Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Kecupan Singkat


__ADS_3

Alvino masih tidak menyangka bahwa saat ini dia berhasil membawa pulang kembali sang istri, meski diapun yakin bahwa semua tidak akan semudah ini. Sebentar lagi pasti akan ada seseorang yang menjemput paksa Syifana dan membawa pergi darinya. Namun, melihat keceriaan sang istri yang sedang membereskan pakaian membuatnya memiliki tekad untuk memperjuangkan hubungan mereka. 


Tatapan Alvino sedetikpun tidak lepas dari kegiatan yang dilakukan oleh perempuan muda itu. Kedua sudut bibirnya terangkat hingga menciptakan garis lengkung yang terlihat sangat menawan. Syifana yang kebetulan sedang menoleh tidak sengaja melihat senyum manis suaminya. 


"Bang Vino," panggil Syifana dengan suaranya yang lembut. 


"Hem," jawab Alvino singkat disertai gerakan kepala yang seakan menjadi isyarat bertanya kenapa. 


"Fana boleh tinggal disini, 'kan?" tanya perempuan cantik itu. 


Alvino merasa bimbang untuk menjawab. Bukan dia tidak suka jika istrinya berada bersamanya, akan tetapi dia juga tidak mau kalau harus melawan orang tua. 


"Bang? Tidak boleh, yah?" tebak Syifa dengan ekspresi wajah lesu. 


"Bukan begitu, Fana. Saya hanya memikirkan perasaan ayah," jawab Alvino singkat. 


Syifana bangun lalu melangkah mendekat meski masih dalam jarak yang cukup jauh. Walaupun merasa sudah mencintai pria yang menikahinya itu, trauma atas perlakuan buruk beberapa bulan lalu yang dilakukan oleh pria itu masih sedikit membuatnya takut. 


Perempuan muda itu duduk di ruang kosong di samping sang suami. Meski sedikit takut, Syifana mencoba memberanikan diri untuk menatap wajah itu dengan lekat. 


"Bang Vino memikirkan perasaan ayah, tapi ayah tidak memikirkan perasaan Fana, Bang!" 


Perlahan tangan Alvino terulur lalu menggenggam erat tangan perempuan itu. "Kamu jangan pernah menyalahkan ayah atas perlakuannya untuk memisahkan kita, Fana. Sudah sewajarnya seorang ayah melindungi putrinya. Semua ini adalah salahku, jika kamu mau menyalahkan seseorang. Akulah orangnya, Fana," ujarnya dengan senyum kecut. 


"Tapi Fana tidak mau berpisah dengan Bang Vino," timpal Syifana tetap pada pendiriannya. 


Alvino melepaskan genggaman tangannya dari sang istri. Pria itu bangkit, kemudian melangkah menuju pintu yang sedikit terbuka dan berdiri tegak disana. "Kamu pasti akan menyesal kalau memilihku, Fana. Saya bukan orang baik, saya juga jahat padamu. Kamu berhak melanjutkan hidupmu tanpa saya," tutur Alvino dengan mata berkaca-kaca. 


Seketika Syifana ikut bangkit lalu berjalan hingga berada di belakang tubuh suaminya. "Tidak, Bang. Fana masih yakin bahwa Bang Vino adalah orang baik. Abang hanya salah jalan saja," bantah si perempuan. 


Mendengar kata-kata yang baru saja terlontar dari bibir si perempuan membuat Alvino membalik tubuhnya. "Kamu salah menilaiku, Fana. Saya tidak seperti apa yang kamu pikirkan," 

__ADS_1


"Bang Vino mau mengelak seperti apapun, Fana sudah tahu kenyataan yang terjadi sebenarnya, Bang. Tentang Bang Vino yang rela melepas masa lalu untuk memperbaiki diri," tutur Syifana penuh rasa bangga. 


"Mama bilang padamu?" tebak Alvino tepat. 


"Kenapa, Bang Vino mau marah pada mama?" tanya Syifana seraya bersedekap dada. 


Alvino menggeleng pelan. "Mana berani saya marah padanya, sejak dulu hanya mama yang mampu membujuk saya." Alvino menjeda ucapannya. "Begitu juga dengan kamu. Jangan membantah perintah ayah," lanjutnya menasehati Syifana. 


"Tapi, Fana ingin bersama Bang Vino. Kalau ayah masih menentang hubungan kita, bawa Fana pergi jauh dari sini." Syifana memberikan usul yang terbilang ekstrim. 


"Apa kamu sungguh ingin hidup bersama saya, Fana? Pikirkan baik-baik keputusan kamu. Jangan sampai kamu menyesal," bujuk Alvino agar Syifana tidak melakukan hal-hal nekat tersebut. 


