Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Pergi tanpa pamit


__ADS_3

Syifana terdiam dengan pipi yang memerah, gadis itu masih belum percaya dengan pengakuan laki-laki dewasa yang baru di kenalnya beberapa hari yang lalu.


"Kamu juga merasakan hal yang sama, 'kan?" tanya Vino mencari kepastian.


Syifana mengangguk dengan senyum merekah di bibirnya. Akan tetapi hal itu hanya terjadi sebentar saja, detik berikutnya gadis remaja itu kembali menundukkan wajah.


"Kalau kamu juga suka sama aku, kenapa kamu seperti sedih begitu?"


"Syifana belum tahu asal usul kamu, Bang."


"Suatu saat nanti, Abang pasti akan kasih tahu kamu tentang semuanya." Vino mengangkat tangannya lalu mengelus kepala gadis remaja itu.


Laki-laki dewasa itu kini beranjak dari duduknya. Melangkah meninggalkan Syifana sendirian di tempat itu. Sedangkan Syifana hanya menatap kepergian laki-laki yang baru saja menyatakan perasaannya itu. Dia merasa aneh karena Vino bahkan pergi tanpa berpamitan padanya.


Ketika pandangannya masih fokus pada laki-laki itu hingga hampir tidak terlihat. Tiba-tiba ada yang menepuk bahu gadis itu. Syifana menoleh dan mendapati sang kakak ipar tengah berdiri dengan memegang dua botol minuman kemasan.


"Kamu lihatin apa, Syif?" tanya Ara seraya duduk di samping Syifana.


Gadis remaja itu gelagapan, apa yang harus dia katakan pada kakak iparnya itu. Untuk terus terang dengan apa yang dia rasakan, sepertinya belum saatnya.


"B–bukan apa-apa, Kak." Syifana duduk di samping Ara.


"Kenapa aku tiba-tiba mencium wangi parfum Kak Al?" batin Ara.


Wanita cantik dengan bentuk tubuh yang sudah berbeda dari dulu itu menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin laki-laki itu berada di tempat itu. Setahu Ara, laki-laki yang terobsesi dengan dirinya itu tengah berada di LA.


"Kakak kenapa?" tanya Syifana ketika melihat kakak iparnya itu terus menggelengkan kepala.


"Ah, enggak apa-apa, Syif. Ini minum dulu," ucap Ara mengalihkan topik pembicaraan.


Gadis itu menerima uluran botol air mineral yang di berikan oleh kakak iparnya. Dengan segera membuka tutup botol dan meneguk minuman yang terlihat sangat menyegarkan itu.

__ADS_1


"Syif, Abang sudah telfon kakak. Tadi bilang kita untuk segera masuk, Ibu sudah sadar."


Raut wajah Syifana langsung terlihat bahagia ketika mendapat kabar bahwa sang ibu sudah sadarkan diri. Dia dengan tergesa berdiri dari duduknya, hampir saja berlari masuk ke dalam gedung rumah sakit jika saja tidak ingat bahwa kakak iparnya itu tengah dalam keadaan mengandung.


Gadis remaja itu akhirnya membantu kakak iparnya untuk berdiri, menggandeng wanita yang sudah terlihat susah berjalan cepat. Perut yang semakin membesar itu menghambat setiap aktifitasnya, walaupun begitu dia sama sekali tidak pernah mengeluh dengan apa yang sekarang terjadi padanya. Bahkan wanita berusia 25 tahun itu sangat menikmati perannya sebagai ibu hamil, apalagi di rahimnya itu bukan hanya ada satu janin.


Kedua wanita itu berjalan dengan perlahan, Syifana begitu sabar membantu sang kakak untuk berjalan. Walau sebenarnya dia sangat ingin cepat sampai di ruangan ibunya. Dia ingin segera meminta maaf dan bersimpuh di kaki sang ibu.


"Kalau kamu mau duluan, tidak apa-apa, Syifa."


"Enggak, Kak. Syifa mau bantu dan jaga kakak juga baby A-A," sela Syifana dengan cepat.


"Baiklah,"


Kini kedua wanita itu sudah sampai di ruangan IGD. Terlihat kedua pria berbeda usia itu tengah duduk di kursi tunggu. Kedua wanita itu segera menghampiri kedua pria itu.


