
Semenjak kehadiran dua malaikat kecil di kehidupan rumah tangga Ara dan Ali, Syifana sering kali melamun. Alvino paham, istrinya itu pasti memikirkan tentang keturunan mereka. Jika saat itu tidak mengalami keguguran, mungkin saat ini perut Syifana sudah besar sekarang.
"Fana," panggil Alvino seraya mendudukkan diri di samping Syifana.
Laki-laki itu menyentuh bahu sang istri untuk menyadarkan wanita itu dari lamunannya. Usaha Alvino berhasil, terbukti Syifana sedikit terlonjak lalu memasang ekspresi bingung.
"Ke-napa, Bang?" tanyanya gugup.
"Kamu pasti memikirkan tentang anak kita yang sudah pergi lebih dulu, yah?" tebak Alvino.
Wanita muda itu tersenyum kecut dengan anggukan kecil kepalanya. "Kalau Fana tidak ceroboh, pasti dia masih ada," ujarnya dengan tatapan kosong.
"Jangan dipikirkan, Sayang. Dia sudah bahagia di surga bersama Neneknya. Bukankah kamu ingin Ibu memiliki teman di sana?"
Syifana menoleh ke samping membuat mereka saling tatap. Alvino mengulas senyum lebar agar istrinya itu tidak terus-terusan larut dalam kesedihan.
"Tapi, Abang pasti juga ingin punya anak, 'kan?" tanya Syifana menahan sesak di dada.
__ADS_1
Alvino mengulurkan tangannya meraih jemari istrinya dan menggenggamnya erat. "Ada atau tidak adanya anak di antara kita, aku pasti akan selalu bersama kamu."
"Bang Vino enggak keberatan kalau kita hanya hidup berdua selamanya?" tanya Syifa lagi.
"Tidak masalah, Fana. Aku berjanji akan mencintai kamu selamanya," jawab Alvino tanpa ragu.
"Terima kasih," ujar Syifana yang langsung memeluk tubuh kekar suaminya.
Laki-laki itu membalas pelukan sang istri tidak kalah erat. Mereka saling menguatkan satu sama lain atas takdir yang sudah di gariskan oleh Tuhan.
Syifana dengan cepat mengangguk setuju. Dia pun sudah sangat merindukan kedua keponakan tercintanya itu. Sudah beberapa hari dia tidak mengunjungi bayi kembar yang sudah mulai aktif itu.
Alvino dengan senang hati mengantarkan sang istri menuju rumah Ara dan Ali. Mereka memang sudah pindah ke rumah pribadinya setelah melahirkan kedua bayi kembar tersebut.
"Mereka pasti akan membuat perhitungan padaku, Bang. Biasanya kalau aku tidak datang berhari-hari, mereka pasti akan berebut mengerjai aku," keluh Syifana tetapi dengan mata berbinar.
"Kamu ini, mengeluh tentang kenakalan mereka, tapi tidak mau di ajak pulang kalau sudah bertemu si kembar itu. Aku sampai pernah tidur sendirian karena kamu menolak pulang ke mansion," cibir Alvino dengan bibir terlipat.
__ADS_1
Syifana tertawa geli saat melihat sang suami bersikap selayaknya anak kecil yang sedang merajuk. Wanita itu dengan berani sedikit memegang bibir tebal itu seakan ingin mengikatnya menggunakan tali.
"Ingat umur, Bang. Sudah tua, masih berlaku seperti bayi saja," ujar Syifana masih dengan tawanya.
"Gara-gara kamu melamun sepanjang hari, aku belum mendapatkan jatahku sebagai bayi besar. Pokoknya nanti malam kamu harus memberikannya berlipat ganda!" seru Alvino tanpa rasa malu, laki-laki itu bahkan masih santai memegang setir mobil.
Tawa Syifana seketika terhenti, berganti dengan ekspresi wajah kesal. "Bang Vino! Otak kamu ini sekarang hanya berisi tentang itu-itu saja! Tidak ada yang lain."
"Memangnya mau apa lagi? Di kantor aku sudah dipusingkan dengan berkas-berkas si*lan itu. Terus di markas baru juga menertibkan para anggota yang masih berniat melenceng. Ya di rumah aku ingin menjadi bayi manja kamu, lah!"
"Pikiran kamu ini semakin melantur ke mana-mana, Kak. Aku benar-benar kesal," ujar Syifana dengan bibir mencebik.
Suasana hening setelah mereka saling diam. Bagaikan devaju seperti saat awal-awal pernikahan mereka yang terasa hambar dan mencekam. Hingga sebuah perkataan Alvino sedikit membuat suasana itu menghilang seketika.
"Aku sudah mendaftarkan kamu ke universitas yang kamu mau, Fana. Mulai Minggu depan kamu bisa mulai beraktivitas di kampus," ucap Alvino yang tentu saja membuat Syifana menatap tidak percaya sang suami.
"Bang Vino serius?"
__ADS_1