
Meskipun Alvino meminta Syifana untuk menamparnya. Namun, perempuan muda berstatus nyonya muda di kediaman Maladeva itu tidak melakukan hal yang diperintahkan sang suami.
Alvino membulatkan matanya ketika justru mendapat kecupan singkat di pipinya oleh perempuan yang kini tengah berlari masuk ke mansion. Pria itu menyentuh bekas kecupan yang diberikan oleh Syifa. Masih tetap diam terpaku di tempatnya.
Ketika dia sadar ternyata istrinya itu sudah melarikan diri terlalu jauh, Alvino segera mengejar sang istri yang kini sudah tidak terlihat lagi. Nyonya muda di mansion itu pasti sudah melarikan diri ke kamar utama.
Alvino pun bergegas menuju kamar utama untuk mencari istri kecilnya itu. Ketika akan masuk ternyata kamar itu terkunci. Alvino mengetuk pintu agar sang istri membukakan untuknya.
"Fana, buka!"
"Enggak mau, nanti Bang Vino pasti balas, 'kan?" teriak Syifana dari dalam.
"Saya janji enggak akan balas. Cepat buka pintunya," perintah Alvino dengan suara lembut.
"Janji, yah!" teriaknya lagi memastikan.
"Iya, Sayang."
Suara kunci yang dibuka membuat Alvino cepat-cepat mendorong pintu itu hingga terbuka. Namun, ketika dia masuk tidak ada seorangpun di dalam kamar.
Alvino terus melangkah dengan bingung. "Masa saya halusinasi? Perasaan sudah lama sekali saya tidak mabuk." Pria itu menggaruk kepala belakangnya seraya menatap sekeliling.
"Dor!" Syifana mengagetkan Alvino dari belakang.
Perempuan itu tanpa sadar memeluk tubuh suaminya begitu erat. Seakan tidak pernah ada sesuatu yang terjadi antara keduanya. Seakan dia sudah melupakan trauma yang disebabkan oleh sang suami.
"Fana, kamu nakal sekali, sih!" Alvino membalikkan tubuhnya, akan tetapi tidak melepas pelukan erat sang istri.
Syifana tertawa ringan seraya mendongak menatap wajah tampan suaminya. "Abang belum tahu, Fana dari kecil memang sudah Nakal. Kalau tidak percaya, tanya saja sama Abang Ali dan Ayah," ujarnya dengan gembira.
__ADS_1
Alvino membalas pelukan hangat istrinya. Namun, tangan kanannya sempat menoel hidung Syifana karena gemas. Senyum lega terlukis di wajah tampan itu saat melihat kegembiraan yang terpancar dari wajah sang istri.
"Kamu memang perempuan terkuat yang pernah ada di kehidupan saya, Fana. Setelah apapun yang saya perbuat, kamu masih bisa bersikap seakan tidak pernah ada apa-apa." Alvino membatin dalam hati, bangga dengan sifat dan sikap istrinya itu.
"Untuk apa bertanya pada mereka? Saya bahkan sudah menjadi korban kenakalan kamu." Alvino semakin mengeratkan pelukan, kepalanya disandarkan di bahu sang istri. "Fana, terima kasih," ujarnya tulus.
"Untuk apa berterima kasih, Bang? Fana hanya melakukan apa yang seharusnya Fana lakukan."
Mereka berpelukan begitu lama. Saling memberi kenyamanan satu sama lain. Setelah puas berpelukan, Alvino membersihkan diri di kamar mandi. Sementara Syifana turun ke bawah untuk membuatkan kopi suaminya.
Beberapa pelayan yang ada disana sempat melarang kegiatan sang nyonya muda. Namun, Syifana bersikeras untuk membuatkan minuman suami tercinta yang berniat lembur malam ini.
Setelah selesai membuat minuman Syifana kembali ke kamar bertepatan dengan Alvino yang juga baru keluar dari kamar mandi. Pria itu sudah rapi dengan pakaian santai. Tidak mau melakukan kesalahan seperti dulu yang asal menggunakan handuk saja ketika keluar dari kamar mandi.
Alvino masih ingat dengan perbuatannya dulu yang mungkin masih meninggalkan trauma di jiwa Syifana, maka dari itu dia memutuskan untuk tidak terlalu memaksa wanitanya untuk melakukan hal-hal yang lebih dalam lagi.
