
Gevano mengurungkan niatnya untuk pergi dari tempat itu ketika gadis yang di sukainya tiba-tiba memanggil dirinya.
"Aku mau pulang, Syifa," ujarnya dengan lirih.
"Aku boleh minta bantuan?" tanya Syifa memberanikan diri.
"Bantu apa?"
"Antar aku ke terminal, aku mau kembali ke Jakarta. Ibuku sakit," ucap Syifa menjelaskan.
"Kenapa tidak langsung saja ke Jakarta dengan mobil? Kenapa harus naik bus? Itu berbahaya untuk gadis sepertimu, Fana." Vino yang sejak tadi diam, kini menimpali.
"Fana tidak mau merepotkan, Bang. Kamu di sini dulu, yah! Sampai kamu sembuh. Fana janji, akan kesini lagi untuk jengukin bang Vino."
"Kamu tidak merepotkan, Syif. Aku akan antar kamu sampai rumah kamu di Jakarta," ujar Gevano. Ini bukan tawaran, melainkan keputusan.
Walau merasa tidak enak, tetapi Syifana memang memerlukan bantuan dari Gevano. Sedangkan Vino, laki-laki itu tidak bisa memutuskan apapun karena statusnya yang tengah lupa ingatan. Dengan terpaksa akhirnya Syifana pulang ke Jakarta di antar oleh Gevano.
*****
Begitu sampai di Jakarta, Syifana bergegas menuju Rumah Sakit yang sudah di beritahukan oleh sang kakak. Gadis itu berlari di sebuah lorong panjang untuk sampai di ruangan sang ibu. Gevano masih setia menemani Syifana, dia belum akan pergi sebelum gadis itu benar-benar aman hingga bertemu keluarganya.
"Abang!" teriak Syifana begitu melihat sang kakak sedang berada di kursi tunggu bersama istrinya.
Ali menoleh, lalu bangkit dari kursi. Laki-laki itu berjalan menghampiri sang adik yang sudah berapa hari ini kabur dari rumah.
"Kau ini nakal sekali, Syifa! Lihat akibat dari ulahmu ini." Ali memeluk sang adik dengan erat.
Walaupun merasa sangat kesal, akan tetapi ia sangat menghawatirkan adiknya itu. Apalagi selama ini gadis remaja kesayangannya itu sama sekali tidak pernah keluar dari rumah tanpa ijin dan pengawalannya sebagai kakak.
"Maafin Syifa, Kak. Syifa salah," ucap Syifa dengan deraian air mata penyesalan.
__ADS_1
Wanita anggun dengan perut yang semakin membesar itu ikut bangkit dari duduknya. Dia menghampiri suami dan adiknya yang tengah saling berpelukan. Setelah mendekat, Ara mengelus kedua punggung kakak beradik itu perlahan. Mencoba menenangkan keduanya.
"Sudah, Sun. Syifa lelah, biarkan dia duduk dulu." Ara melerai pelukan antara kakak dan adik itu.
Setelah terlepas, Ara menggandeng Syifana untuk duduk di kursi tunggu. Dia begitu perhatian pada adik satu-satunya yang ia miliki. Selain masih remaja, Syifana memang tergolong sering berbuat ceroboh dan gegabah. Hanya saja, dia tidak menyangka sang adik sampai nekat kabur.
"Ibu dimana, Kak Ara?" tanya Syifana masih dengan air mata yang mengalir deras dari sudut matanya.
Ara menarik kepala Syifana untuk bersandar di bahunya. "Tenanglah, Sayang. Ibu baik-baik saja, beliau hanya terlalu cemas memikirkan kamu." Kini Ara mengelus puncak kepala sang adik.
Ali yang masih berdiri di tempatnya, baru sadar jika ada kehadiran pria asing disana. Dia masih memandang pria itu dari ujung kaki hingga ujung kepala. Berusaha mengingat siapakah pria yang datang bersama adiknya.
"Kau siapa?" tanya Ali dengan nada datar.
"Saya Gevano, Mas." pria muda itu mengulurkan tangan untuk menjabat tangan laki-laki yang ia ketahui adalah kakak Syifana.
"Gevano?" Ali belum juga mengingat nama yang di sebutkan pria itu.
Ali tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala pertanda dia ingat dengan nama ibu pria muda itu. Yang jelas, dia tetangga Bude Nur di Pekalongan. Kota kelahiran Ibu Salma.
