
Hari itu, Rio benar-benar disibukkan dengan Mbak Zahra yang baru saja terkena musibah. Jujur, aku sedikit tidak terima diabaikan olehnya.
Namun, aku sadar posisi. Mbak Zahra saudaranya, sedangkan aku hanya pacarnya. Belum jadi bagian dari keluarga mereka. Meski Mama Rio telah mengenal aku.
Beberapa minggu kulalui hampir tanpa Rio. Aku tak pernah protes padanya. Tapi kesalahanku adalah mau-mau saja aku ikut dengan Alena.
Dengan segala bujuk rayu dari Raka dan Devan, sore itu akhirnya aku ikut acara yang Alena buat. Dia bilang anniversary tiga bulan dia jadian dengan Arya.
"Lebai. Aku yang hampir setahun pacaran sama Rio aja gak gitu-gitu banget," cibirku saat itu.
"Ayolah, Ki. Daripada kamu malam minggu sendirian di kosan. Toh Bang Rio pasti ngijinin kamu keluar sama kita-kita," bujuk Raka yang saat itu datang ke kosanku bersama Devan.
"Mending aku di rumah. Dari pada lihat kalian mesra-mersrahan sama temen-temen Alena," jawabku masih menolak.
"Aaa... Kamu cemburu ya?" goda Devan.
"Bukan cemburu. Risih tahu. Kalian gak ada malu-malunya bermesraan di tempat umum. Aku malu jadi temen kalian."
"Yah, gimana ya. Kucing dikasih ikan bandeng ya langsung dilalap dong. Mubadzir kalo gak dimakan," jawab Devan.
"Ayo deh, Ki. Janji deh. Nanti aku bakal nemenin kamu," bujuk Raka.
"Enggak. Males aku."
"Aku udah ijin Bang Rio. Dia ngijinin asal kamu gak nginep. Tapi kita harus nginep. Acaranya bakal sampai tengah malem," lanjuut Raka.
"Males. Udah sana kalian pergi. Berangkat sendiri aja," usirku pada mereka.
"Arya temenmu loh, Ki. Kamu udah gak nganggep kita semua temen nih, padahal udah bertahun-tahun kita temenan. Tega banget kamu nolak undangan temen sendiri cuma gara-gara gak suka sama Alena," cerocos Devan.
Memang benar apa katanya. Tega sekali aku, kalau menolak hanya karena Alena. Padahal mereka berempat selalu nomor satu yang membantuku.
"Iya deh. Tapi sesuai kata Rio. Aku gak nginep. Kamu yang tanggung jawab nganter aku pulang," tunjukku saat itu pada Raka.
"Beres, Honey," ucapnya padaku.
Aku menggeplak kepala Raka yang suka sekali memanggilku seperti itu.
Akhirnya aku ikut dengan mereka ke salah satu villa di kota Batu. Dan malam itu pula aku harus kehilangan segalanya.
Malam itu, masih teringat jelas di otakku. Banyak orang yang datang ke acara yang dibuat Alena. Aku lebih memilih menepi, menjauh dari mereka yang sedang berpesta.
__ADS_1
Jujur, aku ngeri melihat mereka. Aku benar-benar baru tahu kehidupan mereka semengerikan ini.
Botol minuman keras bercecer di mana-mana, laki-laki perempuan tak mengenal malu saling bercumbu di hadapan orang lain. Aku seperti anak ayam yang tersesat di kawanan katak. Kami berbeda.
Raka menghampiriku saat itu, dia menepati janjinya menemaniku di sini. Di pojok sofa, jauh dari mereka yang tengah berpesta.
"Kamu gak pernah lihat kita kayak gini ya, Ki?" tanyanya.
Aku menggeleng sebagai jawaban. Ada rasa kecewa terselip di hatiku melihat teman-temanku, yang aku rasa telah salah pergaulan.
Tiba-tiba ada yang memanggil Raka, dia berpamitan padaku untuk pergi sebentar. Aku mengiyakan saja. Toh pasti dia akan kembali pikirku.
Tak berselang lama, ada yang duduk di tempat Raka, aku mengabaikannya, karena aku memang tak mengenalnya.
"Mau minum? Kuperhatikan kamu dari tadi cuma duduk di sini," ucap orang itu.
"Nggak haus. Makasih," jawabku.
"Nih. Siapa tau nanti haus," ucapnya dengan meletakkan gelas minuman yang dia bawa.
Reflek aku mencium bau dari minuman itu. Dia tertawa melihat apa yang aku lakukan.
"Tenang aja, itu air putih kok," ujarnya.
