
Alvino yang merasa di mansion sangatlah tertekan kini keluar dan berniat akan mengunjungi Markas peninggalan sang ayah. Pria itu duduk di kursi penumpang sementara Andri menyetir mobilnya.
Ketika sudah hampir sampai di markas, ponsel milik Alvino berdering. Pria tampan dengan wajah hampir kusut itu merogoh saku untuk mengambil ponsel miliknya. Meski sedikit terkejut karena seseorang yang menghubunginya adalah bukan orang sembarangan. Alvino berusaha menguasai dirinya agar terlihat tenang.
"Ada apa?" tanya Alvino tanpa basa-basi.
"Aku tunggu di markas! Cepat datang atau aku akan merobohkan tempat sialan ini!" ancam seseorang dari seberang sana.
"Cih, tunggu saja! Sebentar lagi aku sampai." Alvino mengakhiri panggilan telepon.
"And, cepatlah! Ada seseorang yang menunggu kedatanganku," ujarnya memerintah.
Andri menurut, pria kepercayaan Alvino itu segera menginjak pedal gas dalam hingga mobil melesat dengan kecepatan maksimal. Beruntung jalanan tidak macet karena sudah hampir sampai di markas Wild Wolf yang terletak di tempat yang jauh dari fasilitas umum.
__ADS_1
Seringai muncul di sudut bibir Alvino manakala dia melihat seseorang yang baru saja menelponnya itu tengah menunggu di pinggir jalan. Pria itu bahkan tidak masuk ke halaman markas yang pintu gerbangnya sudah terbuka lebar oleh penjaga di sana.
"Kau masuk ke markas saja dulu, Ndri, aku masih bisa mengurus dia."
Alvino turun dari mobil begitu Andri menghentikan mobilnya tepat di samping mobil seseorang tersebut. Pria dengan setelan celana jeans panjang dan Hoodie berwarna hitam yang melekat di tubuhnya itu tersenyum sinis sembari mendekati Seorang pria yang berani mengancam akan meratakan markasnya.
"Ada perlu apa kau kesini, bukankah kita sudah tidak memiliki urusan lagi? Aku sudah menyerah atas adikmu!" ujarnya bermuatan kesombongan.
"Aku kesini bukan tentang Ara, tapi aku kesini untuk mengingatkanmu tentang Syifana! Bagaimanapun juga, gadis itu adalah keluargaku!" bentak Reiner dengan suara tegas.
"Kurang ajar!" pria itu menarik bahu Alvino hingga membalikkan tubuhnya, satu Bogeman mendarat di rahang Alvino hingga sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah.
Alvino hanya menyentuh sudut bibirnya yang terluka itu, lalu meludah ke arah samping. Pria itu sebenarnya tengah dalam keadaan emosi yang berlebih, hanya saja dia sungguh tidak ingin melawan pria yang merupakan orang kesayangan wanita pujaannya dulu.
__ADS_1
"Jangan pernah Lo berani sakiti Syifana! Gue bakal b*nuh Lo kalau Lo sampai ngelakuin itu!" bentak pria itu seraya pergi meninggalkan Alvino sendiri.
"Asal kalian tahu, gue juga nyesel karena nyakitin bini gue sendiri! Tapi untuk mengakui segala kejahatan gue, gue rasa gue belum mampu." Alvino bergumam seraya matanya menatap mobil yang di kendarai oleh pria itu menjauh dari pandangannya.
Andri yang merasa khawatir memutuskan untuk menyusul sang tuan muda yang tengah menemui tamunya di depan gerbang markas. Pria itu melihat tuan mudanya sudah sendirian tanpa satupun orang yang ada disana.
"Tuan," sapa Andri karena Alvino justru melamun.
Beberapa kali Andri memanggil tuan mudanya itu, akan tetapi sama sekali tidak ada respon.
Andri memutuskan untuk menyentuh bahu tuan mudanya untuk menyadarkan pria tersebut.
"Tolong maafkan saya, Fana! Saya janji tidak akan mengulangi kesalahan apapun," ujarnya tanpa sadar ketika terkejut dengan sentuhan tiba-tiba yang di lakukan oleh Andri.
__ADS_1
"Maaf, Tuan."
Bersambung