Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Tidak selamat


__ADS_3

Seorang pria berjalan dengan langkah besar, suara tapak kakinya yang beradu dengan lantai bahkan terdengar nyaring. Setiap orang yang melihatnya seketika menundukkan kepala karena mereka tahu siapa orang yang tengah berjalan tanpa menatap sekelilingnya itu.


Wajahnya terlihat garang dengan rahang mengeras sempurna. Tangannya mengepal hingga buku jari tangannya memutih. Seorang pria yang tidak kalah gagah berjalan tepat di belakang pria tinggi besar tersebut.


Tanpa ba-bi-bu pria itu langsung menerjang seseorang yang tengah berdiri di depan pintu sebuah ruangan bertuliskan ICU. Beberapa orang yang juga berada di sana pun panik karena keributan yang di timbulkan dari serangan tiba-tiba seorang pria yang baru datang.


"Berhenti, Kak Al. Kau benar-benar keterlaluan!" seru seorang perempuan dengan perut besar.


Alvino menghentikan serangannya di tubuh seorang pria yang hanya pasrah ketika tubuhnya di hajar membabi buta oleh Alvino. Pria itu sadar akan kesalahan dan kecerobohannya dalam menjaga istri dari pria yang tengah berada di atas tubuhnya.


Ara yang tidak mau terjadi keributan di tempat umum itu langsung menarik tubuh Alvino untuk menyingkir dari tubuh sang kakak. Tubuh Alvino yang memang sudah dalam keadaan lemah tidak terlalu membuat perempuan hamil itu kesusahan untuk menyingkirkannya. Dengan sekali tarikan saja, tubuh besar suami Syifana langsung terjatuh.


Kedua mata sayu Alvino menatap tajam pada Reiner, seorang pria yang ternyata menyembunyikan istrinya selama ini. Lebih parahnya lagi sekarang kondisi istri kecilnya dalam keadaan tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Tenangkan dirimu, Kak. Jangan main hajar orang seenaknya saja," tutur Ara dengan suara lembutnya.


"Kau bilang tenang, Bee? Kau tahu yang di dalam ruangan ini adalah istriku? Kakakmu ini sudah lancang berani menculik istriku. Lalu kau menyuruhku untuk tenang?" tanyanya dengan membentak.


Walaupun kaget karena mendapatkan bentakan dari Alvino, akan tetapi Ara berusaha mengontrol dirinya. Apa lagi keadaannya saat ini tengah hamil anak kembar, sangat beresiko untuknya jika terpancing oleh emosi pria yang pernah terobsesi padanya itu.


"Kau tidak malu, sebagai suami sudah lalai menjaga istrimu sendiri. Adikku hamil, pasti kau juga tidak tahu, 'kan?" tuduh Ali menyela perdebatan tersebut.


Alvino bangkit dari posisi duduknya di lantai rumah sakit yang terasa dingin. Dia sempat terjatuh ketika Ara menariknya tadi. Terkejut, itulah yang saat ini di rasakan oleh Alvino. Ucapan sang kakak ipar yang mengatakan bahwa istrinya tengah hamil membuatnya bagaikan di tampar menggunakan besi panas.


"Sudah kuduga, kau pasti tidak tahu. Lalu sekarang untuk apa kau datang kemari?" tanyanya dengan nada sinis.


Sementara Ara membantu Reiner untuk bangkit, pria itu memang sejak awal sudah menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Syifana. Gadis itu lepas dari pengawasannya hingga keluar dari rumah yang di siapkan untuknya dan berakhir tertabrak mobil hingga masuk rumah sakit.

__ADS_1


"Tentu saja aku ingin merawat istriku," jawab Alvino.


"Cih! Merawat istrimu? Aku tidak akan membiarkan kau menyentuh adikku lagi!" serunya dengan hati yang di penuhi amarah.


Mendengar ucapan Ali, darah dalam diri Alvino terasa mendidih. Mau seburuk apapun dirinya, dia masih sah suami Syifana. Dia juga memiliki hak atas diri perempuan muda yang tengah berada di dalam ruangan khusus tersebut.


Ketika Alvino akan bersiap menyerang Ali karena telah lancang melarangnya, tiba-tiba seorang dokter keluar dari ruangan yang di huni oleh Syifana. Semua orang langsung mendekat pada wanita berjas putih itu.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Alvino dengan cepat.


Wajah dokter itu terlihat pucat pasi, entah kabar apa yang akan di sampaikan sehingga wanita itu seperti sedang cemas sekaligus takut. Mengetahui bahwa Pasien yang di rawat olehnya adalah istri dari pria yang cukup berkuasa di negeri itu membuatnya sedikit merasa ketakutan. Jika salah sedikit saja, mungkin pria itu akan membuat perhitungan padanya tanpa belas kasih.


"Dok, bagaimana keadaan adik saya?" tanya Ali ketika dokter itu tidak menjawab pertanyaan dari Alvino.

__ADS_1


"Ba-yi da-lam kandungan No-na tidak bisa kami selamatkan," ujarnya dengan terbata.


__ADS_2