Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Hari bahagia berganti duka


__ADS_3

Pernikahan di gelar secara sederhana di ruang rawat, yang kini di hias dengan beberapa bunga berwarna-warni. Seorang gadis duduk dengan mengenakan kebaya berwarna putih, rambut yang di sanggul, terhias bunga melati yang indah. Di sampingnya, seorang pria menggunakan jas berwarna hitam tengah menjabat tangan dari ayah gadis tersebut. Dua pria berusia tidak jauh darinya, duduk di belakang sebagai saksi pernikahan.


Seorang wanita paruh baya berbaring dengan selang infus dan alat bantu pernafasan. Di sampingnya, duduk seorang wanita dengan perut buncit. Sementara seorang pria lain tengah duduk di sebuah sofa bersama dengan budenya, dia terlalu malas untuk menjadi saksi pernikahan adiknya. Jika bukan karena sang bude yang memarahinya, dia pasti dengan berani menentang pernikahan itu.


"Sudah siap?" tanya Penghulu yang duduk di sebelah ayah dari gadis tersebut.


Pria yang duduk di samping gadis cantik dengan riasan simple itu menganggukkan kepala, setelah menoleh pada calon istrinya. "Siap," jawabnya singkat.


Gadis remaja yang saat ini menjadi calon pengantin itu menahan nafas ketika merasakan gugup di hatinya. Dia begitu takut jika sang calon suami salah atau lebih parahnya tidak bisa mengikrarkan janji suci di hadapan penghulu dan para saksi yang hadir.


"Silahkan dimulai," ujar sang penghulu.


"Baiklah, Alvino Maladeva, saya nikahkan, dan saya kawinkan, engkau dengan putri saya yang bernama Syifana Mahendra, binti Mahendra. Dengan mas kawin seperangkat alat sholat, dan perhiasan berlian seberat 100 gram di bayar, tunai." Ayah Hendra menjabat dengan kuat tangan calon menantunya.


"Saya terima, nikah, dan kawinnya, Syifana Mahendra binti Mahendra dengan mas kawin yang tersebut, Tunai." Aldev mengucapkan akad nikah dengan satu tarikan nafas.


Begitu mendengar sang calon suami berhasil mengucapkan ijab Qabul atas dirinya, gadis itu menarik nafas lega.


"Bagaimana para saksi, Sah?"


"Sah/sah," ujar para saksi kompak.


Wanita yang tengah berbaring di atas ranjang pasien itu tersenyum saat sudah menyaksikan, akhirnya sang putri yang selama ini manja, sekarang sudah sah menjadi istri orang.


Seorang pria yang dengan berani meminta sang putri langsung padanya, bahkan sebelum pria itu memastikan bahwa mempelai perempuan bersedia menikah dengannya.


Syifana menyalim punggung tangan pria yang saat ini sudah resmi menjadi suaminya. Begitupun dengan Aldev, laki-laki dewasa itu mengecup kening sang istri dengan mesra.


Sebenarnya, ada sesuatu yang mengganggu hati seorang perempuan dengan perut besar yang berada di samping sang mertua. Dia merasa aneh ketika laki-laki itu menikahi sang adik tanpa membawa satupun keluarganya. Padahal, walaupun sang ayah sudah pergi untuk selamanya, dia masih mempunyai seorang ibu di rumahnya.

__ADS_1


Namun, wanita itu memilih untuk diam. Dia tidak ingin semakin merusak suasana kebahagiaan adik iparnya. Apalagi sang suami sudah terang-terangan menentang pernikahan sang adik. Sebagai seorang suami, yang istrinya pernah di cintai oleh laki-laki lain, dia belum percaya jika laki-laki itu benar-benar mencintai sang adik.


Penghulu memimpin doa-doa untuk kedua pengantin, dengan tangan mengadah ke atas. Mereka yang berada di tempat itu ikut mengaminkan, tidak terkecuali Ali. Walau harus setengah hati, nyatanya itu tidak berdampak apa-apa. Pernikahan tetap berjalan sesuai dengan apa yang di sepakati oleh orang tuanya.


Begitu doa-doa yang di pimpin oleh sang penghulu selesai, mereka meraupkan tangan ke wajah mereka masing-masing. Saat semua sudah akan mengucapkan selamat untuk kedua pengantin, tiba-tiba seorang wanita paruh baya yang terbaring dengan selang infus yang menancap di tangannya itu menarik nafas dalam, tangannya menggenggam dadanya yang terasa sesak.


Ara yang berada sangat dekat dengan sang mertua, kini histeris, saat melihat mertuanya itu kesulitan bernafas. Semua orang langsung panik, berlari mendekat pada wanita paruh baya yang terlihat berusaha mengambil nafas dalam-dalam. Detik berikutnya, tiba-tiba wanita itu menghembuskan nafas terakhirnya dengan mata terpejam sempurna. Mesin monitor EKG juga menunjukkan garis lurus, yang berarti detak jantung dan keadaan vital sang pasien dalam keadaan buruk.


Syifana langsung memeluk tubuh tak bernyawa sang ibu. Dia menggoncang tubuh sang ibu dengan kencang. Berharap sang ibu dapat membuka matanya.


