Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Makanan dari siapa?


__ADS_3

Berbeda dengan Alvino yang menghabiskan waktu dengan membersihkan segalanya yang berhubungan dengan kejahatannya selama ini. Syifana justru masih belum bisa menerima kenyataan pahit yang dialaminya saat ini. Kehilangan dua pemilik hati sekaligus dalam satu waktu membuat perempuan itu merasa takdir begitu kejam padanya. 


Seperti sekarang ini, seorang perempuan tengah termenung di sebuah taman kecil yang terletak tidak jauh dari kamar rawatnya. Pandangannya lurus kedepan, akan tetapi tatapannya kosong. Jika hanya orang yang melintas akan mengira bahwa perempuan itu tengah memandangi air mancur di depannya. Namun, tidak dengan seseorang yang duduk di sampingnya. 


"Syifa!" Ara sudah beberapa kali menegur adik iparnya. 


Tidak mendapat respon dari Syifana, Ara mengelus lembut lengan adiknya. Perempuan berperut buncit itu sedikit banyak juga dapat merasakan kesedihan yang tengah dirasakan oleh si adik. 


Elusan lembut di lengan menarik kesadaran Syifa yang sejak tadi melamun. Banyak sekali yang di pikirkan hingga perempuan itu sepertinya lebih senang ketika berada di lamunannya. 


"Kak Ara, maaf. Syifa melamun lagi, yah?" tanyanya dengan lirih. 


"Tidak apa-apa, Syifa. Tapi saran kakak, kamu harus bisa mengontrol diri kamu. Jangan sampai nantinya kamu terjebak oleh khayalan kamu sendiri. Seburuk apapun takdir, akan terasa lebih bermakna ketika kita iklas menjalaninya." Ara menjeda ucapannya, tangannya dengan lembut menggenggam tangan sang adik. 


"Jangan berlari kearah yang menjerumuskan kita dalam sesal dimasa yang akan datang! Kamu harus mampu bangkit." Ara dengan sabar menasehati perempuan berusia 18 tahun yang sedang digempur oleh pahitnya takdir. 

__ADS_1


Syifana tersenyum kecut. Diapun sudah berusaha untuk berdamai dengan takdirnya, akan tetapi rasanya begitu sulit. Kehilangan sosok suami yang baru saja dia cintai, dan kehilangan janin yang baru saja tumbuh dirahimnya sekaligus. Rasanya seperti dunianya di porak-porandakan dalam sekejap mata. 


"Terima kasih, Kak Ara. Kakak yang selalu menemaniku disini, meski keadaan kakak masih mengandung dua janin. Itu pasti sangat melelahkan. Boleh tidak kalau Syifa mau pulang ke rumah ayah saja? Syifa sudah sangat bosan berada di rumah sakit." 


Wajah melas sang adik membuat Ara tidak tega bahkan untuk menolak permintaannya. Dengan terpaksa perempuan dengan dress putih itu mengangguk, mengiyakan permintaan sang adik yang memang terlihat sudah ingin keluar dari rumah sakit. 


"Kalau kamu merasa badan kamu sudah enakan, kita bisa pulang secepatnya. Kakak yang akan mengurus segalanya untuk kamu, asal kamu mau berjanji, kamu akan lebih fokus pada kesehatan kamu nanti." Ara mengajukan syarat untuk memastikan bahwa adiknya itu akan berusaha untuk menerima takdir dan melanjutkan kehidupannya. 


"Baik, Kak. Syifa akan fokus pada kesembuhan Syifa," ujarnya dengan senyum cerah. 


"Moon, kau ini masih saja arogan, yah!" ledek Ali kepada istrinya. 


Meski berada di kursi penumpang, akan tetapi Ali langsung kicep saat mendapat pelototan mata dari istrinya dari pantulan spion di atasnya. Melihat sang putra terimidasi oleh tatapan menantunya, Hendra tersenyum geli. 


"Dasar, suami takut istri," hina Hendra kepada Ali dengan suara sangat lirih. 

__ADS_1


"Ayah! Ali bukannya takut istri, tapi …." 


"Tapi tidak berani!" Hendra menyela dengan suara yang sengaja ditinggikan. 


"Tidak berani apa, Yah?" tanya Syifana polos. 


Sementara itu, Ara hanya diam. Namun, tatapannya masih saja mengintimidasi sang suami. Perempuan itu tidak suka jika suaminya itu bergurau tentang hal yang menyangkut sang adik. 


Padahal niatnya juga baik, dia hanya ingin selalu memberikan perhatian dan rasa nyaman untuk Syifana. Agar adiknya itu bisa bangkit dari keterpurukannya. 


"Bukan apa-apa, Syifa. Kamu apa tidak lapar?" tanya Ali mengalihkan pembicaraan. 


"Enggak, Bang. Tadikan Syifa sudah makan rendang daging, rasanya mirip sekali dengan masakan ibu. Itu yang bikin siapa, Kak?"


Ketiga orang yang ada di tempat itu saling tatap lalu menggeleng pelan. Mereka juga tidak tahu dari manakah makanan yang di makan oleh Syifa tadi pagi. Mereka hanya melihat wadahnya saja ketika Syifa sudah selesai menyantap makanan tersebut. 

__ADS_1


"Kok kalian diam? Itu makanan dari siapa?" tanya Syifana lagi saat tidak mendapat jawaban. 


__ADS_2