Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Balas Dendam


__ADS_3

"Beraninya kau membentak putraku!" teriak Alvino geram.


"Dia anakku!" sembur Felix tidak terima.


"Secara hukum, Arina dan David sudah menjadi anakku. Mereka adalah tanggung jawabku," timpal Alvino dengan cepat.


"Aku tidak pernah memberikan anak-anakku padamu."


"Papa seperti dirimu tidak pantas mendapatkan hak asuh mereka. Sintia sudah memberikan hak asuh mereka terhadapku," jawab Alvino santai.


Felix mengepalkan tangannya bersiap untuk menyerang Alvino. Namun, Alvino justru memandang remeh laki-laki yang sedang dikuasai amarah di depannya.


"Cukup, Felix! Aku bergabung denganmu hanya untuk balas dendam atas kematian sepupuku, bukan untuk mendengar ocehan tentang hak asuh anak." Gevano yang sudah jengah mendengar obrolan tidak berbobot antara kedua pria dewasa di depannya.


"Siapa kau berani membentakku!" sembur Felix jengkel.


Gevano terpaksa diam karena tidak ingin niat balas dendamnya hancur berantakan hanya karena emosi sesaatnya. Walau bagaimanapun dia merasa masih membutuhkan bantuan Felix untuk membunuh Alvino, pembunuh firman, sepupunya.


Syifana mengerjapkan matanya saat samar-samar mendengar suara keributan. Kesadarannya mulai kembali setelah beberapa jam pingsan. Begitu kedua netra itu terbuka, Syifana terkejut ketika melihat punggung seseorang yang sangat dikenali olehnya tengah berhadapan dengan dua orang pria lain yang salah satunya Syifana juga mengenal pria tersebut.


"Bang Vino, Gevan," gumam Syifana lirih.


Pandangan Syifana berkeliling memerhatikan tempat yang hanya dipenuhi oleh pepohonan. Wanita cantik itu beralih menatap ke arah perutnya yang ternyata diikat kencang menggunakan tali tambang.


"Loh, bagaimana bisa aku berada di hutan dan kenapa aku diikat seperti ini?"


Syifana semakin terkejut ketika melihat sang putri sulung berada di sampingnya dengan kondisi yang sama seperti dirinya. Kepanikan terjadi ketika Syifana sadar bahwa putrinya tidak sadarkan diri. Syifana berusaha membangunkan Arina dengan memanggil nama remaja perempuan itu, tetapi sang anak tidak kunjung sadar.


"Arina," panggilnya untuk kesekian kali.


Sementara itu, Alvino dengan santai berjongkok untuk menyamakan ketinggian dengan sang putra. Tangan kekarnya membelai rambut David dengan lembut.


"David, kamu mau bantu ayah?"


"Tentu, Yah! David akan dengan senang hati membantu ayah."

__ADS_1


"Bagus, sekarang kamu lepaskan ikatan ibu dan kakak, yah! Biar ayah yang menghadapi mereka," ucapnya dengan lemah lembut.


David mengalihkan pandangannya ke arah Felix dan Gevano lalu kembali menatap Alvino dengan ekspresi khawatir. Apa yang dirasakan oleh David dapat dibaca dengan baik oleh Alvino.


Kini kedua tangan kekar itu berpindah ke bahu putranya. Menepuk pelan dan membersihkan pakaian sang putra yang kejatuhan dedaunan kering.


"David percaya kalau ayah adalah laki-laki kuat, 'kan?"


"Iya, Yah. David percaya ayah kuat," jawabnya yakin.


"Kalau begitu David juga harus berusaha menjadi anak laki-laki yang kuat. Jaga ibu dan kakak untuk ayah," pinta Alvino kepada putra bungsunya.


David mengangguk mengerti setelah melihat ekspresi serius sang ayah. Bocah kecil itu lalu berlari menuju tempat di mana sang ibu dan kakaknya berada.


"Ibu," teriak David setelah berada di jarak yang cukup dekat, dan melihat sang ibu sudah sadar.


"David!"


David semakin mempercepat larinya agar segera sampai dan menyelamatkan kedua wanita tersayangnya yang dalam kondisi terikat di satu pohon besar. Ucapan sang ayah yang mempercayakan keselamatan ibu dan kakaknya padanya membuat David sangat bersemangat untuk segera membebaskan kedua keluarganya itu.


