Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Pengakuan Vino


__ADS_3

"Kakak beli minum dulu, yah, Syif." Ara berdiri lalu berjalan keluar dari taman itu meninggalkan Syifana sendirian setelah mendapat persetujuan dari gadis remaja itu.


Kini Syifana sendirian, pandangannya kosong menatap lurus ke depan. Dia benar-benar menyesal dengan apa yang di lakukan olehnya, tetapi mau seperti apapun sebuah penyesalan, itu tidak akan pernah mengubah apapun yang sudah terjadi. Untuk sekarang, memang yang perlu dia lakukan adalah berdoa dan berusaha untuk kuat. Agar semua keluarga tidak semakin merasa mempunyai beban lain lagi.


Tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang yang menyentuh bahunya. Terkejut, gadis itu reflek menoleh ke belakang. Akan tetapi pemandangan di belakangnya membuat dia semakin terkejut.


Seorang pria yang dia tinggalkan di kampung sang bude justru kini ada di hadapannya. Tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, Syifana mengedipkan matanya berulang kali. Siapa tahu dia hanya menghayal.


Namun pria itu justru tersenyum ketika melihat apa yang di lakukan oleh gadis remaja itu. Senyuman yang dapat menghipnotis Syifana dari gadis bar-bar yang suka mendebat, menjadi gadis manis yang penurut pada pria itu. Senyuman yang meluluhkan hati Syifana yang selama ini belum pernah memiliki rasa kagum pada lawan jenisnya.


Sadar dengan senyuman yang saat ini menghiasi wajah tampan pria itu adalah nyata. Syifana bangkit, gadis itu berdiri seraya menunjuk pria itu dengan jari telunjuknya.


"Bang Vino," ujarnya masih tidak percaya.


"Ini beneran kamu, Bang Vino?" tanya gadis itu pada pria di hadapannya.


Pria itu mengangguk masih dengan senyuman yang terukir di bibir tipisnya. "Iya, Fana. Abang khawatir, jadi minta antar Bude Nur kesini," ujarnya menjelaskan.


"Bang Vino sama Bude?" tanya gadis itu mengedarkan pandangan.


"Bude udah masuk, lagipula Bang Vino sudah dapat informasi tentang keluarga Abang, kok!" jelas Vano agar gadis itu tidak kebingungan.


Mendengar penuturan dari pria yang di tolongnya itu, Syifana mengangguk. Lega jika memang pria yang kini menjadi penghuni hatinya itu menemukan jati diri sebenarnya, walaupun dia tetap saja merasa takut. Takut jika pria itu akan menjauhinya ketika sudah berhasil menemukan jati diri yang sesungguhnya. Tanpa terasa netra itu kembali tergenang air mata yang sebentar lagi turun ke pipi.


"Kamu kenapa?" tanya Vino seraya mendekati Syifana.


"Bang Vino pasti bakal pergi menjauhi Fana, kalau Abang sudah berhasil menemukan identitas Bang Vino sebenarnya." Benar saja, air mata kembali menetes walau hanya tetesan kecil.


Vino terkekeh ketika melihat gadis di hadapannya menangis hanya karena takut di lupakan olehnya. "Syifa, coba kita lakukan jari kelingking. Abang janji tidak akan pernah melupakan atau meninggalkan gadis sebaik kamu," ujar Vino seraya mengulurkan jari kelingkingnya.

__ADS_1


Gadis itu menurut, dengan segera membalas apa yang di lakukan oleh Vino. Mereka melakukan sebuah janji di bawah pohon yang rindang, di tempat yang begitu indah dengan hiasan bunga berwarna-warni, juga air mancur buatan yang terlihat sangat indah.


"Janji,"


Pria yang tangannya masih terdapat perban itu kini duduk di bangku yang tadi menjadi tempat duduk Ara. Syifana dengan cepat ikut duduk di samping pria itu. Mereka berdua duduk berdampingan, sama-sama menatap ke depan.


"Fana," panggil Vino ketika gadis itu menatap lurus ke depan.