"Ayah, kenapa di luar? Tidak menjaga ibu di dalam?" tanya Syifana yang sudah kembali ceria.


"Ibu hanya ingin bertemu kamu, Syifa!"


Syifana masuk ke dalam ruangan yang dominan warna putih. Akan tetapi untuk masuk ke dalam sana, dia di haruskan memakai pakaian khusus.


Gadis itu melangkah dengan perasaan awas, dia begitu takut hal buruk yang terjadi pada ibu kandungnya. Saat memasuki kamar itu, dia langsung melihat sang ibu yang tergeletak di ranjang pasien dengan selang infus dan alat bantu pernafasan.


Syifana berlari mendekati sang ibu, menggenggam tangan yang tertancap jarum infus dengan hati-hati. Lagi-lagi air mata tak dapat dia tahan, melihat sang ibu dalam keadaan seperti itu. Air mata tanpa sengaja jatuh ke tangan ibunya membuat wanita paruh baya itu tersadar.


Mata sayunya kini perlahan terbuka, senyuman tipis tercetak di bibir pucat pasi yang tertutup alat bantu pernafasan itu. Melihat anak gadisnya sudah pulang membuatnya lega.


"Ibu," panggil Syifana lirih.


Wanita paruh baya itu berusaha untuk bangun dari posisi berbaringnya. Gadis remaja itu membantu sang ibu untuk duduk dengan bersandarkan bantal. Setelah terduduk, wanita paruh baya itu justru melepaskan alat bantu pernafasan yang menempel di hidung sampai mulutnya.

__ADS_1


"Jangan di lepas, Bu." Syifana berusaha menahan kegiatan sang ibu.


"Peluk ibu, Sayang," ujarnya dengan suara lirih.


Syifana masuk ke dalam dekapan hangat ibunya. Ibu yang biasanya selalu cerewet padanya itu, kini terlihat sangat lemah. Gadis itu menyandarkan wajahnya di ceruk leher sang ibu.


"Kamu baik-baik saja, Sayang?" tanya wanita paruh baya itu setelah melepaskan pelukannya.


Syifana mengangguk cepat. "Syifana sehat, Bu. Sangat sehat, ibu juga harus sehat!"


"Ibu khawatir, Sayang. Jangan pernah lakukan hal ini lagi, ya!" ujar Ibu Salma memberi peringatan.


Syifana mengangguk, dia juga tidak ingin melakukan hal bodoh lagi yang mengakibatkan kesehatan sang ibu terganggu.


"Syifa janji tidak akan nakal lagi, Bu." Syifana kembali memeluk sang ibu.


Setelah melepaskan pelukannya, Syifana meminta ibunya untuk kembali memakai alat bantu pernafasannya. Dia tidak ingin jika hal itu bisa memperburuk keadaan ibunya.


Wanita paruh baya itu menuruti ucapan anak gadis satu-satunya itu. Beliau memakai alat bantu pernafasan itu seperti semula lalu berbaring di ranjang kesakitan.


"Ibu istirahat! Syifana tidak ingin mendengar ibu drop lagi."


Beberapa waktu menemani sang ibu di ruangan itu hingga wanita paruh baya itu tertidur, Syifana dengan perlahan melepaskan kaitan tangan keduanya lalu beranjak untuk keluar dari ruangan itu agar tidak mengganggu istirahat ibunya.


Syifana membuka melepaskan pakaian khusus yang tadi di pakainya, setelah itu dia membuka pintu dan melangkah keluar dari IGD. Gadis itu dengan lesu menghampiri keluarganya.


Namun ingatan gadis itu kembali pada kejadian di taman tadi, saat Vino mengucapkan bahwa Bude Nur yang mengantarkan dia ketempat ini. Akan tetapi pandangannya berkeliling tidak menemukan wanita paruh baya yang merupakan kakak kandung dari ibunya.


"Lho, Bang, Bude mana?" tanya Syifana kepada kakaknya.


Ali menoleh dan merasa kebingungan. Adiknya itu tiba-tiba justru bertanya tentang orang yang tidak ada di tempat itu. Bukankah dia justru yang sudah bertemu dengan bude nur di kota asal kelahiran sang ibu?

__ADS_1


"Kamu ngelindur, Syifa?"


Bersambung...


__ADS_2