak kerja?"


"Kalau ada kamu bawaannya aku pengen di rumah aja, ngekepin kamu," jawab Ega.


"Katanya pengen nikah sama aku. Tapi kok males kerja," gerutu Zahra.


"Ngekepin kamu kan juga kerja, Sayang."


"Uhuk-uhuk. Terkontaminasi mata dan telingaku pagi-pagi lihat orang pacaran," ucap gadis kecil yang berada di belakang Ega.

__ADS_1


"Kayak setan aja datang ngagetin orang," kata Ega kesal karena acara menggoda Zahra terganggu oleh sepupu kecilnya.


"Ih. Mentang-mentang aku bisa lihat setan dikatain kayak setan!" kata Keyla kesal dengan sekuat tenaga memukul pundak Ega.


"Aduh!" seru Ega yang benar-benar kesakitan.


"Ayo, Key. Kita ke taman. Tadi ibu kamu nyuruh kita nyiram bunga sama nyapu di sana," ajak Zahra.


"Masak rumah orang kaya kayak Kak Ega gak ada tukang kebunnya," keluh Keyla.


"Enak aja kalo ngomong. Banyak noh tukang kebun. Itu tuh perintah ibu kamu. Biar kamu gak malas."


"Kalian kalau ketemu selalu aja saling debat gitu ya. Udah, Key, ayo jangan ladenin kakak kamu ini," kata Zahra menarik tangan Keyla menuju taman untuk melaksanakan perintah Tante Alifia.


******


Seusai sarapan, sebelum Ega dan Papa Adnan berangkat kerja, Zahra meminta ijin pada mereka untuk kembali ke Tumpang menjemput sang adik. Mengingat obrolannya semalam, tentang Keyla yang ingin Efelin ikut liburan bersamanya.


"Nggak! Nanti aja sepulang aku kerja, aku anterin," tolak Ega.


"Kan aku bisa bawa salah satu mobil kamu, Ga, ya kan, Uti?" Zahra meminta dukungan pada Uti Salma.


"Sebaiknya sama Ega saja, Nduk. Atau nanti biar Ega saja yang jemput langsung nanti sepulang dia kerja. Kamu di rumah saja sama Uti," tutur Uti Salma.


"Nanti aku pulang jam makan siang, kita jemput Efelin bareng. Kamu hubungi dia," perintah Ega.


"Kamu mau setengah hari lagi? Kan kemarin udah setengah hari," kata Zahra.


"Ya. Aku akan resign secepatnya. Sepertinya tawaran Papa menggiurkan. Aku bisa kapanpun ngantor," kata Ega pada papanya.


Semua penghuni meja makan mengulum senyum melihat Ega yang sepertinya benar-benar cinta pada gadis yang duduk di hadapannya itu.


"Kak Ega bucin ya," celatuk Keyla membuyarkan suasana sedikit tegang yang tercipta.


"Key, kok gitu ngomong sama orang tua," peringat sang ibu.


"Ya sudah. Aku berangkat dulu. Nanti siang kita jemput Efel," putus Ega final. Dan Zahra pun mengiyakan dengan terpaksa.


*****


Sesuai janjinya tadi pagi, siang itu Zahra dan Ega menuju Tumpang untuk menjemput Efelin. Mereka sampai di rumah Zahra menjelang sore.


"Bunda mengijinkan Efelin ikut acara liburan kalian, dengan syarat dia menginap di rumah Tante Rossa," kata bunda saat Ega meminta ijin.


"Kenapa begitu, Bunda? Di rumah saya masih banyak kamar kosong yang bisa di tempati Efel," tanya Ega.


"Nak, kamu dan Zahra belum menikah. Tidak sepantasnya Zahra dan Efelin menginap di rumahmu tanpa orang tua. Bunda mengijinkan Zahra tinggal di rumahmu karena semata-mata Bunda menghormati dan menghargai nenek kamu. Itupun dengan kesepakatan hanya satu minggu," ucap Bunda Ratih.


"Kami orang desa, Nak. Segala tingkah laku kami sekeluarga akan selalu menjadi sorotan para tetangga. Hari ini tantemu dan Rio juga akan kembali ke kota. Jadi Bunda minta Efelin biar menginap di rumah tantemu saja," lanjutnya.


"Iya, Bunda," jawab Ega.

__ADS_1


Setelah mendapat ijin dari Bunda Ratih. Mereka mengunjungi Rio dan Zakia yang berada di rumah Bibi Dewi. Rencananya mereka akan kembali ke kota bersama-sama selepas maghrib.


Dua lelaki yang beberapa hari tidak bertemu itu kini tengah mengobrol di halaman rumah Bibi Dewi. Ditemani oleh segelas kopi yang masih mengepul dan sebatang rokok yang terselip di antara jari-jari Rio.


"Gimana? Ada perkembangan?" tanya Ega.


"Masih tetep kayak kemarin. Aku bingung kudu yok opo," jawab Rio.


"Masih belum diterima? Aku khawatir dia hamil, Yo," lirih Ega.


"Semoga saja tidak. Karena di RS kemarin dokter ngasih dia obat yang mencegah kehamilan bagi korban pelecehan s*ksu*l. Aku berharap obat itu berfungsi dengan benar," jawab Rio.


"Kalaupun dia hamil. Aku gak peduli. Aku akan tetap menikahinya dan membesarkan anaknya seperti anakku sendiri," lanjutnya.


"Kamu yakin?" tanya Ega.


"Yakin banget. Aku gak pernah seyakin ini mencintai seseorang. Kamu tahu sendiri dulu aku seperti apa. Dengan Zakia aku berhenti menjajaki wanita."


"Aku masih ingat dulu kamu sewaktu SMA kamu pematah hati wanita nomor satu."


"Semoga dia segera menerima lamaranmu. Ayo kita nikah bareng-bareng entar," lanjut Ega.


"Apa Mbak Zahra sudah menerima lamaranmu?" tanya Rio.


"Sudah dong," jawab Ega dengan bangga.


"Apa kedua orang tuanya sudah silaturahmi ke rumahmu?"


"Belum. Kenapa?"


"Jangan berbangga dulu, Bro. Ada dua kemungkinan saat orang tua pihak perempuan silaturahmi pada pihak laki-laki."


"Maksdumu dua kemungkinan apa?"


"Menerima lamaranmu atau menolaknya. Meski di awal pihak perempuan terlihat menerima, belum tentu selanjutnya juga seperti itu. Ada kalanya hati manusia berubah haluan," jawab Rio mantap dan serius.


Perkataan Rio lantas membuat Ega dilema dan dilanda rasa takut. Takut akan penolakan lamarannya pada Zahra.


*****


Hiyaaa ... Ada yang kangen sama Rio?


Terimakasih atas dukungan kalian..


terimakasih yg udah like dan komen isi ceritaku ..


aku juga selalu hadir mendukung kalian para teman² authorku 🤗🤗🤗


buat yang penasaran sama Keyla, dia punya lapak sendiri.. ikutin ceritanya Keyla juga yaa.. biar kalian nyambung bacanya 🤭🤭


salam sayang

__ADS_1


♥️kiki rizki ♥️


__ADS_2