
Bab 63
"...Darah Daging Yang Di Benci..."
Antasari,Sinta,Bima dan Nelam pergi ziarah ke makam Sekar yang berdekatan dengan makam Yusuf.
Antasari duduk di samping Bima yang menyetir,,Sinta dan Nelam duduk di kursi belakang,,Sinta duduk di belakang Antasari sedangkan Nelam duduk tepat di belakang Bima yang sedang mengemudi.
Di dalam mobil lebih banyak Sinta dan Antasari yang mendominasi pembicaraan,,Bima sibuk menyetir dengan hati yang berdebar,,karena dia akan melihat makam dari putera nya sendiri,,ya putera yang sudah di tabrak nya sampai meregang nyawa.
Tanpa sadar Bima mengusap kasar wajahnya dan menarik napas dalam-dalam,, seolah-olah ingin melepaskan beban di hatinya.
Antasari,,Sinta,, Nelam melihat tingkah Bima, mereka merasa aneh sambil menatap Bima.
"Kamu baik-baik saja Bima???"Ucap Sinta lembut sambil menatap Bima dari kursi belakang.
"Ya mah,Bima baik-baik saja.."Ucap Bima sambil fokus mengemudi.
"Kalau kamu lelah,biar papah yang gantikan Bim..."Ucap Antasari menatap Bima yang berada di samping nya.
"Ga ko,,Bima baik-baik saja.."Ucap Bima yang fokus menyetir.
Nelam yang berada di belakang kursi Bima,,tampak menatap wajah Bima melalui kaca spion dalam mobil yang berada di depan Bima,,dan Bima merasakan kontak batin,dia pun menatap kaca spion mobil di depan nya,, seketika netra mereka pun bertemu,,tapi Nelam buru-buru membuang pandangan nya kearah samping kaca mobil sambil pura-pura melihat pemandangan di sepanjang jalan.
Bima masih terus menatap Nelam sambil terus fokus menyetir,,Nelam sesekali melirik Bima tapi saat netra mereka bertemu lagi,,Nelam tidak berani menatap nya.,,dia akan menunduk atau membuang pandangannya ke arah jalanan.
"Dekat tapi terasa jauh.."Ucap Nelam dalam hati sambil terus menatap pemandangan yang ada di jalan raya.
"Ingin sekali aku memilikimu dan menghalalkan mu,,tapi ada dinding yang terlalu kokoh yang tidak bisa aku tembus dan ketakutan yang tidak berani aku hadapi..."Bima berkata dalam hati sambil menghela napas.
Antasari dan Sinta menatap Bima dan Nelam bergantian,, kemudian Antasari menoleh ke arah Sinta,,Sinta hanya mengangkat bahu dan menggelengkan kepalanya.
Akhirnya mereka pun sampai di area pemakaman,Bima segera memarkirkan mobilnya.
Sesampainya di makam Sekar dan Yusuf,, Antasari langsung bersimpuh di makam Sekar,, Sintapun ikut bersimpuh di samping Antasari.
Sedangkan Nelam berada di samping Sinta dan Bima berada di samping Nelam.
"Sekar,,,, maafkan aku yang telah melupakan mu dan putri kita..."Ucap Antasari lirih sambil menitikkan air matanya,,Sinta mengelus lembut punggung Antasari.
"Waktu itu aku pernah mengunjungi makam Yusuf tapi aku benar-benar tidak tahu kalau kamu berada di dekat cucu kita.."Ucap Antasari yang sudah tidak bisa membendung air mata nya sambil mengusap nisan Sekar.
__ADS_1
Sinta yang sedang mengelus pundak Antasari juga ikut menangis,, Nelam yang mendengar nama Yusuf dan tangisan Antasari,,membuat dada nya sesak dan pedih,,air mata pun langsung mengalir dari sudut matanya.
Bima yang sedang dilema,dan pikiran yang berkecamuk tak menentu,, tersentak saat dia mendengar isak tangis Nelam.
Dengan hati-hati dan sedikit ragu,,Bima mencoba menyentuh pundak Nelam.
"Nelam.."Panggil Bima lirih sambil membawa Nelam kedalam pelukannya.
Nelam yang tidak menolak,, langsung masuk ke pelukan Bima dan tangisan nya semakin tersedu,,dia merasakan pelukan yang di berikan Bima begitu hangat,dan memberikan kenyamanan di hatinya.
Pelukan Bima seperti sandaran dan kekuatan untuk nya,.
"Sekar,, maafkan aku yang selalu membenci mu.."Ucap Sinta mulai terisak.
"Aku berjanji,,aku akan menjaga dan menyayangi Putri mu Nelam.."Ucap Sinta sambil melihat ke arah Nelam yang sedang menangis dalam pelukan Bima.
"Aku janji Sekar,, dengan segenap jiwa raga,aku akan menjaga Putri kita.."Ucap Antasari sambil menghapus air matanya,,dan berusaha untuk tegar kembali.
