Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Maafkan aku


__ADS_3

Alvino kembali ke mansion besarnya seorang diri, dia gagal membawa pulang istrinya. Ancama sang ibu membuatnya mengalah, bukan karena takut jika wanita itu akan membun*hanya. Namun karena takut jika wanita itu justru jatuh sakit karena pengakuannya tentang penyiksaan yang dia lakukan kepada sang istri.


Pria dewasa itu melangkah menaiki anak tangga dengan langkah besar, ketika sudah berada di lantai 2 tepat di depan kamar yang dia berikan kepada istrinya itu. Alvino menghentikan langkah, menatap kamar itu dengan seribu penyesalan yang kini memenuhi relung hatinya.


Awalnya dia menikahi perempuan muda itu karena ingin balas dendam, akan tetapi ketika dia sudah melakukan hal itu, nyatanya rasa sakitnya tidak kunjung hilang. Justru dia merasa lebih sakit lagi ketika melihat bekas-bekas penyiksaan yang dia lakukan di tubuh sang istri.


Apa lagi saat mendengar sendiri sang istri justru membelanya ketika di introgasi oleh Mama Seren. Padahal seharusnya istrinya itu bisa mengadu tentang apa saja yang sudah dia lakukan. Namun, itu tidak di lakukan oleh istri kecilnya.


Penyesalan Alvino semakin dalam ketika tanpa sengaja melihat satu bingkai foto yang tergeletak di atas nakas. Pria itu masuk ke dalam kamar kecil itu untuk melihat foto apa yang ada di sana. Benar saja, cairan bening kali ini tidak bisa dia cegah.


Sebuah potret foto pernikahan keduanya yang hanya di lakukan di dalam ruangan IGD rumah sakit. Pernikahan yang jauh dari kata bahagia yang dia berikan kepada perempuan itu, bahkan setelah memboyong sang istri untuk tingga bersama. Bukan rumah yang dia berikan, melainkan neraka dunia. Bukan rumah tangga yang dia jalani, melainkan rumah duka, dan bukan kebahagiaan yang dia berikan, melainkan kesakitan yang tidak berujung.


"Maaf, Fana. Maafkan aku," ujarnya dengan penyesalan yang begitu dalam.

__ADS_1


Pria itu memutuskan membawa bingkai foto itu untuk dia simpan di kamar utama. Entah kenapa dia sangat merindukan sifat bar-bar istrinya sebelum menikah dengannya. Perempuan itu terlihat sangat berani melawannya, berbeda dengan ketika sudah menjadi istrinya. Perempuan itu bahkan pasrah ketika dia menghajar tubuh kecilnya.


Saat sudah berada di kamar, Alvino langsung menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Tanpa waktu lama dia langsung memejamkan mata, terlelap di dalam mimpi yang entah indah atau buruk.


"Maafin Fana, Bang! Maaf, jangan sakiti Fana," teriakan itu terdengar begitu pilu.


"Kamu jahat, Vino, kamu menikahi anakku hanya untuk menyiksanya!" seru perempuan yang tidak terlihat sosoknya.


Dia berputar, mencoba mencari sumber suara. Akan tetapi sama sekali tidak menemukan apapun kecuali suara yang semakin membuat dirinya merasa bersalah.


"Fana, kamu dimana, Maafkan aku, Fana! Plis, pulanglah! Aku merindukan kamu," teriak Alvino dengan suara lantang.


"Tuan, bangun! Tuan Alvino!" seru suara yang tidak asing di telinga pria itu, disusul dengan terguncangnya tubuhnya.

__ADS_1


Suara itu kini mendominasi, bahkan tubuhnya terus bergetar hebat. Alvino langsung membuka mata, pria itu bangun dari tidurnya. Dengan nafas yang ngos-ngosan dan wajah yang sudah di penuhi peluh.


"Anda kenapa, Tuan? Mimpi buruk?" tanya orang kepercayaan Alvino.


Sementara Alvino hanya diam mematung, pria itu belum dapat mencerna apa yang saat ini terjadi. Ketika sadar, pria itu langsung beranjak. Andri menahan pria itu dengan mencekal pergelangan tangannya.


"Anda mau kemana?" tanya pria itu lagi.


"Aku mau menyusul istriku!" serunya menyentak kasar tangan Andri.


"Memangnya Nona dimana?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2