Syifana melangkah maju mendekati Alvino. Perempuan itu terus berjalan dengan tatapan tak gentar, padahal dalam hatinya dia tengah berperang antara mendekat atau menjauhi pria yang masih diam di tempatnya dengan tatapan bingung. 


"Kamu mau apa, Fana?" tanya Alvino ketika langkah si istri semakin dekat. 


Melihat Syifana sama sekali tidak menghentikan ataupun memperlambat langkahnya, Alvino yang akhirnya mundur. Namun, dengan cepat Syifana mencekal pergelangan tangan Alvino hingga pria itu terpaksa menghentikan langkah. Memegang tangan suaminya begitu erat.


Diamnya Alvino dianggap sebagai keraguan atas keputusannya itu. Syifana memberanikan diri untuk menatap dalam-dalam bola mata sang suami, lalu tatapannya turun ke bibir suaminya. Menatap lekat-lekat bibir sedikit tebal dengan warna merah itu. Tanpa sadar perempuan itu sampai meneguk air liurnya sendiri. 


Syifa terlihat semakin berani, perempuan itu berjinjit sedikit untuk mencapai wajah Alvino yang lebih tinggi darinya. Meski dadanya berdebar, jantungnya terasa berdegup kencang. Namun, Syifana menahan semua itu demi meyakinkan suaminya. 


Kini kedua bibir itu saling menempel, hanya menempel tidak ada pergerakan lain. Alvino yang masih ragu untuk membalas kecupan itu, sedangkan Syifana yang belum memiliki pengalaman apapun. Tautan bibir keduanya terlepas dengan paksa saat tiba-tiba ada seseorang yang berusaha masuk ke kamar itu. 


"Eh, kalian. Mama mengganggu, yah?" ujar Seren yang sempat melihat apa yang baru saja terjadi. 


Rona merah muncul di kedua pipi Syifana saat kegiatannya barusan di ketahui oleh sang mertua. Perempuan itu sedikit merasa malu karena melihat posisi itu dapat di pastikan bahwa dialah yang menyerang Alvino lebih dulu. 


Sementara itu, Alvino hanya memasang wajah datar. Pria itu sama sekali tidak merasa canggung ataupun malu karena sang ibu melihat mereka sedang berciuman. 


"Ada apa, Mah?" tanya Alvino dingin. 

__ADS_1


"Em, i-tu, dibawah ada ayah mertuamu. Dia datang dan marah-marah di bawah," ungkap Seren memberi tahu alasannya datang ke kamar Alvino. 


Syifa membulatkan matanya ketika mendengar bahwa sang ayah ternyata menyusulnya dan membuat kekacauan di bawah sana. Perempuan muda itu langsung menyembunyikan diri di balik punggung Alvino saat mendengar suara sang ayah semakin dekat.


"Syifa!" Teriakan dari luar semakin mendekat, tampaknya Hendra sudah tidak sabar menunggu sang pemilik mansion untuk turun menemuinya. 


"Bang, sembunyikan Fana, Bang! Fana enggak mau pulang." 


Alvino memasang sikap waspada ketika sang mertua tiba-tiba masuk ke kamarnya. Pria paruh baya itu menatap tajam pada Alvino dan seseorang yang bersembunyi di balik punggung tegap Alvino. 


"Pulang, Syifa!" bentak si ayah dengan lantang. 


Meski sempat terlonjak kaget karena dia baru pertama kali melihat ayahnya marah-marah, akan tetapi Syifana sama sekali tidak beralih dari tempatnya. Perempuan muda itu masih memaku di tempatnya, berlindung di belakang tubuh suaminya. 


"Yah, biarkan Fana disini dulu, biar Alvin yang bujuk dia pulang." 


"Tidak! Putriku harus pulang bersamaku!" tolaknya masih dengan nada tinggi. 


"Enggak, Syifana enggak mau pulang. Syifa mau sama suami Syifa!" teriak Syifana menolak perintah ayahnya. 


Amarah Hendra semakin membuncah manakala mendapat penolakan dari putrinya sendiri. Pria itu mengepalkan kedua tangannya erat. "Ingat Syifa, kamu dan dia akan segera bercerai."


"Enggak! Kami enggak akan bercerai. Itu bukan kemaua Syifa. Itu keputusan sepihak ayah! Syifana tidak setuju dengan keputusan yang ayah ambil. Syifa mencintai Bang Vino, Yah!" Syifana benar-benar mempertahankan hubungan yang awalnya berlandaskan dendam tersebut. 


"Dia sudah menjatuhkan talak atas kamu, Syifa! Sadarlah. Dia tidak pernah mencintai kamu."


Bersambung...


Hay, Kak. Author punya rekomendasi novel keren lagi, nih! Kuy Mampir. jangan lupa tinggalkan jejak. Karya Tyatul dengan judul Love Me Please, Daddy!.


__ADS_1


__ADS_2