"Syifa sudah sampai dengan selamat, silahkan jika kamu ada urusan yang lainnya." Gevano membalas jabat tangan Gevano, tetapi dia juga mengucapkan kata yang bermuatan pengusiran.
Dengan berat hati Gevano menuruti ucapan dari kakak gadis yang di sukainya. Lagipula dia memang tidak bisa terlalu lama di tempat itu. Besok, dia harus kembali bekerja di kantor.
"Syif, Vano pulang dulu, yah!" Gevano berpamitan kepada gadis yang di sukainya.
Syifana yang memang masih memikirkan keadaan sang ibu, hanya menanggapi Gevano seadanya. Lagipula dia memang tidak ingin menahan seseorang untuk selalu bersamanya.
"Hati-hati di jalan, Vano. Terima kasih sudah mengantarkan Syifa,"
Begitu sudah berpamitan dengan Syifana, Gevano bergegas pergi dari tempat itu walau dengan hati yang kecewa. Dia mendapatkan respon kurang baik dari keluarga gadis incarannya. Entah karena keadaan yang tidak bagus, atau memang keluarga Syifa tidak menerima kehadirannya.
__ADS_1
Setelah kepergian Gevano, seorang pria paruh baya keluar dari ruangan bertuliskan mawar. Pria itu terlihat sangat kelelahan, bahkan seperti seseorang yang tidak terurus. Kemeja acak-acakan dan rambut berantakan.
"Ayah." Syifana bangkit lalu berlari mendekati sang ayah. Gadis remaja itu memeluk ayahnya begitu erat seakan membutuhkan perlindungan seseorang.
"Nak, kamu pulang?" ujar pria paruh baya yang tidak lain adalah ayah dari Ali dan Syifana.
Syifana mengangguk, masih bersandarkan pada dada bidang yang mulai keriput termakan usia. "Maafin Syifa, Ayah."
Ayah Hendra melerai pelukan, dari sudut matanya masih keluar air mata. Dia sangat merasa sedih dan terpukul dengan keadaan sang istri. Walaupun tidak memiliki penyakit serius, istrinya itu mudah drop saat mendapatkan kejadian atau kabar kurang baik.
"Temui ibumu, Nak. Dia sangat merindukan kamu," ucapnya dengan lembut.
"Baik, Ayah. Ini semua terjadi karena Syifa, jika Syifa tidak nekat seperti itu, Ibu tidak akan mengalami sakit seperti ini," ujar Syifana dengan penyesalan yang dalam.
"Nasi sudah menjadi bubur, Syifa. Yang penting jangan pernah ulangi lagi kesalahan yang sama! Ingatlah bahwa ibu sekarang mudah sekali drop," Ali menyela perbincangan sepasang ayah dan anak itu.
"Betul, Nak. Ucapan Abang kamu itu benar sekali, jangan mudah memutuskan sesuatu tanpa pikir panjang lebih dulu. Pikirkan dampak baik dan buruknya akan seperti apa?" Ayah Hendra membenarkan ucapan putra pertamanya itu.
Selesai dengan nasihat dan wejangan yang di berikan untuk gadis berusia 17 tahun itu, Ayah Hendra akhirnya menarik Syifana untuk masuk ke dalam ruangan di mana tempat sang istri di rawat.
Begitu masuk ke dalam ruangan itu, air mata kembali menggenangi sudut mata gadis cantik berdarah Jawa dan Sumatera itu. Tanpa pikir panjang, Syifana berlari ke ranjang yang tengah menjadi tempat istirahat sang ibu.
Ketika sudah dekat, Syifa menghentikan langkahnya. Gadis itu menatap jarum infus yang menancap di tangan sang ibu. Rasanya seperti tertusuk anak panah ketika melihat ibunya dalam keadaan tidak berdaya. Air mata lolos begitu saja saat penyesalan terasa kian mendalam.
"Ibu," panggil Syifana dengan lirih.
Ibu Salma tidak merespon panggilan Syifana, membuat Ayah Hendra ikut mendekat. Pria paruh baya itu memegang tangan sang istri yang kini terlihat sangat pucat pasi.
"Ayah, kenapa ibu tidak merespon panggilan Syifana?"
Bersambung...
__ADS_1