Cinta Untuk Zahra (END)

Cinta Untuk Zahra (END)
34. Pingsan


__ADS_3

Setelah kepulangan kedua temannya, Zahra kembali berdiam di dalam kamarnya. Kembali meratapi nasibnya yang sangat menyedihkan.


Gadis itu menangis dalam diam, sesekali juga mengusap wajah dan tubuhnya dengan kasar saat mengingat bagaimana perlakuan Bian padanya. Gadis itu merasa sangat kotor dan hina.


Hanya menangis dan menangis yang dapat ia lakukan. Hingga tak terasa ia terlelap dalam tangisannya.


Siang itu, Rio datang berkunjung ke rumah Zahra. Ia ingin melihat keadaan kakak sepupunya. Dari bengkel ia langsung menancap gas menuju rumah Zahra.


"Assalamualaikum," ucapnya begitu masuk rumah yang cukup besar itu.


"Waalaikumsalam," jawab Tante Ratih dari dalam ruang tamu. Ia segera bergegas bangun dan menemui Rio.


"Mbak Zahra keadaannya gimana, Tan?" tanya Rio setelah menyalami tantenya itu.


"Sedari pagi dia nggak mau keluar kamar, Le. Niena sama Dea baru saja pulang."


"Mbak Zahra di kamarnya kah, Tan?"


"Iya, coba kamu ajak keluar dia. Biar nggak teringat kejadian kemarin."


"Iya, Tan."


Rio bergegas menuju kamar Zahra. Ia mengetuk pintunya dengan pelan-pelan. Hingga beberapa lama tak ada jawaban.


Ada rasa khawatir yang menyusup dihati Rio. Ia sedikit lebih keras mengetuk pintu itu. Namun tetap sama. Tak ada jawaban.


Di dalam kamarnya, Zahra terbaring di atas kasurnya. Wajahnya terlihat pucat, bisa jadi karena ia kekurangan makanan dan cairan. Mengingat beberapa hari selama diculik hingga sekarang ia jarang sekali makan ataupun minum.


Rio kembali menghampiri Tante Ratih yang berada di ruang keluarga.


"Tan, Mbak Zahra kok enggak jawab panggilan aku ya?" tanya Rio.


"Masa sih? Tadi tante ketuk pintu dia masih menjawab meski gak mau buka pintunya. Coba kita buka kuncinya dari luar aja, Tante ambil kunci cadangannya dulu," Tante Ratih mulai khawatir dengan keadaan anaknya. Ia segera menuju kamarnya dan mengambil kunci cadangan.


Kedua orang itu bergegas menuju ke kamar Zahra lagi. Rio memasukkan kunci itu ke lubangnya. Namun sayangnya pintu itu tidak bisa terbuka. Karena di dalam juga terpasang kunci.


"Dobrak aja udah gak papa," kata Tante Ratih yang sudah sangat cemas.


Rio mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu itu. sekuat tenaga ia menghantam pintu itu dengan tubuhnya. Hingga percobaan yang keempat akhirnya pintu itu dapat terbuka.


Tante Ratih buru-buru masuk dan menghampiri Zahra. Ia sangat terkejut melihat kondisi Zahra yang sangat pucat dan tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Nduk, Ra. Bangun, Nak." Tante Ratih mengusap pipi Zahra dengan penuh kasih. Namun tak ada respon apapun dari gadis itu.


"Kita bawa ke rumah sakit aja, Tan sekarang," kata Rio.


Tante Ratih yang menangis hanya bisa menganggukkan kepala. Rio segera mengangkat tubuh kakak sepupunya yang tidak berdaya.


"Tante, tolong kunci mobil Mbak Zahra, saya ke sini bawa motor," ucap Rio sebelum keluar kamar.


Tante Ratih mengangguk dan mengikuti Rio keluar kamar. Ia mengambil kunci mobil yang berada di laci ruang tengah. Tante Ratih membukakan pintu belakang agar Rio bisa meletakkan Zahra di sana.


Tante Ratih masuk dari pintu bagian lain, ia memposisikan dirinya agar dapat memangku kepala Zahra. Rio dengan tergesa menaiki mobil dan menancap gas menuju rumah sakit terdekat.


Jalanan yang macet membuatnya tidak sabaran, membuatnya berkali-kali menekan klakson mobil. Ia ingin sekali segera sampai di rumah sakit. Hingga hampir tiga puluh menit kemudian sampailah ia di depan IGD RSPN kota Malang.


