Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Kejutan


__ADS_3

"Abang mau berangkat kantor sekarang?" tanya Syifana ketika melihat sang suami sudah rapi dengan pakaian kantor. 


"Iya, Fana. Ada meeting dengan client penting makanya tadi malam saya lembut," jawab Alvino seraya merapikan kancing lengan kemejanya. 


"Em, memangnya harta kamu masih kurang banyak, sampai harus kerja bagai kuda," lirih Syifana mengolok sang suami. 


Alvino sampai terkekeh saat mendengar olokan dari istri kecilnya itu. Pria dewasa yang kini sudah menggunakan jas hitamnya itu mengulurkan tangan dan mencubit hidung mancung sang istri karena gemas. 


"Sekarang sudah berani mengolok saya, yah, mana ada kuda setampan suamimu ini?" tanyanya penuh percaya diri. 


Bibir tipis Syifana mencebik. "Harusnya dibalik, Bang. Tidak ada kuda yang sejelek abang," jawab si istri dengan berani. 


"Wah-wah, sudah berani kurang ajar sama suami, nih! Mau dikutuk jadi Elsa?" timpal Alvino sambil menarik tubuh mungil istrinya untuk di rangkul. 


Kedua alis Syifana bertaut. "Elsa? Maksudnya di film kartun salju itu, Bang?" tebak Syifana sambil menatap ekspresi wajah suaminya. 


"Bukan, lah!" seru Alvino seraya mengayunkan langkah membuat Syifana otomatis juga ikut berjalan. 


"Lalu?" tanya Syifana dengan mata memicing. 


"Elsa yang di sinetron Indonesia itu, loh! Yang ngebohongin suaminya terus-menerus itu," jawabnya lalu melepas rangkulan di bahu istrinya dan melarikan diri. 


"Abang!" teriak Syifana kesal saat disamakan dengan sosok antagonis di sebuah sinetron yang sedang viral beberapa tahun terakhir. 


Perempuan muda itu mengejar si suami yang sudah lebih dulu melarikan diri darinya. Syifana menuruni tangga tanpa hati-hati membuatnya terpeleset dan hampir jatuh menggelinding ke bawah jika saja Alvino tidak sigap menarik tangannya. 


"Abang," lirih Syifana seraya mendongak menatap wajah tampan suaminya. 


"Hati-hati, Fana. Kalau jatuh dari tangga ini rasanya enggak enak," ujar Alvino mengingatkan. 


"Iya, Bang. Maaf," jawabnya menundukkan kepala. 


Alvino membantu sang istri untuk berdiri dengan tegak. "Ya sudah tidak apa-apa. Jangan di ulangi lagi!" 


"Iya, Bang." 


"Sekarang kita sarapan. Sepertinya saya tidak bisa berlama-lama di rumah," ajaknya seraya menggandeng sang istri. 


Mereka sarapan bersama dengan menu sarapan pagi yang sudah disajikan oleh para pelayan. Dari kejauhan Andri menatap interaksi sepasang suami istri itu dengan senyum lega. 


"Semoga anda selalu bahagia, Tuan." Andri membatin dalam hati. 

__ADS_1


"Fana, saya berangkat dulu, yah!" Alvino berpamitan setelah menghabiskan sarapan paginya. 


"Emh, hati-hati, Bang. Fana akan menunggu Abang di rumah," jawabnya dengan lembut. 


Tanpa sadar Alvino mencium kening Syifana membuat si istri terkejut. Wajahnya berubah merah merona bak kepiting rebus, sedangkan Alvino tersenyum kikuk. 


"Maaf," ucapnya merasa tidak enak. 


"Tidak apa-apa, Bang. Fana senang, kok!" 


"Ya sudah. Saya berangkat," ujarnya seraya mengelus Surai hitam Syifana. 


Alvino melangkahkan kakinya keluar dari mansion sudah ada Andri yang menunggu di mobil. Karena hari ini ada meeting dengan perusahaan dari luar negeri, Andri harus mengawal sang pemimpin agar lebih aman. 


Ketika di dalam mobil, Alvino beberapa kali terciduk sedang senyum-senyum sendiri. Andri yang melihat dari pantulan spion juga ikut tersenyum bahagia. 


"Andri, bisa saya minta bantuan kamu?" tanya Alvino yang berada di kursi belakang. 


"Tentu saja, Tuan. Apa yang perlu saya lakukan?" 


"Saya ingin memberikan kejutan untuk Fana. Kalau bisa nanti malam tolong atur dinner romantis untuk kami," pinta Alvino tanpa basa-basi. 


"Baik, Tuan. Akan saya atur secepatnya," jawab Andri dengan cepat. 


