
Sudah hampir satu minggu Syifana hilang di culik oleh seseorang yang sampai detik ini berhasil menghilangkan jejak. Segala upaya sudah di lakukan oleh Alvino agar dapat menemukan setitik harapan untuk segera menemukan sang istri. Setidaknya ada satu jejak yang dapat membantunya untuk mencari keberadaan istrinya yang menghilang saat pergi bersama ibu kandung pria tersebut.
Selama itu Alvino sering uring-uringan, pria itu bahkan sampai tidak pernah mengurus dirinya sendiri. Wajah tampan yang biasanya terlihat bercahaya kini redup bagaikan bangunan tanpa penerangan. Bulu-bulu halus yang biasanya terlihat rapi kini sudah terlihat sangat panjang dan tidak terurus.
"Kau sama sekali tidak berhasil mencari titik terang tentang keberadaan istriku, Andri? Selama ini apa saja yang kau lakukan, ha?" tanya Alvino dengan nada sarkas.
Pria itu sudah terlalu muak dengan apapun yang terjadi. Jika memang Syifana di culik oleh penjahat, seharusnya sudah ada orang yang menghubunginya untuk meminta tebusan untuk keselamatan istrinya. Kalaupun sang istri di culik oleh musuh-musuh yang masih menyimpan dendam kepadanya, pasti sudah ada orang yang menghubunginya untuk melumpuhkan dirinya. Namun, sampai selama ini tidak ada satupun orang yang menghubunginya untuk membahas tentang Syifana.
"Maaf, Tuan, mereka terlalu rapi dalam menyembunyikan jejaknya. Saya bahkan kesulitan untuk mendeteksi tempat terakhir Nona sebelum menghilang," jawab Andri seraya menundukkan kepalanya.
'Maaf, maafkan saya, Tuan. Saya terpaksa melakukan ini atas perintah dari Nyonya Besar,' batin Andri yang sebenarnya tidak tega kepada atasannya tersebut.
__ADS_1
Alvino yang semula tengah duduk di ranjang sambil memegang foto pernikahannya dengan Syifana, kini meletakkan foto itu di atas nakas. Pria itu berdiri lalu melangkah mendekati sang sekretaris.
"Entah kenapa, sekarang kau semakin bodoh, Andri! Kau sepertinya sudah bosan bekerja denganku." Alvino mencekik leher Andri karena merasa sekretarisnya itu seperti menyembunyikan sesuatu.
"Jika kau tidak bisa melacak lokasi terakhir istriku, kau bisa tanyakan pada Mama, atau Delano." Setelah mencekik sang sekretaris, Alvino dengan kasar mendorong pria itu hingga menabrak tembok di belakangnya.
Andri merutuki kebodohannya saat ini, karena merasa kasihan kepada pria yang merupakan pimpinannya tersebut, membuatnya menjadi bodoh. Jawaban yang dia berikan sangat tidak masuk akal dan justru membuat Alvino semakin curiga.
"Itu tidak membuatmu merasa ada yang aneh, untuk apa Mama sampai menyembunyikan kebenaran itu? Sepertinya ada seseorang yang sedang ingin mempermainkanku," ujar Alvino dengan yakin.
Sementara Andri hanya mencari aman, pria itu ikut mengangguk, lalu menggeleng ketika menyadari reaksinya salah. Pria itu kembali menunduk saat tidak sengaja netranya bersitatap dengan mata tajam sang pemimpin.
__ADS_1
"Maksud anda apa, Tuan? Saya Sama sekali tidak paham."
"Ada orang dalam yang mencoba menghianatiku, dan aku tidak tahu siapa orang itu. Yang jelas, jika aku mengetahuinya, pasti akan aku beri perhitungan." Alvino mengepalkan tangannya dan meninju sebuah cermin yang berada di samping Andri.
Pria yang tengah merasa terimidasi dengan apa yang di lakukan oleh Alvino itu tersedak ludahnya sendiri karena terkejut dengan apa yang baru saj terucap dai pria kejam yang sudah dia layani selama ini.
"Kau tahu Andri, aku tidak akan pernah memberikan ampunan kepada orang yang sudah menghianati kepercayaanku!" bisik Alvino di telinga Andri.
"T-tuan, tangan anda berdarah!" seru Andri yang kini melihat ada darah yang menetes dari tangan Alvino.
Bersambung...
__ADS_1