Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Melepaskan dia


__ADS_3

Semua orang yang berada di tempat itu tentu saja terkejut dengan ucapan seseorang pria paruh baya yang tidak lain adalah ayah kandung dari Syifana. Mereka tidak menyangka bahwa pria itu akan memisahkan Syifana dengan suaminya. 


Begitu juga dengan Alvino, pria itu terperangah tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengar. 


"Saya kecewa dengan apa yang saya ketahui saat ini. Kamu, satu-satunya pria yang di percaya oleh istri saya untuk menjaga putri kesayangannya. Namun, ternyata seperti ini kamu memperlakukan putri kebanggaan kami. Saya tidak menyangka kamu sejahat itu, Tuan Alvin!" 


"Ma-af, Pa-h. Saya sadar kalau saya salah, tapi tolong jangan pisahkan saya dengan istri saya. Saya mencintainya," mohon Alvino, pria itu bahkan sampai bersimpuh di kaki si ayah mertua.


Hendra mundur beberapa langkah karena risig dengan apa yang di lakukan menantunya. "Kamu bilang cinta? Apakah seperti ini cara kamu mencintai putriku? Jika iya, saya akan mempercepat perceraian kalian." 


Ketika mendengar kata yang terucap dari besannya itu, Seren merasa kasihan dengan nasib sang putra yang begitu rumit ini. Namun, diapun tidak dapat membela putranya itu, semua yang di lakukan Alvino kepada Syifana memang sudah terlalu kelewat batas. 


"Sudahlah, Al, lebih baik kamu meminta maaf pada Syifa. Lepaskan dan iklaskan dia untuk kembali kepada ayahnya," tutur Seren dengan lembut menasehati putranya. 


Sang ibu berusaha membantu Alvino untuk bangkit, akan tetapi tubuhnya bersikeras untuk tetap bersimpuh di kaki mertuanya sampai pria paruh baya itu mau memaafkannya. 

__ADS_1


"Al, jangan seperti ini. Semua sudah terjadi, terimalah takdir yang di gariskan untukmu." Seren menarik Alvino dengan sekuat tenaga. 


"Baiklah, saya akan terima ini. Tapi izinkan saya untuk bertemu dengan Fana lebih dulu, berikan kami waktu sebentar saja sebelum saya melepaskannya." Alvino mengajukan permintaan kepada sang mertua. 


"Tidak! Saya tidak akan pernah membiarkan kamu bertemu dengan Syifana." Hendra menolak mentah-mentah permintaan yang di ajukan oleh menantunya. 


Ara dan Ali saling pandang, mereka sebenarnya merasa kasihan pada Alvino. Namun, apa yang sudah di perbuat pria itu memang tidak bisa dibenarkan. 


"Ayah, biarkan dia menemui Syifa untuk terakhir kalinya. Ali yang akan memastikan bahwa dia tidak akan pernah lagi menyakiti adikku," sela Ali yang akhirnya membantu adik iparnya itu. 


"Tapi, Li. Ayah khawatir dia akan menyakiti adikmu lagi," ujarnya belum juga luluh. 


Pada akhirnya Ara mendekati sang mertua. Perempuan itu menyentuh lengan ayah mertuanya dengan begitu lembut. 


"Ayah percaya sama Ara, 'kan? Ara tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti Syifa lagi," ucap Ara di sertai anggukan pelan. 

__ADS_1


Perempuan cantik dengan perut buncitnya itu sedang berusaha meluluhkan hati mertuanya agar memberikan izin pada Alvino menemui Syifana. 


"Ara akan ikut ke dalam untuk memastikan Syifana akan baik-baik saja," lanjut Ara tanpa menyerah. 


Sejahat apapun Alvino, pria itu pernah menjadi penolongnya ketika menghadapi Rico Maladeva, ayah dari pria itu sendiri. Ara tidak mungkin melupakan jasa Alvino terhadap kehidupannya. 


Hendra merasa bimbang untuk menolak atau memberi izin. Lubuk hatinya yang paling dalam merasa terluka karena perlakuan Alvino kepada putri yang dia percayakan untuk menjadi istri dari pria tersebut. Namun, anak serta menantunya justru menyuruhnya untuk memberikan kesempatan pada pria jahat di depannya. 


"Baiklah! Saya izinkan kamu untuk menemui Syifa, tapi saya harus ikut ke dalam." 


"Ayah." Ali menggelengkan kepala untuk melarang sang ayah. 


"Tidak apa-apa, Kak. Biarkan ayah menyaksikan sendiri ketika saya mengakhiri hubungan kami," ujar Alvino mengagetkan semua orang yang berada di tempat itu. 


"Kamu menyerah, Kak Al?" tanya Ara tidak percaya. 

__ADS_1


"Saya sadar, saya bukan pria yang baik untuk Syifa, Ara. Saya akan mencoba melepaskan dia agar dia tidak lagi hidup bersama orang jahat seperti saya." 


__ADS_2