Syifana menoleh saat mendengar panggilan dari pria yang di sukai olehnya. "Kenapa, Bang?" tanya Syifana lembut.


"Keadaan ibu kamu, bagaimana?"


Syifa langsung menundukkan wajahnya ketika mendapat pertanyaan tentang keadaan sang ibu. Jujur, untuk sekarang dia sama sekali tidak tahu menahu tentang keadaan ibu kandungnya itu sebenarnya.


"Fan, kenapa? Kamu sedih?" tanya Vino menuntut.


"Ibu, masuk UGD, Bang. Ini semua karena ulah Syifana," ujarnya kembali menyalahkan diri sendiri.


"Ta-tapi, Bang ...."


Vino menutup bibir Syifana menggunakan jemarinya hingga mau tidak mau, gadis itu terdiam. Bola matanya memperhatikan jemari yang masih saja berada di tempat yang tidak seharusnya.


"Kamu tidak perlu memikirkan apapun, turuti saja semua yang di minta orang tua kamu nanti. Jangan pernah membantah perintah mereka!" ujarnya memberi nasihat.


"Abang pulang dulu, Fana. Sopir Abang sudah menunggu di depan," pamit Vino dengan lembut.


Pria itu menurunkan jemari yang tadi sempat bersarang di bibir mungil gadis remaja itu. Dia merasa agak gerogi dan salah tingkah ketika menyadari perbuatannya sudah menjurus ke arah lancang.


Syifana kini justru menarik tangan Vino, gadis itu menggenggam tangan pria yang lebih dewasa darinya. Membawa tangan itu menuju bibirnya lalu mengecup punggung tangan itu.

__ADS_1


"Bang Vino sudah janji tidak akan melupakan Syifa, kalau nanti Bang Vino sampai menghilang, Syifa akan cari Abang kemanapun." Syifana melepaskan tangan itu setelah mendaratkan kecupan begitu lama di punggung tangan besar itu.


Pria berusia 24 tahun itu hanya tersenyum lembut. Gadis itu sudah berani memberikan ancaman untuknya, akan tetapi entah kenapa dia sangat menyukai apa yang di lakukan gadis berusia 17 tahun itu. Gadis yang baru saja lulus dari bangku SMA.


"Kalau kamu mau cari Abang, tinggal panggil 3x. Abang pasti segera datang," ucap Vino bergurau.


Syifana yang sejak tadi hanya berteman air mata kini dapat tertawa akibat keisengan yang dilakukan oleh Vino. Karena gemas, Syifana memukul dada Vino pelan.


"Memangnya Abang golongan Jiny oh jiny, apa?" ucap Syifa dengan tawanya.


Vino tersenyum lembut, tangan besarnya kini naik ke atas kepala gadis itu dan mengelus puncak kepala gadis remaja itu dengan sayang.


"Untuk melihat kamu bahagia, Abang rela jadi apa aja, Syifa."


Seketika Syifana terdiam, dadanya bergemuruh hebat ketika mendengar kata-kata yang sangat manis dari mulut seorang pria. Pria yang pertama dekat dengannya selama ini.


Melihat Syifana terdiam dengan wajah menunduk, Vino menyentuh dagu gadis itu dan mengangkatnya untuk berhadapan dengan netra tajamnya.


"Apa kamu juga merasakan apa yang aku rasakan, Syifa?" ujar Vino ambigu.


Syifana menatap bola mata Vino dalam, mencari arti dari kata yang baru saja di ungkapkan oleh pria itu. Akan tetapi dia sama sekali tidak paham dengan apa yang di ucapkan pria idamannya.


"Maksudnya gimana, Bang?" tanya Syifana meminta penjelasan.


Vino mengambil salah satu tangan gadis itu dan membawanya ke pangkuannya. "Bang Vino suka sama kamu," ungkap Vino dengan berani.


Mendengar pengakuan dari Vino, Syifana melepaskan tangan yang semula di genggam Vino itu. Dia menutup mulutnya sendiri tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Untuk pertama kalinya dia mendapat sebuah pengakuan akan sebuah perasaan.


"Bang Vino suka sama aku?"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2