"Iya, Sayang."


Tangan kecilnya dengan susah payah berusaha melepaskan ikatan yang membelenggu ibunya dengan erat. Sedangkan Syifana masih setia menatap sang suami yang sepertinya akan berkelahi dengan kedua pria di depannya.


"Sudah terlepas, Bu!" pekik David setelah berhasil melepaskan ikatan tali di tubuh ibunya.


"Terima kasih, David. Tolong kamu lepaskan tali Kak Arin, Ibu akan membantu ayah," ucap Syifana yang langsung berlari mendekat ke arah sang suami.


"Kau sangat menginginkan kematianku, Gevan?"


"Tentu saja. Kau sudah menghilangkan nyawa saudaraku beberapa tahun yang lalu, dan dengan jahatnya kau tidak membiarkan keluarga mengebumikannya dengan layak. Sampai saat ini, kami tidak pernah melihat jasadnya kau sembunyikan di mana," jawab Gevano berapi-api.


"Aku tahu aku bersalah atas kematian Firman, dan aku menyesal atas perbuatanku di masa lalu."


"Penyesalanmu tidak akan pernah bisa menghidupkan kembali sepupuku. Sekarang aku meminta nyawamu sebagai gantinya!"

__ADS_1


"Cukup, Gevano! Atas dasar apa kau merasa pantas untuk mengambil nyawa seseorang? Kau hanya manusia, Gevan! Dandammu itu hanya akan menghancurkan diri kamu yang sebenarnya." Syifana menyela setelah berada di samping Alvino.


"Kamu bisa bicara seperti itu karena kamu tidak merasakan kehilangan karena perbuatan suamimu, Syifa! Sedangkan aku, aku kehilangan sepupuku yang dibunuh suamimu dengan keji."


"Sudah, Sayang. Kamu jangan ikut campur! Biar ini menjadi urusanku, lebih baik kamu bawa pergi anak-anak kita," ucap Alvino kepada istrinya.


"Tidak, Bang! Fana tidak akan meninggalkan Abang!"


"Keselamatan anak-anak lebih penting, Sayang. Aku mohon untuk kali ini saja, menurutlah! Sintia sudah memercayakan mereka pada kita, dan aku menyayangi kalian."


"Tidak, Bang!" Syifana tetap saja menolak.


"Mereka hanya berdua, Sayang. Aku pasti bisa menghadapi mereka. Sekarang lebih baik kamu pergi. Minta bantuan pada Andri!"


"Tapi, Bang," rengek Syifana yang mengkhawatirkan suaminya.


"Aku akan baik-baik saja jika kalian selamat." Alvino mendorong istrinya menjauh.


Meskipun dengan ragu-ragu, Syifana akhirnya mengikuti perintah Alvino. Dia berlari mendekati kedua anak angkatnya yang masih berada di tempat semula.


"David, ayo kita pergi! Kamu bantu ibu buka pintu mobil, yah!"


"Iya, Bu. Tapi ayah-"


"Ayah akan menyusul setelah urusan mereka selesai," jawab Syifana cepat.


Arina belum juga tersadar dari pingsannya membuat Syifana memapah putrinya yang sudah beranjak remaja itu. Sedangkan David berjalan di samping sang ibu yang susah payah memapah kakaknya.


Saat ketiga orang tersayang Alvino sedang berjalan menuju mobil yang dibawa albino, Felix berusaha mencegatnya. Beruntung Alvino dengan cepat melemparkan sebilah pisau lipat yang setia dia bawa kemana saja. Pisau itu hampir mengenai lengan Felix jika dia tidak cepat menghindar tadi.


"Jangan ganggu istri dan anakku!"


"Kurang ajar! Kau benar-benar sudah keterlaluan. Sekarang bersiaplah untuk lenyap dari dunia ini." Felix mengambil pisau yang tadi hampir mengenainya kemudian berlari untuk menyerang Alvino.


"Bang, Awas!" teriak Syifana saat melihat Gevano tengah membidikkan senjata ke arah laki-laki tercintanya itu.

__ADS_1


__ADS_2