
Seorang perempuan tengah menatap sekelilingnya. Seorang pria mengikutinya dari belakang. Setelah selesai melihat semua tempat yang ada di bangunan tersebut, perempuan itu menatap sang pria dengan raut wajah yang sulit di artikan.
"Kak, seharusnya tidak perlu repot-repot seperti ini," ujarnya merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, Syifa. Ini hanyalah tempat sederhana untuk kamu tinggal sementara waktu. Aku tidak ingin siapapun tahu tentang hal ini," jawab Reiner seraya mendudukkan dirinya di sofa single di ruang tersebut.
Syifana merasa ucapan Reiner sangat merendah. Tempat yang di berikan oleh pria di depannya itu sudah lebih dari kata mewah untuk dirinya yang hanya akan tinggal sendirian di tempat itu.
"Kak Rei, tapi sampai kapan Syifa harus tinggal disini?" tanya Syifana beralih membahas hal yang lebih penting dari pada sekedar membahas tentang tempat tinggal.
"Sampai kamu aman, Syifa. Kakak tidak ingin kamu berada di tempat yang sama dengan Aldev. Kakak sudah tahu segalanya tentang apa yang dia lakukan terhadap kamu," ujarnya tanpa bisa di bantah.
__ADS_1
"Kakak tidak mau sampai Ara yang turun tangan dalam menghadapi suamimu. Sebagai seorang kakak, aku hanya ingin yang terbaik untuk adik-adikku." lanjutnya tulus.
Perempuan itu terharu dengan apa yang di katakan oleh Reiner. Selain Mama Seren, dia juga memiliki Reiner yang begitu ingin melindunginya. Meskipun Syifana merasa sangat bersalah karena meninggalkan sang suami. Namun, perempuan itu tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti keputusan sang mertua.
"Tapi, Kak, kenapa harus bersandiwara? Kasihan Bang Vino kalau sampai harus mencari Syifa," ujar Syifana.
"Kamu tidak perlu memikirkan Aldev, Syifa. Sembuhkan dulu semua lukamu itu, mertuamu sudah mengirim psikolog untuk memeriksa kejiwaan kamu nanti sore. Kakak juga sudah menempatkan beberapa penjaga di luar sana. Kamu tidak keberatan kalau semua urusan dapur kamu sendiri yang mengurus kan? Hanya untuk dirimu sendiri, bukan untuk mereka." jelas Reiner menerangkan segalanya.
Reiner sengaja tidak menerima panggilan yang berasal dari suami Syifana tersebut. Dia dan Mama Seren sudah sepakat untuk memberikan pelajaran kepada pria keras kepala seperti Aldev. Sudah salah, akan tetapi pria itu tidak berani mengakui kesalahannya.
"Syifa tidak apa-apa, Kak. Kalau untuk mengurus diri Syifana sendiri, Syifa masih sanggup. Sekali lagi terima kasih, Kak Rei sudah membantu Syifana," ujarnya mengungkapkan apa yang sekarang di rasakannya.
__ADS_1
"Kak, biasakan merahasiakan semua ini dari keluarga Syifa? Aku hanya tidak ingin semuanya membenci Bang Vino," lanjut Syifana memohon.
Reiner tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Sungguh Aldev adalah pria bodoh yang tega menyia-nyiakan perempuan sebaik dan setulus Syifana. Setelah di siksa habis-habisan, perempuan itu bahkan tidak menyimpan dendam kepada pelakunya. Dia bahkan masih berusaha melindungi sang suami agar tidak di benci oleh seluruh keluarganya.
"Kakak akan usahakan, kamu jangan pernah menghubungi suamimu, Syifa. Biarkan dia menyadari kesalahannya lebih dulu. Kakak akan selalu memantau kamu lewat Cctv yang berada di setiap sudut rumah ini," peringatan Reiner tidak main-main.
"Baik, Kak. Syifana akan menuruti semua perintah Mama dan Kak Rei," ujarnya menurut.
"Ya sudah, Kak Rei pamit dulu, kamu jaga diri baik-baik. Kalau perlu apapun, beri tahu penjaga di luar sana," pamit Reiner seraya bangkit dari duduknya.
Pria itu langsung keluar dari rumah sederhana yang dia berikan untuk tempat tinggal sementara Syifana. Ketika sudah sampai di luar, Reiner merogoh saku untuk mengambil ponsel miliknya. Lagi-lagi Aldev menghubunginya. Reiner dengan sengaja mematikan ponsel miliknya agar Aldev semakin kelabakan untuk mencari keberadaan Syifana.
__ADS_1
Bersambung...