Zahra segera dilarikan ke dalam IGD untuk mendapatkan pertolongan. Tante Ratih dan Rio hanya bisa menunggu di depan IGD. Menantikan kabar dari dokter tentang keadaan Zahra.


Rio berjongkok dan bersandar pada dinding belakangnya. Tersirat wajah khawatir akan kakak sepupunya. Tante Ratih duduk dikursi tunggu dan tak henti-hentinya menangis. Dalam tangisannya ia memanjatkan doa untuk sang anak.


"Keluarga pasien?" kata suster yang baru saja keluar dari ruang IGD.


"Saya ibunya, Sus. Bagaimana anak saya?" tanya Ibu Ratih.


"Silahkan masuk, Ibu," suster itu mengajak Bu Ratih masuk.


"Selamat siang, Ibu. Anda keluarga pasien?" sapa dokter itu ramah.


"Iya, Dok. Saya ibu pasien atas nama Azzahra Kirana. Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Tante Ratih.


"Anak Ibu dehidrasi dan sepertinya sedang banyak pikiran, sehingga asam lambungnya meningkat. Harus istirahat di sini dulu dua atau tiga hari sampai keadaanya pulih kembali," kata Dokter itu.


"Alhamdulillah, baik Dok. Saya terserah apa kata Dokter. Yang penting anak saya sehat kembali. Lakukan yang terbaik untuk anak saya," kata Tante Ratih.


"Silahkan Ibu urus administrasi terlebih dahulu, setelah itu kita bawa Nona Zahra ke kamar rawat inap," kata dokter muda itu.


"Mari, Bu. Saya antarkan," kata suster yang sedari tadi ada di samping dokter itu.


Tante Ratih didampingi suster itu keluar dari IGD untuk mengurus administrasi. Di luar ruangan Rio harap-harap cemas menunggu keluarnya tantenya itu. Begitu tantenya keluar ia segera menghampiri dan menanyakan keadaan Zahra.


"Zahra dehidrasi dan asam lambungnya naik," jawab Tante Ratih.


"Boleh saya menengoknya?" tanya Rio.

__ADS_1


"Silahkan, Tuan," jawab suster.


Rio segera masuk dan mendapati Zahra terbaring lemah dengan selang infus di tangan kirinya dan seorang dokter yang berdiri di sampingnya.


"Zahra, kamu begitu berbeda dari saat kita kecil dulu," ucap dokter itu.


Rio berhenti, menunggu kelanjutan lelaki itu berbicara. Ia merasa heran dengan sikap dokter itu.


"Apa jika kamu sadar akan mengenaliku?" kata lelaki itu lagi.


"Ehem," Rio berdehem sedikit keras untuk mengalihkan perhatian orang itu.


"Siapa kamu?" tanya Rio langsung.


Lelaki itu berbalik dan menatap Rio. Mengamati dan mengingat lelaki itu.


"Kamu Ega atau Rio?" tanya dokter itu.


"Kamu mengenalku? Zahra juga?" tanya Rio penasaran.


"Ya. Aku teman sekelas Zahra sewaktu SMP, Arga," dokter itu memperkenalkan dirinya.


Rio diam mengingat-ingat temannya yang bernama Arga itu. Hingga terbayang sosok anak gendut berkacamata tebal memakai seragam SMP dibenaknya.


"Serius kamu Arga?" tanya Rio memastikan.


"Iya. Aku Agra. Cowok gendut dan culun saat SMP dulu," jawab lelaki itu.


"Beh, Berubah sekali penampilanmu! Ah, lupakan itu. Bagaimana keadaan Zahra," tanya Rio mengabaikan fakta tentang teman lamanya.


"Sepertinya dia sangat tertekan dan banyak pikiran, Apa aku benar?" tanya balik Dokter Arga.


"Hem."


"Dia dehidrasi dan asam lambungnya naik. Kemungkinan besar dia telat makan dan banyak pikiran."


"Ya."


"Aku akan merawatnya dengan baik. Kau ingat? Hanya dia satu-satunya teman yang tidak pernah menggangguku. Hanya dia yang selalu baik padaku," kata Dokter Arga memandang Zahra penuh perhatian.


"Enyahkan perasan yang ada pada hatimu. Dia akan segera menikah dengan Ega," peringat Rio. Ia sangat tau jenis tatapan apa yang ada pada mata Arga.

__ADS_1


Arga hanya tersenyum sekilas memandang Rio. Ia merapikan jas putihnya, dan meninggalkan Rio begitu saja.


****


__ADS_2