
Bab 106
"Darah Daging Yang Di Benci "
Hampir satu jam mereka sudah sampai di kantor polisi,,Bima segera masuk ke dalam kantor polisi berharap dia bisa bertemu Nelam di sana.
Tapi ternyata hanya ada Antasari dan Sinta yang sedang memberikan laporan,,Bima langsung tertunduk lemas.
"Nelam,,di mana kamu sekarang sayang.."Ucap Bima dalam hati sambil melangkah gontai duduk di kursi tunggu.
Bima teringat wajah Nelam yang sangat terluka dan sangat membenci nya,,mata Bima kembali berkaca-kaca,,tampak punggung nya bergetar menahan tangis nya.
Tiba-tiba ada tangan yang menyentuh pundak nya.
Bima langsung menghapus air mata nya,, dan melihat orang yang sudah berada di samping nya,, tampak wajah lelaki yang sudah membesarkan nya,, ayah sekaligus mertua nya.
"Pah.."Ucap Bima lirih sambil berusaha menahan air mata nya.
Antasari menarik napas dan membuangnya kasar,,dia pun duduk di samping Bima.
"Mamah mana pah..??"Tanya Bima yang tak melihat keberadaan Sinta.
"Mamah sudah papah suruh pulang,, kasihan seperti nya mamah mu sangat syok.."Ucap Antasari.
Bima mengusap wajah nya kasar.
"Bim,, setelah memberikan kesaksian,,kita harus bicara.."Ucap Antasari lagi.
Bima tidak menjawab hanya mengangguk.
"Papah tahu keberadaan Nelam..??"Tanya Bima menatap Antasari yang berada di samping nya.
"Nelam berada di tempat yang aman dan sudah ada yang menjaga nya,,kamu tenang saja.."Jawab Antasari.
Bima lagi-lagi mengangguk,,dia tidak mau membantah,, karena dia memang di posisi yang salah.
Akhirnya giliran Bima memberikan kesaksian,, hampir setengah jam Bima menjawab semua pertanyaan polisi.
"Kita ke dokter dulu untuk mengobati luka-luka mu.."Antasari berkata saat Bima menghampiri nya.
"Iya pah.."Jawab Bima parau.
"Om,,saya pamit dulu,, sekalian mau mengantarkan Laras.."Bayu berkata sambil mencium punggung tangan Antasari di ikuti oleh Laras.
"Lo mau bawa Laras kemana..??Tanya Bima menatap Bayu.
"Tinggal di apartemen gw.."Ucap Bayu santai.
Bima dan Antasari tampak terkejut.
"Tenang,,Bayu Sudrajat itu lelaki yang bisa di percaya.."Ucap Bayu sombong.
Bima yang biasa nya rajin mengomentari omongan Bayu hanya diam saja,,dia merasakan separuh nyawa nya telah hilang.
"Hai bro,, tenang saja gw yakin,,seberat apa pun ujian cinta Lo sama Nelam,, kalian pasti akan di pertemukan,, karena gw yakin kalian berdua memang di takdir kan untuk berjodoh..."Bayu berkata sambil menepuk pelan pundak sahabat nya.
Bima hanya membalas dengan senyum tipis nya.
"Gw balik duluan,,jaga diri Lo baik-baik,,semoga semua ujian ini segera berlalu.."Bayu berkata sambil memeluk sahabatnya.
__ADS_1
"Thanks Bay,,Lo juga hati-hati,,jaga diri dan jaga dia kalau memang Lo yakin sama dia.."Ucap Bima melepaskan pelukan Bayu dan menepuk pelan pundak Bayu.
"Oke,,gw balik sekarang.."Ucap Bayu.
"Hati-hati Bay.."Ucap Bima lirih.
Bayu mengangguk ke arah Bima dan Antasari, kemudian Bayu pergi meninggalkan kantor polisi di ikuti oleh Laras.
***********
Sementara di sebuah pemakaman tampak Nelam sedang menangis tersedu-sedu di tiga pusara.
Nelam mengusap nisan itu secara bergantian.
"Aku ingin ikut kalian.."Ucap Nelam di sela-sela tangisan nya.
"Mah,,bi Nur ternyata yang selama ini memperkosa ku dan menabrak Yusuf adalah ayah kandung nya sendiri.."Nelam berkata sambil otak nya memutar memory pahit yang pernah terjadi dalam hidup nya.
"Yusuf maaf kan mamah nak,,mamah sudah membenci mu,,dan ternyata papah mu sendiri yang telah membunuh mu..."Nelam semakin terisak sambil mencium nisan Yusuf.
"Bima,, kenapa aku harus jatuh cinta pada mu,, bahkan menjadi istri mu dan mengandung anak mu...???Tanya Nelam di tengah tangisannya sambil mengelus perut nya.
"Nelam..."Tiba-tiba ada yang menyentuh pundak nya.
Nelam menoleh melihat siapa yang memegang pundak nya.
"Om Beni.."Panggil Nelam lirih.
"Untuk apa om kesini..??Tanya Nelam lirih dengan air mata yang terus membasahi pipinya.
