Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Rumah Sakit


__ADS_3

Mobil dengan jenis Toyota Avanza yang sejak tadi melaju dengan kecepatan tinggi, kini perlahan mengurangi kecepatannya. Gevano akhirnya menurut untuk tidak ngebut saat di jalan seperti ini. Jalan berkelok dan curam, apa lagi pencahayaan yang minim membuat mereka kesulitan melihat sekitar.


Di tengah kegelapan malam mereka membelah jalanan sepi yang mulai berkabut. Di sekitarnya hanya terdapat pepohonan. Karena kebanyakan lahan di sana menjadi perkebunan karet yang luas.


"Eugh," sebuah lenguhan keluar dari bibir pucat pria di samping Syifana membuat ketiga manusia itu menatap ke arah pria asing itu. Walau Gevan hanya punya kesempatan melirik sebentar dan kembali fokus pada jalan di hadapannya.


Perlahan kedua bola matanya terbuka, saat menatap sekeliling ia kebingungan dengan tatapan ketiga manusia itu dan dirinya justru berada di dalam mobil. Tangan kanannya yang masih saja di genggam oleh gadis di sampingnya. Pria itu segera menarik tangannya agar terlepas dari gadis remaja itu.


"Mau di bawa kemana gue?" tanya pria itu.


"Rumah Sakit," jawab Syifana singkat.


Gadis itu semakin kesal karena pria di sampingnya justru menatapnya dengan sinis. Sudah di tolong berkali-kali kenapa masih saja menyebalkan?


"Enggak, pulang aja!" pinta pria itu.


"Kamu harus di rawat, Nak. Luka kamu cukup dalam, Bude tidak mau kamu kenapa-kenapa."


Pria asing tadi mengangkat tangan kanannya dan menunjukan pada Bude Nur bahwa lukanya baik-baik saja.


"Luka ini tidak akan membunuh saya," ucapnya dengan yakin.


Bude Nur menggelengkan kepalanya. Wanita itu tetap kekeh pada pendiriannya bahwa pria ini harus di bawa ke Rumah Sakit untuk segera di obati.


"Kamu harus tetap di bawa ke rumah sakit, Nak. Jangan banyak protes, di sini, Bude yang memutuskan semuanya!" Keputusan bude nur tidak bisa di ganggu gugat.


Pria itu terdiam karena memang benar. Wanita tadi yang berkuasa sekarang. Walaupun dengan terpaksa akhirnya pria itu menurut.


Supir tampan yang hanya menurut jika bude Nur sudah memberi perintah itu masih mengendarai mobilnya menuju Rumah Sakit. Mereka sudah keluar dari jalan di tengah luasnya perkebunan karet.


Saat sudah berada di jalan raya, Gevano menambah kecepatan laju mobilnya agar cepat sampai. Meskipun merasa kesal dengan sikap korban yang di tolong olehnya, namun dia tidak bisa menolak perintah dari bude Nur yang sudah di anggap kerabatnya sendiri.


Kini mereka sudah sampai di Rumah Sakit. Ketiga orang itu turun dari mobil saat Gevano berhenti di depan pintu darurat. Setelah ketiganya turun, Gevano memarkirkan mobilnya lebih dulu.


Bude Nur berteriak meminta pertolongan ketiga melihat suster yang melintas. "Sus, tolong anak saya," Suster jtu begitu cekatan segera mendekat dengan membawa kursi roda.

__ADS_1


Pria itu terpaksa menurut saat di paksa menaiki kursi roda. Walau dengan wajah tidak bersahabat, namun untuk sekarang dia harus mengalah demi misinya.


Suster yang menyambut kedatangan mereka itu segera membawa pria yang duduk di kursi roda ini ke IGD untuk segera di obati. Di liriknya pergelangan tangan yang masih mengeluarkan darah, baju yang sudah berlumuran darah tapi masih bisa sadar. Sungguh sesuatu yang jarang terjadi selama ini, bahkan dirinya baru melihat kejadian kali ini.


Syifana dan bude Nur mengikuti di belakang dengan langkah tergesa. Suster itu cekatan sekali membawa lari pria asing itu.


Perawat segera membawa masuk pria itu ke dalam IGD. Di sana sudah ada dokter yang bertugas karena baru saja dia juga mengobati pasien lain. Sedangkan bude Nur dan Syifana harus menunggu di luar.


"Kenapa, Sus?" tanya seorang dokter di sana.


"Dia memotong nadinya, Dok."


Dokter dengan name tag Aira itu hanya mengangguk dan segera menyuruh pasien untuk berbaring di brankar. Dengan terpaksa dan wajah tanpa ekspresi pria itu menurut. Dokter segera melakukan tugasnya untuk mengobati pasien. Saat Dokter akan menyuntikkan obat bius, pasien itu dengan tegas menolak.


