
Bab 85
".. Darah Daging Yang Di Benci.."
Setelah selesai makan malam,, mereka pun berkumpul di ruang keluarga.
"Kapan rencana kalian pindah ke apartemen...??"Tanya Antasari menatap bergantian Bima dan Nelam.
"Besok pah.."Ucap Bima santai.
"Kamu kenapa sie Bim..?? Tunggu sampai pesta dulu..!!"Ucap Sinta menatap tajam Bima.
"Mah,, kita masih sama-sama di Jakarta,,dan jarak rumah kita tidak terlalu jauh.."Ucap Bima malas sambil menghela napas.
"Iya,,tapi.."Sinta tidak jadi melanjutkan ucapannya karena di potong Antasari.
"Sudah jangan di jadikan perdebatan mah.."Ucap Antasari menggenggam tangan Sinta.
Sinta tidak menjawab,,wajah nya tampak kesal menatap tajam Bima,,tapi Bima terlihat santai.
"Nelam,, kamu baik-baik saja nak..??"Ucap Antasari lembut menatap puteri nya.
Bima melirik ke arah Nelam.
"Nelam baik-baik saja ko pah.."Ucap Nelam tersenyum.
"Seperti nya kamu lelah ya sayang...??"Ucap Bima merangkul Nelam.
Nelam cukup kaget dengan perlakuan Bima,,tapi Nelam tetap pura-pura tersenyum.
"Maklum pah,, pengantin baru.."Ucap Bima tersenyum menatap keduanya.
Sinta menghela napas.
"Ya sudah kalian istirahat saja..."Ucap Antasari.
"Nelam,,ke kamar duluan ya mah,,pah.."Ucap Nelam berusaha tenang dan tetap tersenyum.
"Ayo mas.."Ucap Nelam bangkit dari duduknya.
"Iya sayang.."Ucap Bima ikut berdiri tanpa melepaskan genggaman nya dari tangan Nelam.
"Mah,,pah,,kami pamit..."Ucap Bima tersenyum sambil meraih pinggang Nelam.
Antasari tersenyum dan mengangguk,, sedangkan Sinta masih memasang wajah masam.
Bima dan Nelam pun melangkah meninggalkan Antasari dan Sinta.
"Mah,,memang seharusnya saat menikah,,istri itu di bawa suami.."Ucap Antasari lembut menatap istrinya.
"Iya mamah tahu pah,,tapi pesta pernikahan mereka tinggal seminggu lagi.."Ucap Sinta dengan wajah mulai sendu.
Antasari tersenyum.
__ADS_1
"Papah tahu,, sebenarnya mamah takut kesepian Khan...??Ucap Antasari selembut mungkin sambil menggenggam tangan Sinta.
Sinta tidak menjawab,,dia menyadarkan kepala di dada bidang Antasari,, walaupun usia Antasari sudah tidak muda lagi,,tapi tubuhnya masih kekar dan berotot,,tempat ternyaman bagi Sinta untuk bersandar.
"Papah,, sama Bima sibuk,, lebih baik mamah ajari Nelam lagi untuk mengurus butik dan usaha lainnya,, masakan Nelam enak,, masukkan Nelam di sekolah masak ternama.."Ucap Antasari.
"Papah juga ingin Nelam masuk kuliah memilih jurusan sesuai minat nya.."Ucap Antasari lagi.
"Tapi sekarang Nelam sudah jadi istri bima,,jadi kita harus meminta ijin pada Bima sebagai suaminya.."Antasari melanjutkan ucapannya.
"Ga perlu pah.."Jawab Sinta ketus sambil mengangkat kepalanya dari dada Antasari.
Antasari mengerutkan keningnya menatap tajam Sinta.
"Pah,,aku ngerasa kalau Nelam menyembunyikan sesuatu.."Ucap Sinta sambil menatap suaminya.
"Mamah negatif saja sie.."Ucap Antasari sambil menatap tajam ke arah Sinta.
"perasaan perempuan itu tajam pah,,mamah merasakan ada sesuatu yang tidak baik di antara mereka.."Ucap Sinta dengan wajah serius menatap Antasari.
"Pernikahan mereka belum sampai seminggu,, mungkin mereka butuh penyesuaian dalam segala hal mah.."Ucap Antasari berusaha menenangkan istrinya.
"Terserah papah saja lah.."Ucap Sinta bangkit dari duduknya, sambil melangkah pergi ke kamar nya meninggalkan Antasari.
Antasari menghela napas,,dia memang curiga ada yang di sembunyikan oleh Bima,, sampai Bima dengan ikhlas menyerahkan Nelam kepada Bayu,, padahal Bima sendiri sangat mencintai Nelam.
"Apa mungkin karena rasa bersalah Bima telah menabrak Yusuf..??"Ucap Antasari dalam hati.
