
Begitu mendapat perintah dari Alvino, Andri segera meminya semua pelayan yang bertugas pada hari itu untuk berkumpul di kamar utama Tuan Mudanya.
Semua pelayan yang bertugas segera berlari menuju kamar Alvino. Mereka tidak tahu untuk apa mereka di kumpulkan di kamar tuan mudanya. Biasanya mereka hanya akan berkumpul dan bertemu dengan tuan muda bersama ketika ada kesalahan yang di lakukan oleh salah satu pelayan yang bertugas.
Mereka mencoba berpikir dan mengingat apakah di antara mereka ada yang melakukan kesalahan sehingga membuat Tuan Mudanya murka. Namun, mereka sama sekali tidak merasa melakukan apapun.
Dengan di pimpin oleh Andri, semua pelayan berbaris dengan rapi di dalam kamar. Mereka menundukkan kepala ketika sang tuan muda menatap mereka dengan tatapan tajamnya.
"Kalian tahu kenapa aku mengumpulkan semuanya disini?" tanya Alvino yang duduk di ranjang yang masih berantakan.
Para pelayan menggelengkan kepalanya serentak. Mereka sama sekali tidak tahu untuk apa mereka di kumpulkan di tempat itu.
Alvino mendengus kesal. Pria itu bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju lemari besarnya. Membuka semua lemari itu hingga semua pelayan memandang kesana. Lemari itu sudah dalam keadaan berantakan.
"Kalian tahu, kemeja berwarna merah kesayanganku?" tanya Alvino masih berdiri di dengan bersandar di ujung lemari itu.
Semua pelayan mengangguk, siapa yang tidak tahu dengan barang kesayangan sang tuan muda. Mungkin jika orang yang belum tahu, akan menganggapnya biasa. Namun, kemeja berwarna merah itu adalah hadiah pemberian dari wanita yang di sukai oleh seorang Alvino Maladeva.
__ADS_1
"Lalu, dimana kemeja itu? Aku sudah mencarinya di seluruh lemari, tetapi tidak menemukan keberadaannya!" seru Alvino menyilangkan tangannya di dada.
Semua pelayan itu masih terdiam dengan pandangan menunduk. Mereka takut melihat tuan mudanya dalam keadaan sedang emosi. Jika biasanya pria itu akan lebih sering diam, berbeda ketika pria itu sedang dalam amarahnya. Pria itu akan menjadi pria yang banyak bicara, bahkan berani mengangkat tangannya untuk memberi pelajaran kepada mereka yang melakukan kesalahan.
"Kenapa kalian semua diam!" bentak Alvino yang kini sudah hilang kesabaran.
"Aku perintahkan kalian untuk mencari kemeja itu sampai dapat! Aku beri waktu 10 menit. Kalau sampai tidak ketemu, silahkan kalian keluar dari mansionku!" ancam Alvino yang kini melenggang keluar dari kamarnya.
Pria itu memilih untuk pergi ke dapur, menikmati secangkir kopi hitam untuk meredakan emosinya. Padahal hari ini, dia ada meeting penting dengan perusahaan yang akan bergabung dengan perusahaan miliknya, akan tetapi sebagai pemimpin dia memang sering berlaku seenaknya.
Andri mengikuti tuan mudanya yang kini keluar dari kamar, tetapi sebelum itu dia sudah memastikan bahwa semua pelayan akan melakukan tugasnya dengan benar. Dia tidak mau ada lagi kesalahan yang akan membuat mood tuan mudanya semakin buruk.
Ketika semua pelayan tengah sibuk mencari barang kesayangan sang tuan muda, Syifana yang baru saja bangun merasa penasaran karena beberapa pelayan yang lalu lalang melewati kamarnya.
Syifana memutuskan untuk menghentikan salah satu pelayan yang sedang melintas. Dia penasaran dengan apa yang di lakukan oleh mereka sampai menimbulkan kehebohan.
"Maaf, Bi, kalian sedang apa? Kenapa pagi-pagi sudah ribut?" tanya Syifana penasaran.
__ADS_1
Pelayan yang terpaksa berhenti, mau tidak mau mengatakan pada istri dari Tuan mudanya itu. "Kami sedang mencari kemeja kesayangan tuan muda, Nona," jawab pelayan itu dengan gelisah.
Perempuan itu sedikit kebingungan, hanya karena sebuah kemeja dan membuat kegaduhan di pagi hari. Apakah suaminya itu seaneh itu?
"Memangnya kemeja seperti apa yang kalian cari?"
"Kemeja berwarna merah, kemeja itu adalah kemeja kesayangan Tuan Muda, Nona, bahkan Tuan Muda mengancam akan memecat kami semua jika kemeja itu tidak di temukan."
Syifana langsung tegang, perempuan itu ingat betul dengan kemeja yang dia ambil di lemari suaminya, semalam. Apakah kemeja itu yang sedang menjadi bahan keributan hari ini?
"Nona," tegur pelayan itu ketika Syifana justru diam bahkan seperti orang yang sedang melamun.
Perempuan itu terkejut dan langsung berlari masuk ke dalam kamarnya. Mengambil kemeja yang semalam dia gunakan di keranjang baju kotor, dia segera menunjukkan kemeja itu pada pelayan yang masih menunggunya di depan pintu.
"Bi, apakah kemeja ini yang di maksud?" tanya Syifana dengan membawa sebuah kemeja berwarna merah di tangannya.
"Bagaimana bisa kemejaku ada di tanganmu!"
__ADS_1
Bersambung...