
Felix beruntung karena sebelum Andri menekan pelatuknya, pria itu sempat melirik ke arah kedua anak Sintia. Mereka terlihat ketakutan saat Andri memegang senjata api tersebut. Alhasil demi kepentingan mental dari kedua anak itu, Andri mengurungkan niatnya untuk menghabisi Felix.
"Bawa anak-anak itu pergi sekarang. Aku akan menyusul," perintah Andri kepada para anggotanya.
Mereka pun menurut tanpa bantahan. Kedua anak-anak itu di gendeng keluar dari rumah yang menjadi tempat kedua anak itu disekap. Setelah kepergian para anggota yang membawa kedua anak Sintia, Andri kembali memberikan tatapan horornya. Bibir sedikit tebal itu menunjukkan seringai menakutkan.
"Ma-u apa kamu?" tanya Felix ketakutan.
"Aku mau apa? Kau begitu sangat ingin tahu apa yang akan aku lakukan."
"Pergilah. Aku sudah menyerahkan kedua anakku padamu. Apa lagi yang kau inginkan?"
Andri tersenyum tipis akan tetapi tetap terlihat menakutkan. Felix berkali-kali melirik pistol yang masih berada di tangan Andri. Laki-laki congkak yang awalnya begitu angkuh dan banyak omong itu kini benar-benar merasa terdesak. Tidak akan ada satupun orang yang menolongnya dari harimau jadi-jadian di depannya ini.
"Aku juga tidak betah berlama-lama di tempat kumuh seperti ini. Kau benar-benar keterlaluan, Felix. Kau menyekap anak-anak kandungmu di tempat tidak layak seperti ini. Baiklah, aku akan pergi. Tapi sebelum itu, selamat berkenalan dengan timah panas ku," ujar Andri seraya menekan pelatuknya.
Peluru milik Andri kini bersarang di betis Felix bersaman dengan suara erangan kesakitan dari si pemilik kaki tersebut. Sebenarnya Andri sangat ingin menghabisi laki-laki tidak berguna itu. Tetapi, lagi-lagi dia teringat dengan pesan nyonya mudanya.
"Jangan pernah membunuh orang meskipun orang itu sudah sangat jahat pada kita. Biarkan takdir Tuhan yang membalas perbuatannya!" Kata-kata itu terngiang-ngiang di telinga Andri seperti jam Beker yang belum akan berhenti sebelum berhasil membangunkan pemiliknya.
Andri bergegas pergi dari tempat itu setelah memberikan sedikit pelajaran untuk laki-laki pengecut itu. Dia tidak ingin membuat kedua anak malang itu menunggunya terlalu lama.
__ADS_1
"Jalan!" perintah Andri setelah masuk ke mobil yang juga ditumpangi oleh kedua anak Sintia.
Kedua anak Sintia itu masih sedikit takut pada Andri. Mereka mengira Andri juga golongan orang jahat yang akan menyakiti mereka juga. Hal itu disadari oleh pria kepercayaan Alvino tersebut.
"Jangan takut, Om bukan orang jahat, kok!"
"Tapi … kenapa Om memegang pistol jika Om bukan orang jahat?" tanya Alina memberanikan diri.
Anak perempuan berusia 7 tahun itu mendekap erat tubuh sang adik. Seolah ingin melindungi adiknya itu dari siapapun yang akan menyakiti mereka. Alina masih sangat ingat bagaimana sang ayah menghajar mereka tanpa ampun.
Andri tersenyum canggung saat mendapat pertanyaan itu dari seorang anak kecil. Pasti anak sepolos itu akan mengartikan seseorang yang memegang senjata adalah orang-orang jahat, seperti ayah mereka.
"Pistol tadi, yah? Itu hanya pistol mainan, Sayang." Andri berniat membelai kepala anak kecil perempuan itu. Namun, gadis kecil itu dengan sigap menghindar.
"Kalian tenang saja. Om bukan orang jahat. Om akan bawa kalian bertemu dengan mama kalian," ujar Andri yang seketika membuat wajah kedua anak itu berbinar.
"Beneran, Om?" tanya anak perempuan itu memastikan.
"Iya," jawab Andri singkat.
Setibanya mereka di halaman rumah sakit Alina sedikit terlihat heran. Anak perempuan yang masih mendekap adiknya dengan erat melemparkan tatapan bingung kepada Laki-laki dewasa di sampingnya.
__ADS_1
Om, kenapa kita di rumah sakit?" tanya gadis kecil itu.
"Menemui mama kalian," balas Andri yang langsung membuat Alina terlihat cemas.
"Mama di rumah sakit?"
"Kita turun dulu, ya. Nanti om jelaskan," timpal Andri ketika mobil sudah berhenti.
Mereka pun turun bersamaan. Alina menggandeng tangan sang adik ketika mereka berjalan masuk ke gedung rumah sakit. Beberapa kali anak laki-laki yang masih sangat kecil itu merengek kepada kakaknya.
"Mama di mana, Kak?" tanyanya kepada sang kakak.
"David tenang, ya. Kita pasti akan bertemu mama. Jangan takut, ada kakak di sini," ujarnya menenangkan sang adik.
Andri menatap kedua anak malang itu dengan perasaan tidak menentu. Kasihan sekali mereka, di usia yang masih kecil mereka harus mengalami kejadian menakutkan yang pelakunya adalah ayah kandung mereka sendiri.
"Om, mama baik-baik saja, 'kan?"
Pertanyaan itu seketika membuat Andri gelagapan untuk menjawab. Dia belum tahu kondisi dari Sintia saat ini. Terakhir sebelum dia berangkat untuk menjemput kedua anak ini, wanita itu masih dalam keadaan kritis.
"Om. Mama sedang apa di rumah sakit? Bukan mama yang sakit, 'kan?"
__ADS_1