Sementara itu,di dalam kamar,, tampak Nelam sedang membersihkan wajah nya di depan meja rias,,Bima yang baru keluar dari kamar mandi langsung menghampiri Nelam dan tubuh istrinya dari belakang.
Bima mencium rambut Nelam yang harum,, hatinya bahagia sekali karena rambut Nelam yang hitam lebat dan indah tubuh nya yang mempesona hanya dia yang bisa melihat dan menikmati.
"Terimakasih sayang.."Ucap Bima yang sedang mencium dan menghirup wangi nya rambut Nelam.
Nelam yang menatap wajah Bima di cermin tersenyum manis,, memegang lengan Bima yang sedang memeluk nya.
"Terimakasih untuk apa mas..??"Ucap Nelam lembut sambil menatap sendu wajah suaminya dari cermin.
"Karena kamu memperlihatkan pesona dan keindahan hanya di depan ku,,suami mu.."Ucap Bima yang ikut menatap wajah istrinya dari cermin kemudian mencium lembut wajah istrinya dari samping.
Berlahan Nelam membalikkan tubuhnya,,kini mereka saling berhadapan.
"Sudah seharusnya seorang wanita itu menutup aurat dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya.."Ucap Nelam sambil membelai lembut wajah Bima.
"Dan sudah seharusnya wanita Salihah mempersembahkan semua keindahannya untuk suami nya yang halal,,kecuali...""Nelam menghentikan ucapannya dan menunduk sedih.
Bima mengerutkan keningnya.
"Kecuali apa sayang..??"Ucap Bima sambil mengangkat wajah istrinya untuk menatapnya.
"Kecuali jika wanita itu di perkosa tanpa daya dan upaya untuk mencegah,, menghindar apa lagi melawan.."Ucap Nelam dengan wajah sedih dan mata berkaca-kaca.
Teringat malam itu dengan sekuat tenaga dia menghindar dan melawan bahkan sampai memohon,,tapi lelaki itu dengan beringas dan dikuasai nafsu bejat nya tanpa ampun merenggut kesucian Nelam.
__ADS_1
Bima tersentak mendengar kata-kata Nelam,, bayangan ketika dengan paksa dia merebut kesucian Nelam,, padahal saat itu Nelam sudah mengibah dan memohon padanya.
Bima langsung membawa Nelam ke dalam pelukannya, seketika Nelam langsung menumpahkan air matanya,,Bima pun ikut menangis.
Malam ini mereka melewati dengan tangisan,, sampai mereka terlelap dengan saling memeluk, dengan perasaan dan pikiran masing-masing.
********************
Keesokan harinya.
"Kalian jadi pindah hari ini...??"Ucap Antasari saat mereka menyantap sarapan.
"Iya pah,,hari ini kami pindah.."Ucap Bima sambil menerima roti yang sudah di olesi selai oleh Nelam.
"Terimakasih sayang..."Ucap Bima menatap sendu Nelam.
Nelam membalas dengan senyuman.
"Mamah sama papah tenang saja,,setiap Sabtu pagi sampai Minggu sore kami akan menginap di sini,,iya khan mas...?"Ucap Nelam sambil tersenyum menatap Antasari dan Sinta kemudian Bima.
"Ya mah,,pah,,ini kesepakatan kami semalam.."Ucap Bima menatap kedua orangtuanya.
"Papah terserah kalian saja..."Ucap Antasari sambil memasukkan potongan roti ke mulutnya.
"Tapi Minggu depan pesta pernikahan kalian,,bisa tidak menunggu pindah nya setelah pesta,,?Khan banyak yang harus di persiapkan.."Ucap Sinta menatap tajam Bima dan Nelam.
"Pesta dan persiapan lainnya sudah di urus EO mah.."Ucap Bima menatap heran mamah nya.
"Iya,,tapi Nelam butuh perawatan untuk menjadi ratu sehari.."Ucap Sinta dengan wajah masam.
"Ya sudah mas,,kita pindah nya saat acara pesta selesai.."Ucap Nelam lembut memegang lengan Bima.
Bima menarik napas dalam-dalam dan membuangnya kasar.
"Ya sudah,, terserah kamu sayang.."Ucap Bima mengalah.
"Nah gitu dong,, menyenangkan hati orang tua itu ibadah lho.."Ucap Sinta dengan senyum kemenangan.
Antasari menggelengkan kepalanya,,dia tahu sekali sifat istrinya,,tidak akan menyerah jika sesuatu itu tidak sesuai keinginan nya.
******************
Bagaimana kelanjutan hubungan ranjang Bima dan Nelam?????
Mampukah Bima memberikan nafkah batin untuk Nelam???
Ikuti terus kelanjutan nya.
Author minta dukungan,,vote,,like,,dan komen nya.
Jangan lupa kasih hadiah buat Author.
Terimakasih,, sehat selalu.
__ADS_1