
Berita terkait musibah yang dialami oleh Syifana kini terdengar oleh kakak dari Ibu Salma yakni Bude Nur. Wanita paruh baya itu akhirnya jauh-jauh dari Pekalongan langsung bertandang ke Jakarta.
"Gevan, terima kasih, yah. Kamu mau repot-repot mengantarkan bude ke Jakarta," ujar bude penuh rasa syukur.
"Tidak apa-apa, Bude. Gevan tidak merasa di repotkan. Lagi pula Gevan juga ingin menjenguk Syifa," jawab pemuda itu.
"Kamu memang anak baik, Gevan. Sayangnya kebaikan kamu tidak bisa meluluhkan hati ponakan bude," sesal wanita paruh baya itu.
Gevano tersenyum kecut. "Mungkin belum jodohnya saja, Bude. In Sya Allah nanti bakal dapat jodoh terbaik dari Tuhan langsung," jawab Gevan bijaksana.
"Em, Gevan. Boleh nanti bude minta tolong lagi sama kamu?" tanya Bude Nur sedikit merasa sungkan, tetapi mau minta tolong siapa lagi jika bukan pemuda di sampingnya itu.
Gevano yang awalnya masih fokus pada jalan di depannya kini menoleh sejenak. "Kalau Gevan bisa bantu, pasti Gevan bantu, Bude."
"Kalau kamu enggak keberatan, nanti tolong hibur Syifa, yah! Kasihan dia," pinta Bude Nur.
"In sya Allah, Bude. Gevan akan berusaha sebaik mungkin untuk meringankan kesedihan Syifa."
Pada siang harinya Bude Nur yang diantar oleh Gevano sampai di rumah keluarga Syifa. Mereka disambut dengan baik oleh Ali, Ara dan Hendra sebagai pemilik rumah besar itu.
__ADS_1
Tatapan mata Ali masih tertuju pada pemuda yang mengantarkan budenya. Kakak kandung Syifa itu masih tidak suka jika ada pria asing yang berusaha memberi perhatian untuk adiknya. Terlebih lagi status adiknya masih sah sebagai istri orang.
"Bude kesini tidak bilang-bilang, tau gitu Ali jemput."
"Ara sedang hamil, Li. Kamu juga pasti sibuk ngurusin kantor mertua kamu, 'kan?"
"Iya, sih, tapi Ali masih bisa sempatkan diri buat jemput bude, kok!"
"Tidak apa-apa, lagi pula bude sudah sampai disini dengan selamat. Gevano juga pengen jenguk Syifa katanya," ujar Bude Nur.
"Ngapain pengen jenguk istri orang? Enggak takut sama suaminya?" sindir Ali masih tetap menatap tajam pemuda yang duduk di samping sang bude.
"Yah, ayah tidak bisa seperti itu. Seburuk apapun Aldev, dia tetap masih sah suami Syifana. Ayah tidak bisa memaksa mereka untuk berpisah!" Melihat kesedihan adiknya membuat Ali tidak tega, dan akhirnya selalu membela adik iparnya itu.
"Kau semakin berani menentangku, Ali. Sudah merasa hebat kamu!" bentak si ayah dengan penuh amarah.
"Sun, jangan mendebat ayah. Beliau hanya belum bisa menerima kenyataan yang terjadi pada Syifa. Kamu jangan ikut-ikutan emosi," bisik Ara menasehati suaminya.
"Hendra, jangan membentak Ali seperti itu. Kalian juga tidak malu bertengkar di depan tamu?"
__ADS_1
Gevano yang merasa hanya orang lain sebenarnya merasa risih karena mendengar perdebatan antara ayah dan anak itu. Namun, dia benar-benar ingin bertemu dan memastikan bahwa Syifana dalam keadaan baik-baik saja setelah mendapatkan musibah itu.
"Mbak, tolong jangan ikut campur. Ali sepertinya sudah terkena racun dari mantan suami Syifa. Makanya dia berani menentangku!"
"Suami Syifa, Yah. Mereka belum bercerai, dan Ali tidak akan pernah membiarkan adikku menyandang status janda!" Ali tetap saja mendebat sang ayah.
"Sun! Kamu jangan keterlaluan, demi membela kak Al, kamu sampai menentang ayah!" Ara menegur Ali yang belum juga mengalah.
Ali menoleh pada Ara. "Aku tidak sedang membela Aldev! Aku sedang memperjuangkan kebahagiaan adikku. Kalau kalian tetap bersikeras dengan pemikiran kalian, jangan pernah menyesal jika suatu saat Syifa justru membenci kalian." Ali menjeda ucapannya.
"Apa seorang suami yang pernah berlaku tidak baik pada istrinya tidak memiliki kesempatan untuk berubah? Jika iya, kenapa kamu memberiku kesempatan, Moon? Apa yang membuatmu bertahan pada pria brengsek sepertiku?" tanyanya dengan penuh penyesalan.
"Yang kamu lakukan dan yang dilakukan Kak Al jauh berbeda, Sun."
"Apa bedanya? Bukankah aku juga sama, aku bahkan menyakitimu sebelum kita resmi menjadi suami istri."
"Sudah! Kalian ini kenapa? Tidak malu membuka aib di depan orang lain?" tegur si bude yang memang tidak tahu menahu dengan masa lalu sang keponakan.
"Jika ingin menyalahkan, salahkan saja aku. Syifana mengalami ini semua karena balasan atas perbuatanku dulu. Jangan hukum Syifana atas apa yang terjadi padanya sekarang!" bentak Ali tanpa memperdulikan teguran wanita paruh baya yang sudah dia anggap sebagai ibu kandungnya itu.
__ADS_1
Ali beranjak pergi dari tempat itu, rasa bersalahnya pada sang adik semakin besar. Dia tahu bahwa Syifana mengalami semua ini karena suami adiknya itu melampiaskan dendamnya pada adik satu-satunya yang dimiliki.