Antasari menoleh ke arah Sinta yang sedang menangis.
"Mah,,, maafkan papah yang pernah mengkhianati mamah.."Ucap Antasari sambil menggenggam tangan Sinta.
"Tidak pah,, justru mamah sangat berterimakasih,karena dengan ikhlas dan besar hati papah telah menerima mamah yang saat itu sudah kotor dan membohongi papah,,"Ucap Sinta yang sudah terisak.
"Kita ambil hikmah dari ini semua,, sekarang kita mempunyai sepasang anak,,bukan hanya satu.."Ucap Antasari tersenyum sambil mengangkat wajahnya Sinta dan menghapus air matanya.
Sinta pun tersenyum dan mengangguk.
"Sekarang kita akan ke makam Yusuf..."Ucap Antasari sambil melepaskan pelukan nya pada Sinta kemudian mengelus pelan nisan Sinta.
"Ayo kita do'akan almarhumah,, Nelam do'akan ibu mu nak.."Ucap Antasari lembut menatap Nelam.
"Iya pah.."Ucap Nelam yang melepaskan diri dari pelukan Bima,, padahal jauh di lubuk hatinya,,dia tidak ingin sama sekali melepaskan pelukan itu yang telah memberikan kenyamanan dan merasakan perlindungan.
Mereka pun berdoa yang di pimpin Antasari, setelah selesai berdoa, mereka menuju makam Yusuf yang tak jauh dari makam Sekar.
Antasari segera menggandeng Sinta,, Nelam dan Bima mengikuti langkah mereka,, tiba-tiba Nelam merasakan jemarinya ada yang menggenggam,saat Nelam menoleh Bima tersenyum sambil menatap Nelam dalam-dalam.
Nelam tersenyum,, seketika wajah nya memerah antara bahagia dan malu,,Bima semakin tersenyum lebar melihat Nelam yang tersipu malu dengan wajah memerah dan menunduk.
"Ayo.."Ucap Bima lembut sambil terus menggenggam tangan Nelam mengikuti langkah Antasari dan Sinta.
__ADS_1
Nelam mengikuti langkah Bima, perasaan hangat dan bahagia menjalar di relung hati nya,, tiba-tiba dia tidak ingin waktu cepat berlalu,,dia ingin bahagia bersama Bima.
Mereka pun sampai di makam Yusuf,, mereka berempat langsung duduk bersimpuh,,Sinta duduk di samping Antasari,, sedangkan Nelam dan Bima duduk bersimpuh di hadapan mereka.
"Yusuf,,sudah lama mamah tidak mengunjungi makam mu nak.."Ucap Nelam lirih sambil mengelus nisan Yusuf.
"Seandainya kamu tidak menyelamatkan mamah,,pasti kamu masih hidup sayang dan tumbuh menjadi anak yang lucu dan menggemaskan.."Ucap Nelam dengan suara parau dan mulai terisak kembali.
Bima yang berada di samping Nelam, langsung membawa Nelam ke dalam pelukannya kembali bahkan lebih erat.
Dada Bima terasa bergemuruh,di tatapnya nisan yang bernamakan Muhammad Yusuf dengan nasab ibu nya.
Antasari dan Sinta ikut menangis kembali melihat Nelam.
"Bima,, sekarang kamu yang pimpin do'a untuk Yusuf nak."Ucap Antasari.
Bima tersentak,,dia tidak menyangka akan memimpin do'a dari anak kandung nya sendiri,, matanya berkaca-kaca.
Bima menghela napas,,dan melepaskan pelukan nya dengan lembut dari Nelam.
"Kita berdoa dulu untuk anak kita Yusuf..."Ucap Bima tersenyum menatap Nelam.
Antasari,Sinta,dan Nelam... mengerutkan dahinya dan menatap tajam ke arah Bima,, seolah-olah meminta penjelasan atas perkataan nya.
"M..maksud Bima,, kami khan adik kakak.."Ucap Bima sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Berarti Yusuf itu keponakan Bima yang berarti anak Bima.."Kata-kata Bima yang terlihat sedang menutupi sesuatu membuat mereka terus menatap Bima.
"Ayo kita berdoa sekarang.."Ucap Bima langsung memimpin do'a untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan mereka.
Antasari menatap tajam Bima,,dia yakin ada yang di sembunyikan Bima dari nya,,apa lagi dia tahu dari tatapan nya, terlihat sekali Bima sangat mencintai Nelam,,tapi dia justru mengikhlaskan Nelam ke Bayu,, padahal mereka bukan saudara sekandung dan halal untuk mereka menikah.
Antasari menarik napas.
"Pasti Bima punya alasan atas keputusan nya,,aku akan mencari tahu penyebab nya.."Ucap Antasari dalam hati.
***********
Maaf baru bisa update malam...
Seperti biasa author selalu meminta dukungan dari para reader semua.
__ADS_1
Vote,,like dan komen jangan lupa
Terimakasih.