
Berkat bujukan sang bude, Syifana akhirnya mau keluar dari kamar. Perempuan yang kepalanya masih terlilit perban itu kini tengah berada di taman bersama dengan seorang pria. Meski dia sempat menolak untuk menikmati sore bersama pria yang bukan suaminya, akan tetapi sang ayah tetap memaksakan kehendak.
Dengan terpaksa dia mengizinkan pria tersebut duduk di sampingnya. Namun, tetap dalam jarak yang cukup aman. Walau bagaimanapun, Syifa sadar bahwa dia masih menjadi istri Alvino. Mereka belum berpisah secara resmi.
Pria di samping terlihat gugup, Syifa dapat memastikan hal itu melalui ekor matanya yang tidak sengaja melihat si pria duduk dengan gelisah. Namun, lagi-lagi Syifana mengacuhkan hal itu, pikirannya masih di dominasi oleh sang suami yang sekarang entah bagaimana kabarnya.
"Em, Syifa. Aku ikut prihatin atas musibah yang kamu alami. Kamu yang sabar dan iklas, Syifa. In Sya Allah akan di gantikan dengan yang lebih baik," ujar si pria memulai pembicaraan.
"Terima kasih atas perhatiannya, tapi aku tidak membutuhkan itu, Vano. Sebaiknya kamu ingat dengan baik, bahwa aku ini istri orang," jawab Syifa dengan perkataan menohok.
Pria yang ternyata adalah Gevano itu terlihat semakin gugup, terlihat dari tangannya yang kini saling memelintir jari-jarinya sendiri di bawah sana. Dia merasa tidak enak saat mendapatkan respon kurang baik dari Syifa, perempuan itu bahkan terkesan sedang memberinya peringatan.
"Tapi, bukankah dia sudah menalakmu?" tanyanya sedikit takut-takut.
Mendengar itu, Syifana menoleh seketika. Menatap tajam pria yang sudah berani ikut campur terlalu jauh tentang kehidupannya. Di tatap seperti itu, bulu kuduk gevano meremang.
__ADS_1
"Aku peringatkan kamu, Vano. Jangan berani ikut campur terlalu jauh tentang urusanku! Suamiku tidak pernah berniat menceraikanku. Aku juga yakin, saat ini dia masih berusaha untuk memperbaiki hubungan kita."
Syifana berkata dengan yakin, tatapannya tak gentar sedikitpun. Meski dalam hatinya diapun ragu. Entah akan seperti apa masa depannya bersama sang suami, diapun tidak tahu. Sampai detik ini suaminya itu bahkan sama sekali tidak pernah menghubungi untuk bertanya tentang kabar.
"Maaf kalau aku lancang, Syifa. Tapi ayahmu bilang kamu sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan pria itu," timpal Gevano tanpa berani memandang Syifana.
Senyum kecut terlukis di wajah pucat Syifana. Perempuan itu tidak menyangka sang ayah akan membeberkan aib anaknya sendiri kepada orang lain. Sungguh, Syifana merasa malu karena kelemahannya kini di ketahui oleh pria di sampingnya.
"Dalam negara, aku masih istri sah Bang Vino. Tidak ada yang berhak ikut campur tentang hubunganku dengannya!" bentak Syifana seraya beranjak dari duduknya.
Syifa menghentikan langkah saat bertemu dengan kakak dan iparnya itu. Dia merasa heran karena tidak biasanya kedua kakaknya itu berbelanja tanaman hias. "Kalian borong bunga anyelir? Buat apa?" tanya Syifana.
"Borong apanya, barusan ada orang kirim paket. Katanya ini semua buat kamu! Nah ada suratnya juga." Ara memberikan kertas yang datang bersama keempat tanaman hias itu.
Syifana sedikit kebingungan, dia sama sekali tidak pernah memesan bunga. Apa lagi bunga anyelir dengan beragam warna. Namun, karena penasaran akhirnya Syifana membuka kertas tersebut.
__ADS_1
*Sibukkan diri kamu dengan tanaman bunga ini, jangan berpikir yang berat. Aku mencintaimu,* Hanya tulisan itu yang tertulis di kertas tersebut.
Rangkaian kata pendek itu justru membuat Syifana semakin bingung, dia berusaha menebak siapa pengirim bunga tersebut. Karena di kertas tidak ada nama ataupun alamat si pengirim.
"Kalian tahu ini dari siapa?" tanya Syifana bingung.
"Mana kutahu, Syifa. Kita aja bingung makanya ini bunga mau di taruh dimana?"
"Bunga itu dari Gevano!"
Suara itu membuat ketiga orang yang masih memikirkan perkara siapa pengirim bunga itu menoleh bersamaan. Sang ayah berdiri di ujung anak tangga dengan tatapan yang sulit di artikan.
Hay, mampir juga yuk ke karya baruku dengan judul Gairah Perawan Tua.
__ADS_1