"Papah mu ada urusan yang harus di selesaikan,, jadi om yang akan menemani mu.."Jawab Beni yang ikut sedih melihat keadaan Nelam.
Om Beni menghela napas.
"Nelam,,kita membicarakan ini di tempat lain..."Ucap Beni menatap Nelam nanar.
"Saya masih ingin di sini om.."Nelam menjawab dengan memijit kepala nya yang terasa sangat pusing,,semua seperti berputar-putar,, mata nya berkunang-kunang.
"Nelam.."Panggil Beni.
Panggilan Beni bagaikan angin untuk Nelam,,dan Nelam pun hilang kesadaran,, dengan sigap Beni langsung menangkap tubuh Nelam yang pingsan.
Beni segera membawa Nelam pergi meninggalkan area pemakaman.
*********
Di tempat lain,,di rumah kediaman Mahadewa tampak Bima,,Antasari,,dan Sinta sedang berada di ruang makan,, mereka makan dalam diam,, semua terasa hening.
"Papah tunggu segera di ruang keluarga.."Antasari berkata sambil bangkit dari duduknya meninggalkan meja makan.
Sinta segera menghentikan makannya,,dia menatap tajam ke arah putra nya,, kemudian bangkit dari duduknya,,dan melangkah pergi meninggalkan Bima sendiri.
Bima hanya menunduk tak berani menatap mata sang mamah,,baru kali ini dia merasa takut dengan tatapan mata sang mamah.
Bima menarik napas dalam,, kemudian menghembuskan nya kasar,, memejamkan mata nya sebentar dan mengusap kasar wajahnya.
Bima bangkit dari duduknya menuju ruang keluarga,,dia pun duduk di hadapan Antasari dan Sinta.
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang...??"Antasari bertanya dengan sorot mata tajam nya.
__ADS_1
"Maafkan Bima pah,,mah,, semua ini kecelakaan..."Bima berkata sambil mengingat kejadian yang menyesakkan dada nya.
"Malam itu,,entah kenapa tubuh ini terasa panas dan ada hasrat yang tidak bisa aku kendalikan.."Bima berkata sambil memejamkan mata nya,, kejadian malam itu pun terbayang jelas di pelupuk matanya.
"Dan malam itu,,aku bertemu Nelam.."Ucap Bima dengan wajah sedih dan mata nya mulai berkaca-kaca.
"Aku benar-benar tidak tahu kalau kejadian malam itu,, menyebabkan Nelam hamil dan menderita..."Bima berkata sambil menutup wajah nya dengan tangan nya dan Bima mulai terisak.
Sinta juga sudah mulai menangis,, kemudian menghampiri Bima dan memeluk nya dengan penuh kasih sayang.
Antasari menarik napas,,hati nya pun merasakan kesedihan yang mendalam,,apa lagi jika teringat Nelam dan Yusuf.
"Dan kecelakaan itu benar-benar di luar kendali ku.."Bima berkata dengan suara parau melepaskan pelukan Sinta.
"Papah tahu,,semua ini bukan mutlak kesalahan mu..."Antasari berkata dengan tatapan nanar ke arah Bima dan Sinta.
"Anak buah Robert yang telah memasukkan sesuatu ke minuman mu...."Antasari berkata sambil menarik napas.
"Dan kecelakaan saat kamu menabrak Yusuf itu juga sebuah sabotase,,dan di lakukan oleh orang yang sama,,yang membuat kamu dan Nelam kecelakaan kemarin..."Antasari berkata menatap bergantian Bima dan Sinta.
Bima dan Sinta tersentak kaget.
"Papah sudah mengetahui nya...???"Tanya Bima.
"Kalau begitu kita langsung lapor kan dan tuntut saja orang itu pah..!!!!"Sinta berkata dengan semangat,, terlihat kemarahan di mata nya.
"Kita akan membuat orang itu mengakui sendiri perbuatan nya.."Ucap Antasari.
"Apa papah sudah punya rencana..??"Tanya Bima sambil memicingkan mata nya.
"Kita lihat saja nanti,,tapi bagaimana pun kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu,, walaupun itu bukan mutlak kesalahan mu.."Antasari berkata sambil menatap nanar ke arah Bima.
"Tapi pah,,ini bukan sepenuhnya kesalahan Bima.."Teriak Sinta sambil menggenggam tangan Bima.
Baru saja Antasari akan menjawab kata-kata istri nya,, tiba-tiba ponsel nya berbunyi
"Hallo.."
"Oke,,kami akan segera kesana.."
Tampak wajah Antasari penuh ke khawatiran.
"Ada apa pah..??"Tanya Bima saat Antasari menutup telepon nya
"Kita harus segera ke rumah sakit,,Beni menelepon Nelam pingsan di pemakaman.."Ucap Antasari.
"Apa..!!"Teriak Bima.
"Nelam.."Ucap Sinta lirih,,sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan nya.
************
Detik-detik cerita akan segera berakhir.
Ikuti terus novel-novel atau cerpen-cerpen karya Author.
Jangan lupa mampir ke novel terbaru author
__ADS_1