Setelah kembali dari meeting, Alvino meminta Andri untuk mengantarnya ke sebuah tempat sebelum akhirnya kembali ke kantor. Alvino harus melanjutkan pekerjaannya, sementara Andri harus secepatnya mengurus permintaan sang bos. 


Sore harinya Andri kembali ke mansion tanpa Alvino. Pria kepercayaan Alvino itu membawa sebuah goodybag berukuran besar. 


Syifana yang kebetulan sedang berada di ruang santai sambil menonton televisi melihat kedatangan Andri yang terlihat hanya sendirian. Perempuan muda itu segera mendekati sekretaris sang suami dengan raut wajah bingung. 


"Mas Andri, suami Syifa dimana?" tanyanya seraya menatap ke belakang. 


"Tuan sedang ada urusan, Nona. Saya datang untuk memberikan ini pada anda." Andri menyodorkan goodybag di tangannya pada sang nona. 


"Loh, ini apa?" tanya Syifana penasaran. 


"Silahkan nona bersiap-siap. Setengah jam lagi akan ada orang yang membantu anda merias diri," ujar Andri menjelaskan. 


"Tapi Bang Vino baik-baik saja, 'kan?" Di tengah kebingungan Syifana masih saja mencemaskan keadaan suaminya. 


"Tuan baik-baik saja, Nona. Saya permisi dulu," pamit Andri yang langsung meninggalkan istri bosnya. 

__ADS_1


Syifana menggaruk kepalanya sambil menatap kepergian Andri. Sekretaris suaminya itu benar-benar tidak menjelaskan untuk apa dia harus berdandan. Namun, dia tetap menuruti kata-kata sang sekretaris. 


Kini Syifana sudah selesai membersihkan dirinya. Dia memeriksa isi di dalam goodybag yang diberikan oleh Andri. Matanya menatap penuh haru sebuah gaun berwarna pink Salem yang kini ada di tangan. Ketika Syifana masih sibuk dengan gaun itu, ponselnya berdenting menandakan sebuah pesan masuk kedalamnya. 


"Sampai jumpa pukul delapan nanti." 


"Ini nomor punya Bang Vino?" gumam Syifana dengan senyum sumringah. 


Ketukan di pintu mengalihkan perhatian Syifana. Perempuan itu segera menuju pintu lalu membukanya. Dua orang wanita berada di depannya dengan memegang tas besar. 


"Kalian siapa?" tanya Syifana yang lupa dengan apa yang disampaikan oleh Andri. 


"Kami yang akan membantu anda berdandan, Nona." 


"Oh, baiklah. Silahkan masuk," ujarnya mempersilahkan kedua orang itu masuk. 


Kedua orang itu dengan cekatan merias wajah polos Syifana tanpa kesusahan sedikitpun. Beberapa saat kemudian mereka telah selesai melakukan tugasnya. Kini Syifana sedang berganti pakaian dengan gaun indah berwarna pink Salem yang dikirim oleh Andri tadi. 


Pukul delapan tepat, Syifana sudah sampai di tempat yang sama sekali dia tidak ketahui. Andri hanya membawanya tanpa memberitahu apapun. 


"Mas, kenapa gelap sekali? Kamu yakin kalau suamiku ada di sini?" tanya Syifana ketika sampai di tempat yang gelap tanpa sedikitpun cahaya. 


"Silahkan masuk, Nona." Andri sama sekali tidak menjawab pertanyaan istri bosnya. 


Syifana sedikit merasa takut. Perempuan muda itu memasang sikap waspada, jika tiba-tiba ternyata pria di belakangnya itu ternyata berniat tidak baik padanya. 


"Mas Andri, kamu tidak berkhianat pada suamiku, 'kan?" tanya Syifana membalikkan tubuhnya. 


"Berkhianat?" tanya Andri memicingkan sebelah matanya. 


"Kamu tidak berniat menculikku, 'kan?" tanya Syifana lagi dengan ekspresi wajah ketakutan. 


Suara tawa dari belakang tubuhnya membuat Syifana seketika membalikkan tubuhnya. Tempat itu masih saja gelap, akan tetapi ada sebuah bayangan hitam di dalam kegelapan tersebut. 


"Kamu siapa?" teriak Syifana ketakutan. 


"Kamu tidak mengenaliku?" tanya seseorang yang merupakan bayangan hitam itu. 


"Siapa?" tanya Syifana dengan tubuh gemetar. 


Tiba-tiba tempat itu menjadi terang, Syifana langsung berlari memeluk seseorang yang ada di hadapannya itu. Seseorang yang sempat membuatnya hampir m*ti ketakutan

__ADS_1



__ADS_2