"Mau lihat pemandangan di luar?" tanya orang itu sok akrab.
Aku merasa risih dibuatnya. Belum pernah aku menemui dia di kampus. Tak heran juga sih. Ada ribuan mahasiswa di sana. Tak mungkin aku mengenal mereka semua.
"Nggak. Makasih," tolakku.
Laki-laki itu tersenyum. Kalau kuperhatikan sepertinya dia jajaran most wanted kampus. Dari segi wajah dan penampilan terlihat sebelas dua belas dengan gaya Raka atau yang lainnya.
Aku memilih diam tidak meladeninya lagi. Sesekali kucecap minuman yang ada di tanganku.
Aku ingat, aku merasa sedikit gerah waktu itu. Saat itu aku berpikir mungkin karena banyak orang di ruangan ini, jadi udara terasa panas.
Aku menghabiskan minumanku dan meletakkan gelasnya di atas meja. Aku memutuskan untuk keluar mencari udara segar.
Rasanya aneh. Udara kota Batu selalu dingin. Apalagi di malam hari. Kenapa aku masih kegerahan, padahal aku sudah di luar ruangan.
Aku melihat laki-laki yang tadi duduk di sebelahku juga ada di luar. Dia berjalan menghampiriku.
__ADS_1
"Kenapa keluar, Sepi di sini. Ayo masuk," ajaknya.
"Di dalam gerah. Aku mau cari udara segar," jawabku.
"Coba di balkon atas aja. Lebih aman. Ayo aku temani," ajaknya menunjuk arah balkon.
Boleh juga pikirku, aku mengangguk dan mengikuti langkahnya kembali masuk ke dalam villa. Menaiki tangga yang membawa kami menuju lantai atas.
Kukira ada pintu yang langsung menghubungkan ruangan dengan balkon. Ternyata kami harus masuk salah satu kamar agar bisa menuju balkon.
"Buka aja pintu kamarnya," pintaku dengan menahan gerah yang semakin menjadi.
Laki-laki yang tak aku tahu mamanya itu menuruti permintaanku. Aku segera berjalan menuju balkon berharap menemukan udara segar di sana yang mampu meredakan kegerahan yang membuatku tersiksa ini.
Aku masih bisa merasakan ada seseorang yang memeluk tubuhku dari belakang. Mengecup pundak dan leherku. Membuatku tanpa sadar mengeluarkannya desahan.
Entah apa yang terjadi padaku, aku tak tahu selanjutnya. Yang aku ingat, dia membawaku kembali masuk ke dalam kamar, menutup semua pintu, tapi aku tak mampu berbuat apa-apa.
Panas di tubuhku kian menyiksa. Membuatku kehilangan kesadaran akan hal yang tidak pernah aku bayangkan.
Yang aku ingat setelahnya. Aku terbangun di atas tempat tidur tertutup selimut. Sekujur tubuhku terasa sakit semua. Apa lagi saat aku menggerakkan kakiku. Di bagian sana rasanya sangat sakit dan nyeri.
Aku masih tidak mempercayai apa yang telah terjadi padaku. Sekujur tubuhku penuh dengan tanda merah-merah. Dan yang lebih mengguncang diriku, ada bercak merah di atas sprei. Pakaianku berserakan di lantai.
Aku menangis sejadi-jadinya begitu menyadari apa yang telah terjadi padaku. Hilang sudah kehormatan yang selalu aku jaga.
Tega sekali orang yang telah melakukan hal keji itu padaku. Suara isakan tangisku ternyata terdengar sampai di luar kamar.
Aku ingat, Raka masuk ke dalam kamar yang aku tempati sangat terkejut melihat keadaanku.
"Kia, kamu-," ucapnya tercekat.
Aku tak memperdulikannya. Aku hanya bisa menangis dan menutupi tubuhku dengan selimut.
"Siapa yang melakukannya, Ki?"
"Aku gak tahu," jawabku menangis.
"Jangan mendekat! Pergi, Raka! Aku kotor. aku gak berharga lagi, Raka. Aku menjijikkan!"
Setelah itu aku tak tahu lagi apa yang terjadi padaku. Saat aku bangun lagi, aku sudah berada di rumah sakit. Hingga saat ini.
__ADS_1
Aku merasa diriku sudah tak berarti lagi. Jika kalian berfikir, harusnya aku kuat, bisa mengatasi rasa traumaku akan kejadian itu. Kalian salah besar. Ilmu psikologi yang kupelajari dua tahun ini hilang sudah tak berbekas di otakku.
Aku jadi merasakan apa yang pernah dirasakan Mbak Zahra. Bahkan lebih parah dari itu.