Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Ancaman


__ADS_3

"Jadi ayah serta suami yang baik, memang apa lagi?"


Jawaban David seketika membuat Alvino bernapas lega. Dia mengira putranya itu ingin menjadi mafia seperti dirinya dulu. Laki-laki itu lupa jika dia sudah pensiun dari pekerjaannya yang dulu. Kelompok serta markas mereka memang masih ada, tetapi di alih fungsikan sebagai organisasi yang membantu menggagalkan kejahatan yang sekarang semakin marak terjadi. 


"Kalau begitu kau harus menunggu puluhan tahun lagi, Dafid!" 


"Biarkan saja!" 


"Sudah-sudah. Jangan berdebat! David kamu ini masih kecil sudah memikirkan hal itu," lerai Alvino menengahi perdebatan kedua anaknya. 


Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di tempat tujuan, yakni sekolah Arina. Gadis remaja itu turun dari mobil, sebelum itu tentunya sudah berpamitan lebih dulu kepada sang ayah. 


"Hati-hati di jalan, Yah!" seru Arina seraya melambaikan tangan. 


Kendaraan yang ditumpanginya Alvino dan David kini kembali melaju menuju kantor. Karena ada meeting penting Alvino pun mempercepat laju mobil. David sama sekali tidak terganggu meski sang ayah mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. 

__ADS_1


"David, nanti tunggu ayah di ruangan ayah saja, ya! Jangan keluyuran ke mana-mana! Om Andri sedang tidak ada di kantor." 


"Iya, Yah!" 


Sesampainya di kantor keduanya bergegas turun. David mengekori sang ayah yang berjalan terburu-buru. Seperti yang diucapkan oleh David, para karyawan sang ayah selalu saja bersikap berlebihan saat melihatnya. Terbukti saat ini beberapa karyawan wanita langsung mendekatinya. 


"Selamat pagi, Tuan Muda," sapa beberapa karyawan wanita yang mendekati David. 


Alvino hanya memutar bola matanya malas. Melihat tingkah para karyawan yang sering kali mencari perhatian david membuatnya jengah. Mereka seperti sibuk sendiri meskipun putranya sama sekali tidak menanggapi. Bocah tampan itu masih terus sibuk bermain game di ponselnya. 


Tanpa membalas sapaan para karyawan, David langsung berlari mengejar sang ayah. Para karyawan pun membubarkan diri setelah lagi-lagi tidak mendapat respon baik dari bocah berparas tampan itu. 


Kedua laki-laki tampan berbeda generasi itu masuk ke dalam lift untuk menuju ruangan CEO. Begitu sampai di ruangan petinggi perusahaan Alvino langsung meninggalkan sang putra di ruangan pribadinya tersebut. 


Berbeda dengan aktivitas Syifana di mansion. Meski telah berhasil meraih gelar sarjana, nyatanya Syifana tidak diperbolehkan untuk bekerja oleh Alvino. Laki-laki itu hanya meminta sang istri untuk tetap di rumah untuk mengurus anak-anak mereka. 

__ADS_1


Sekarang saat kedua anaknya tidak berada di rumah, Syifana pun merasa bosan. Wanita itu berniat untuk mengunjungi mansion sang kakak untuk menjenguk kedua keponakan kembarnya yang kini sudah berusia lima tahun. 


Syifana mengendarai mobilnya seorang diri menuju mansion sang kakak. Namun, dalam perjalanan tiba-tiba dia mendapatkan telepon dari nomor asing yang memberikan ancaman kepadanya. 


"Apa mau kamu sebenarnya?" tanya Syifana saat seseorang itu mengancamnya dengan keselamatan Arina. 


"Kalau kau ingin tahu, datanglah ke jalan Manggis nomor delapan. Aku menunggumu di sana!" 


Setelah mengucapkan itu, telepon berakhir. Syifana tiba-tiba saja cemas dengan keadaan Arina. Wanita yang kini bergelar seorang ibu itu mengurungkan niatnya untuk mengunjungi sang kakak. Dia memutar balik arah laju mobilnya. 


Tidak ingin membuang-buang waktu Syifana mempercepat laju mobilnya. Wanita itu sudah tidak sabar untuk memastikan sang anak dalam keadaan baik-baik saja. Namun, ketika Syifana sedang fokus menyetir tiba-tiba ada sebuah pesan masuk. 


Penasaran, Syifana menepikan mobilnya untuk memeriksa isi pesan tersebut. Kedua netranya membulat saat melihat sebuah Vidio yang menampakkan sang putri berada di sebuah tempat yang gelap. Tangan dan kakinya terikat, serta mulutnya tertutup lakban.


"Astagfirullah, siapa yang sudah berbuat jahat pada putriku?" 

__ADS_1


__ADS_2