
Alvino yang kini sudah merasa lebih segar kini menatap setiap sudut ruangan di kamar utama dengan nanar. Meskipun tidak mengingat jelas, akan tetapi dia masih dapat mengingat sedikit-sedikit kejadian kejam yang dia lakukan kepada sang istri.
Pria itu memejamkan kedua mata untuk menikmati rasa perih yang kini menggerogoti hatinya. Penyesalan demi penyesalan kini semakin membuat dirinya sesak. Jika saja ada cara untuk menebus kesalahannya pada sang istri, pasti sudah dia lakukan.
Kini Alvino membuka kedua matanya, manik mata tajam itu menatap pintu kamar, menurunkan kakinya dari ranjang lalu melangkah keluar dari ruangan pribadinya.
Pria itu mengintai ke segala penjuru ruangan untuk memastikan bahwa sang ibu tidak ada berada di tempat. Tangan kanannya mengelus dadanya setelah memastikan keadaan sudah aman.
"Semoga saja tidak ketahuan." Alvino melangkah menuju kamar yang sekarang di tempati oleh Syifana.
Dengan perlahan, langkah demi langkah di pijaki oleh Alvino dengan perasaan tidak menentu. Pria itu memutuskan nekat untuk menemui sang istri tanpa sepengetahuan ibunya.
Tanpa mengetuk pintu, Alvino memegang handle pintu yang kebetulan tidak terkunci. pria itu kemudian masuk ke dalam ruangan yang di tempati oleh sang istri.
"Dimana dia?" monolog pria bertubuh tinggi itu.
__ADS_1
Alvino memeriksa setiap tempat yang ada di ruangan itu. Mulai dari kamar mandi hingga balkon tidak terlewatkan. Tidak menemukan istrinya itu, Alvino kini memutuskan untuk kembali keluar dari kamar istrinya.
"Mau apa kamu?" tanya Mama Seren yang mau masuk ke kamar Syifana.
Alvino diam, hanya menundukkan kepala untuk menghindari tatapan tajam sang ibu. Dia memang selalu berani melawan siapa saja, tapi tidak dengan wanita yang sudah melahirkannya ke dunia tersebut.
"Mau apa, Al? Mencari Syifa?" tanya Mama Seren menuntut.
"Iya, Mah," jawabnya dengan suara hampir tidak terdengar.
"Bukankah sudah Mama katakan untuk tidak mengganggunya!" bentak wanita itu merasa kesal.
"Tidak ada yang perlu di jelaskan. Semua sudah cukup jelas!" seru wanita tua itu tetap pada pendiriannya.
"Mah, Plis, beri Al waktu untuk menyelesaikan masalah pribadi Al."
__ADS_1
"Kamu tidak ingat, Al? Mama pernah mengancam kamu akan Mama lempar ke sungai Amazon jika meniru kelakuan Papamu itu!"
Alvino terdiam lagi, ingatannya kembali pada saat pertama kali terbongkarnya kelakuan dan ksbejatan sang ayah yang membuat ibunya meninggalkan pria tua itu.
"Maaf, Mah, Al khilaf," lirihnya penuh penyesalan.
"Tidak ada kata Khilaf, Al. Kamu sudah merencanakan semuanya sejak jauh-jauh hari. Mama bahkan tahu kapan saat kamu menjebak gadis polos itu di sebuah daerah!"
Alvino tersentak ketika sang ibu berkata seperti itu. Dia tidak mengira bahwa ibunya akan tahu tentang kejadian sebenarnya. Sejak awal rencananya di mulai, ternyata sang ibu sudah lebih dulu peka dan mengawasinya.
"Maaf, Mah,"
"Maafmu tidak akan mengembalikan kesehatan mental istrimu, Al. bayangkan, dia masih berusia 18 tahun dan kamu berikan dia kekejaman seperti itu. Mama saja belum pernah sampai melihat apa yang di lakukan oleh Papamu terhadap setiap korbannya. sementara kamu? kamu sudah membuatnya melihat semua pekerjaan kamu yang sesat ini."
Alvino semakin menunduk, pria itu bingung untuk menjawab apa yang harus menjadi alasannya kepada sang ibu. Kekecewaan ibunya terhadap sang ayah membuat wanita itu begitu menentang kekerasan seorang suami.
__ADS_1
"Al akan berusaha mengembalikan mental, Fana."
Bersambung...