"Tidak perlu di bius," ucapnya dengan nada dingin.


Namun Dokter Aira tidak mau menuruti permintaan pasien yang tidak sesuai prosedur. Dokter memaksa menyuntikkan obat bius pada pasien keras kepala ini. Setelah menyuntikkan obat bius, dokter segera membersihkan luka itu dengan hati-hati. Menjahit luka yang cukup panjang di pergelangan tangan pasien.


"Apapun masalahnya, bunuh diri bukan jalan terbai, Tuan." ujarnya setelah selesai menjahit luka itu.


"Tidak usah ikut campur, aku bukan bunuh diri. Mereka saja yang lebai dan membawaku kesini," jawabnya masih dengan nada dingin.


Seorang pria berlari dengan tergesa mendekat pada kedua wanita yang duduk di kursi tunggu. Dia adalah Gevano yang tadi tertinggal karena memarkirkan mobilnya lebih dulu.


"Bude, gimana keadaan pria menyebalkan tadi?" tanya Gevano ketika sudah ada di hadapan bude Nur.


Wanita paruh baya itu mendongak dan mendelik ke arah Gevano. Kedua orang ini benar-benar keterlaluan. Orang di dalam sedang tidak baik-baik saja dan mereka justru seenaknya.


"Kalian ini keterlaluan, yah. Dia sedang terkena musibah malah kalian tertawakan." Bude Nur menepuk bahu Syifa dan pinggang Gevano bersamaan.


Sebenarnya wajar kedua remaja itu mengatakan pria tadi menyebalkan. Sudah di tolong sama sekali tidak mengucapkan terima kasih dan justru bersikap sombong.


Kedua remaja itu hanya tertawa karena bude Nur kesal karena ulah keduanya. Mereka memang merasa sangat kesal karena sikap pria di dalam. Begitu congkak dan merasa paling hebat.


Saat ketiga orang itu masih berinteraksi dengan perasaan berbanding terbalik. Pintu IGD terbuka, dari sana keluar seorang wanita berjas putih yang mereka yakini adalah seorang Dokter.

__ADS_1


Ketiga orang itu mendekat pada Dokter yang menangani pria menyebalkan tadi. Mereka penasaran dengan keadaan pria tadi yang sok hebat menurut Syifana.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya bude Nur khawatir.


"Pasien sudah baik-baik saja, meskipun lukanya cukup panjang dan dalam. Tapi pasien butuh donor darah, Bu."


"Lakukan saja, Dok," ucap bude Nur tegas.


Dokter menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan. Bingung untuk menjelaskan pada wanita paruh baya di hadapannya jika persediaan darah di Rumah Sakit sedang tidak tersedia dengan golongan darah pasien.


"Maaf, Ibu. Rumah Sakit sedang kehabisan stok golongan darah yang sama dengan pasien,"


"Memang golongan darahnya apa, Dok?" tanya bude penasaran.


"O rhesus negatif, Ibu. Jenis golongan darah ini bisa memberikan transfusi pada semua golongan darah, namun hanya bisa menerima transfusi dari golongan darah yang sama." Dokter menjelaskan secara ringkas.


Bude Nur menoleh ke arah Syifana di sampingnya yang hanya diam saja. Gadis itu mulai curiga dengan tatapan budenya yang seakan menargetkan mangsa untuk menjadi makanannya.


"Syifa," panggil bude Nur lembut.


Bersambung...


Thanks For Reading...


_Nurmahalicious_


Author punya rekomendasi cerita keren banget nih. Karya Ingflora dengan judul Puisi Cinta Topeng Cinderella.



Bagaimana takdir membolak balikkan cinta, atau sebenarnya cintakah yang telah membolak-balikkan takdir?


Sebuah buku note berisi puisi mempertemukan Abra, (Abraham Natawijaya 24 tahun) seorang CEO muda pada seorang gadis bertopeng yang misterius di sebuah pesta topeng yang dihadirinya. Gadis itu mampu memikat hatinya karena mampu tampil beda dengan berjilbab hingga ia mencari tahu siapa gadis itu sebenarnya.


Shasa (Shanum Andina Prawira 19 tahun) gadis yatim piatu yang diduga sebagai gadis bertopeng itu terpaksa menyangkal, karena permintaan sepupunya Rika, yang iri padanya. Ia dipaksa pacaran dengan pria yang sedang dekat dengan sepupunya itu(Bima) hingga memupus harapan Abra untuk mendekatinya.

__ADS_1


Namun begitu, dunia kerja mendekatkan mereka walaupun kemudian keberadaan Kevin, kakak tiri Abra yang juga menyukai Shasa memperkeruh hubungan mereka.


Lalu dapatkan Abra mendapatkan cinta Shasa seutuhnya? Kawal terus perjuangan Abra untuk mendapatkan pujaan hati.


__ADS_2