Ali dengan sigap memanggil dokter untuk memeriksa keadaan sang ibu. Beberapa orang yang berada di tempat itu segera keluar untuk memberi ruang pada para medis. Syifana tetap menolak saat tubuhnya di tarik oleh kakak iparnya untuk keluar dari ruangan itu. Ara menangis saat melihat dan mengetahui bahwa sang ibu memang sudah pergi, wanita itu sempat mengecek denyut nadi di tangan dan leher ibu mertuanya sebelum akhirnya para dokter dan perawat datang ke ruangan itu.


Setelah semua orang sudah keluar dari ruangan itu, dokter segera melakukan pemeriksaan pada tubuh pasien. Dokter bahkan menggunakan alat pacu jantung untuk memancing kerja jantung pada pasien agar kembali bisa berdetak.


Namun, beberapa kali dokter mencoba, hasilnya tetap sama. Dokter menggelengkan kepala saat merasa dirinya memang tidak mampu untuk menyelamatkan pasiennya.


Para perawat melepaskan semua alat yang menempel di tubuh pasien. Menutup tubuh tak bernyawa sang pasien dengan kain yang menjadi selimutnya.


Dokter keluar dan langsung di berondong pertanyaan dari keluarga pasien yang memang sejak tadi menunggu.


"Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?" tanya Ara yang memang terlihat lebih tegar.


"Istri saya bisa di selamatkan, 'kan, Dok?" tanya Ayah Hendra selaku suami dari pasien.


Mendapat gelengan kepala dari dokter yang menangani Ibu Salma, semua orang menjerit histeris. Ali yang tengah mendekap sang adik dalam pelukannya sampai hampir jatuh, saat sang adik kehilangan kesadaran.


Gadis yang baru saja resmi menjadi seorang istri itu, pingsan di pelukan sang kakak. Gadis itu tidak kuat menahan rasa sedih saat hari bahagianya berubah menjadi duka.


Alvino yang melihat istrinya pingsan, segera merebut sang istri dari dekapan sang kakak ipar. Laki-laki itu menggendong sang istri menuju sebuah ruangan yang ada di rumah sakit itu. Dia bahkan memanggil suster untuk merawat sang istri, yang dalam keadaan tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Ara langsung memeluk kedua pria yang tengah merasakan kehancuran disana. Dia juga merasa kehilangan, selama ini, Ibu Salma selalu baik dan membelanya dalam situasi apapun. Namun, saat ini, dia harus kuat. Dia satu-satunya orang yang harus menguatkan keluarganya, kehilangan seseorang yang sangat berharga di kehidupan mereka, membuat mereka merasa dunianya hancur saat itu juga.


Ayah Hendra berlari memasuki ruangan yang menjadi tempat sang istri menghembuskan nafas terakhirnya. Bunga-bunga indah yang ada di tempat itu, menjadi pengantar kepergian roh ibu Salma dari dunia yang sementara ini.


Pria paruh baya itu terlihat sangat terpukul. Rasa cintanya pada sang istri, membuat dirinya lemah. Sekuat apapun seorang laki-laki, ketika dia kehilangan permata di kehidupannya, tentu saja merasa hancur. Laki-laki itu menangis di samping jasad sang istri. Belum berani menyentuh istrinya itu, karena air mata belum sanggup dia tahan. Dia terlalu sayang, jika air matanya sampai memberatkan kepergian sang istri.


"Sayang, kenapa pergi secepat ini? Kasihan Syifa, hari bahagianya berganti duka karena kehilangan kamu," ujarnya dengan deraian air mata di pipi tirusnya.


Seminggu di tinggal sang istri sakit, Ayah Hendra terlihat tidak terurus. Laki-laki itu selalu menolak untuk memakan apapun sejak istrinya sakit.


Seseorang menyentuh bahu pria paruh baya itu, membuatnya menoleh. Dia terdiam saat melihat kakak kandung sang istri berada di belakang tubuhnya.


"Kamu yang kuat, Hendra! Kalau kamu lemah, bagaimana dengan anak-anakmu? Sebagai seorang ayah, kamu harus bisa menguatkan putra dan putrimu," ujar wanita paruh baya itu menasehati adik iparnya.


Ayah Hendra mengangguk, laki-laki itu menghapus air mata yang masih lancang mengalir dari sudut matanya. Dia membuka penutup wajah sang istri, mengelus pipi sang istri dengan lembut. Senyum terpaksa dia berikan untuk istrinya itu. Sementara tangan yang lain menggenggam tangan sang istri dan mengecupnya lembut.


Dia berusaha tegar, wanita paruh baya itupun tahu secinta apa adik iparnya itu pada sang istri. Bagaimana kehidupan mereka sejak awal pernikahan, banyak cobaan dan rintangan yang berhasil mereka lalui bersama, hingga akhirnya adik kandungnya itu menghembuskan nafas terakhir.


Syifana baru saja tersadar dari pingsannya, gadis itu mengerjapkan matanya. Saat matanya terbuka, dia melihat sang suami tengah duduk di samping ranjang yang dia tiduri. Gadis itu segera bangkit dari posisinya saat mengingat kejadian yang terjadi pada sang ibu.


Aldev yang melihat sang istri bangun, mencegah sang istri yang ingin bangkit dari posisi berbaringnya. Namun, sifat keras kepala sang istri menglahkannya. Laki-laki itu akhirnya membiarkan sang istri untuk bangun.


"Dimana ibuku, Bang?" tanya Syifana menuntut.


"Ibu, sudah tidak ada, Fana. Kamu harus sabar," jawab sang suami dengan suara lembut.


"Jadi, ini bukan mimpi?" tanya Syifana terkejut.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2