Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Kak Ara


__ADS_3

Di sinilah sepasang ibu dan anak itu berada. Di dalam sebuah kamar yang luas dengan deretan foto-foto keluarga yang terpajang dengan rapi. Mama Seren tetap diam tanpa berniat bertanya tentang apapun. Wanita itu menunggu sang putra untuk berbicara lebih dulu, bukan bicara lebih tepatnya mengaku atas kejahatannya kepada istrinya sendiri.


Hampir 20 menit wanita itu menunggu, akan tetapi sama sekali tidak ada satupun kata yang terucap dari bibir putra satu-satunya yang dia miliki. Jengah dengan suasana ini, Mama Seren bangkit, wanita itu berniat meninggalkan pria itu sendiri agar dapat merenungi semua kesalahan yang di perbuat.


"Jujur, Mama kecewa denganmu, Al. Ternyata kamu lebih kejam dari Papamu," ujar Mama Seren sebelum semakin melangkah jauh.


"Sampai kapan Mama akan menjauhkan aku dan istriku? Bukankah setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah, Mah? Apakah Al tidak pantas mendapatkan itu?" tanya Alvino dengan banyak pertanyaan.


Pertanyaan itu menghentikan langkah wanita paruh baya itu. "Tergantung, jika kamu mampu mengubah perilakumu, aku tidak akan memisahkan kamu dengan istrimu, Al. Tapi jika kamu tetap pada kelakuanmu yang kejam ini, aku bersumpah, aku sendiri yang akan membuat kalian bercerai! Jangan pernah berani membawa menantuku pergi dari mansion ini, jika kamu tidak mau aku jebloskan ke penjara."


Alvino mengusap wajahnya kasar, pria itu merasa frustasi karena kepribadiannya yang sekarang cepat berubah-ubah. Dia sendiri bahkan merasa kesulitan untuk mengendalikan dirinya sendiri untuk saat ini.


Karena hanya mendapat ancaman dari sang ibu, Alvino kini pulang ke mansion pribadinya hanya membawa sebuah kekecewaan. Dia tidak bisa membawa sang istri untuk ikut pulang bersamanya.

__ADS_1


"Maaf, Fana. Aku memang laki-laki brengs*k! Mama pantas menghukumku seperti ini."


Alvino keluar dari mansion milik orang tuanya. Pria itu langsung masuk ke mobil sport dan mengendarainya dengan kecepatan maksimal. Dari lantai atas tepatnya dari cendela kamar, Syifana memandangi kepergian sang suami. Perempuan itu juga merasa kasihan dengan apa yang terjadi pada suaminya. Namun, untuk kembali tinggal bersama saat ini baginya adalah sebuah kesalahan.


Perempuan itu masih memiliki trauma atas kekejaman Alvino ketika memberinya hukuman, apa lagi pria itu juga merenggut kesuciannya tanpa belas kasih. Walaupun Syifana sadar, itu memang sudah hak dan kewajiban mereka sebagai pasangan suami istri. Akan tetapi harusnya Alvino bisa melakukan hal itu dengan penuh kelembutan, bukan justru sebaliknya.


"Maaf, Bang, tapi aku belum siap untuk tinggal bersamamu lagi." Perempuan itu membalikkan tubuhnya.


"Kamu masih tetap tidak mau berkata jujur, Fana? Ayolah, katakan semua yang putraku lakukan kepada kamu." Mama Seren menarik Syifana untuk mendekat lalu mendekapnya dengan erat.


Kini cairan bening tidak mampu lagi di tahan, Syifana menangis di bahu sang mertua. Perempuan itu sudah tidak mampu lagi menyembunyikan kesedihannya seorang diri. Dia juga butuh seseorang yang bisa menguatkan dirinya dari semua beban hidup yang datang.


"Ceritakan semua, Sayang. Mama akan mencari jalan keluar untuk masalah kalian," ujar Mama Seren tetap memaksa sang menantu.

__ADS_1


Mau tidak mau, akhirnya Syifana menceritakan semua yang terjadi padanya. Dari awal perkenalan hingga menikah dan dia mendapat perlakuan yang berbeda 180 derajat dengan awal perkenalan mereka.


"Kira-kira apa yang membuat Al menjadi seperti itu, apakah dia belum bisa melupakan Ara?" monolog Mama Seren dengan suara lirih.


Namun, Syifana tetap dapat mendengar lirihan suara yang keluar dari bibir sang mertua. Perempuan itu membulatkan mata ketika yakin bahwa praduganya tentang sang suami adalah benar.


"Maksud Mama, Ara itu adalah Aracelia Daneen Gunawan?" tanya Syifana kepada sang mertua.


"Iya, Sayang, apakah kamu kenal wanita itu?" tanya Mama Seren balik.


Syifana langsung luruh, perempuan itu semakin berderai air mata ketika mengetahui kepastian atas alasan sang suami menyiksanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2