"Abang sudah mandi?" tanya Syifana sambil menaruh kopi di meja.
"Katanya abang mau lembur? Ya Fana bikinin kopi. Biar enggak ngantuk," jawab Syifana.
Alvino mengangguk lalu melangkah mendekati sang istri yang masih berdiri di posisinya. "Kamu perhatian sekali. Terima kasih," ujarnya tulus.
"Sama-sama, Bang. Oh iya, Abang semangat lemburnya, yah! Atau mau Fana temani sebentar?" tawar Syifana dengan ekspresi penuh kasih.
Pria itu menjatuhkan bok*ngnya di sofa lalu mengambil laptop miliknya yang masih berada di tas kerjanya. "Memang kamu belum ngantuk?" tanya Alvino sambil membuka laptop.
"Belum, Bang. Lagi pula abang juga lemburnya di kamar. Fana enggak enak kalau tidur lebih dulu," jawab Syifana jujur.
Alvino kembali menaruh laptop ke meja lalu menatap sang istri. Senyum hangat terlukis membuat wajah itu terlihat semakin tampan. "Tidak apa-apa kalau mau tidur dulu. Saya sengaja lembur di sini sekalian menjaga kamu."
__ADS_1
"Tidak apa, Bang. Fana masih mau lihat abang kerja," jawabnya tetap pada pendiriannya.
Pada akhirnya Alvino lembur ditemani Syifana yang duduk di sampingnya. Pria itu terlalu fokus pada berkas-berkas yang tersimpan di laptop miliknya sampai tidak memperhatikan bahwa perempuan di sampingnya itu sudah menguap beberapa kali.
Beberapa saat kemudian saat Alvino berniat meminum kopi hitam bikinan sang istri, pria itu dikejutkan dengan keadaan Syifana yang sudah terlelap bersandar pada sofa. Alvino menggeleng dengan senyum merekah di bibirnya.
"Saat tidur saja kamu begitu cantik, Fana. Saya beruntung karena mendapatkan kamu," ujarnya seraya membenarkan helai rambut yang sedikit menutupi wajah sang istri.
Pria itu kembali menaruh benda canggih yang digunakan untuk bekerja tersebut. Dia bangkit lalu menggendong istrinya ala bridal style menuju ranjang.
"Tidur yang nyenyak, Sayang. Saya mencintai kamu," bisiknya ketika sudah menurunkan Syifana di kasur empuk serta menyelimuti perempuan tercintanya itu.
Setelah memastikan sang istri tidur dengan nyaman, Alvino kembali menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda. Hingga fajar tiba, pria itu justru tertidur di sofa, masih memangku laptop miliknya.
Syifana mengerjapkan mata perlahan lalu mengucek kedua matanya hingga dapat terbuka sempurna. Pemandangan pertama yang ditangkap oleh netranya adalah sang suami yang tertidur di sofa masih memangku laptop. Di meja juga berserakan beberapa kertas.
"Dia sempat memindahkan aku ke ranjang, tapi dia sendiri malah ketiduran di sofa." Syifana tersenyum tipis. "Fana bangga sama kamu, Bang."
Syifana menurunkan kakinya dari ranjang lalu bangun dan segera mendekati suaminya. Perempuan itu merapikan kertas-kertas yang berserakan di meja. Saat sudah selesai dia berniat mengambil laptop yang berada di pangkuan suaminya. Namun, sepertinya pergerakan dari sang istri mengganggu istirahat Alvino.
Pria itu terkejut dan langsung membuka mata dengan sikap waspada. Tetapi saat melihat sang istri sedang menyengir di depannya, Alvino pun menghela napas lega.
"Ternyata kamu, Fana. Maaf, saya lupa kalau kita sudah tidur sekamar lagi."
"Tidak apa-apa, Bang. Fana yang salah karena tidak hati-hati," jawab sang istri sedikit merasa bersalah. "Abang kenapa tidur di sofa?"
"Saya hanya tidak mau mengganggu tidur kamu, Fana." Alvino menjawab seraya menutup laptop lalu memasukkannya kedalam tas.
"Padahal aku malah pengen bobo bareng," gumamnya sangat lirih.
__ADS_1
"Apa, kamu serius?" pekik Alvino yang sempat mendengar gumaman sang istri