
Ali mengendarai mobilnya menuju rumahnya bersama sang istri setelah mengantarkan sang ayah ke rumahnya. Wajah pria itu masih saja memasang ekspresi sulit di tebak.
"Sun, kamu kenapa, sih?" tanya Ara yang sudah tidak tahan melihat wajah asam sang suami.
"Tidak apa-apa," jawab pria itu tanpa menoleh ke arah istrinya.
"Kamu marah karena melihat foto tadi?" tebak Ara.
Ketika mendengar Ara membahas tentang foto itu, Ali semakin kesal. Pria itu melirik sang istri dengan sinis. "Kalau tahu, untuk apa bertanya."
Ara mengangguk-anggukan kepalanya dengan jari telunjuk mengetuk-ngetuk bibir tipisnya. "Jadi benar, hanya karena foto itu." Ara merogoh sesuatu di dalam tasnya, lalu mengeluarkan ponsel dari sana.
Pria yang tengah terbakar cemburu itu hanya memantau gerakan istrinya dengan lirikan. Rasa kesal karena melihat gambar itu membuatnya bersikap seperti anak kecil yang kalah saat rebutan balon.
Sementara perempuan yang duduk di sampingnya itu mengotak-atik ponsel miliknya. Setelah menemukan apa yang di cari, perempuan itu segera menunjukkannya ke arah sang suami.
"Foto itu bukan hanya berdua saja, yang ada di mansion Kak Al adalah hasil crop'an foto ini," jelas Ara tetap menunjukkan sebuah foto yang sama persis dengan apa yang di lihat oleh mereka di mansion Alvino.
Di dalam gambar itu sebenarnya tidak hanya ada Ara dan Alvin, melainkan juga ada Reiner di bagian samping kiri Ara. Mereka memang akrab ketika masih remaja dulu. Saling menjaga satu sama lain, sebelum akhirnya Alvino harus mengikuti jejak gelap sang ayah.
Sang suami merebut ponsel milik Ara, pria itu memperhatikan foto yang ada di ponsel sang istri. Memang benar, tidak berbeda sedikitpun, hanya saja di foto yang terpajang di mansion adik iparnya itu Reiner di hilangkan.
"Kalau kamu tidak percaya, tanya saja sama Reiner. Kakakku itu juga pasti masih ingat dengan foto itu," lanjut Ara saat tidak ada jawaban dari suaminya.
Perempuan dengan gaun berwarna peach itu merebut kembali ponsel miliknya lalu memasukkan benda canggih itu ke dalam tas selempang yang tersampir di pundaknya.
__ADS_1
"Kamu kalau cemburu itu lihat-lihat, Sun. Kak Al sekarang adalah adik ipar kamu, kalau nanti Syifana tahu, dia pasti akan berpikir yang aneh-aneh tentangku." Perempuan itu menyilangkan kedua tangan di dada.
Ara mendengus kesal saat sang suami sama sekali tidak merespon semua kata-kata yang keluar dari mulutnya. Frustasi dengan apa yang di lakukan suaminya saat ini, Ara mengusap wajahnya kasar.
"Stop!" teriak Ara dengan lantang.
Ali otomatis menginjak rem ketika mendengar teriakan Ara. Suara decitan antara ban mobil yang tergesek aspal jalan hingga terdengar begitu kencang. Mobil berhenti mendadak di tengah jalan, membuat pengendara yang berada di belakang hampir menabrak mobil mereka.
"Kalau mau berhenti itu pakai sen, Lo kira ini jalan punya nenek moyang lo apa!" makian pengendara lain di dapatkan oleh Ali.
Pria itu hanya meminta maaf dengan menangkupkan kedua tangannya ke arah pengendara lain yang hampir menjadi korban dari kecerobohannya.
Ali kembali menatap sang istri, pria itu menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Meski merasa ini adalah kesalahannya, akan tetapi seharusnya Ara tidak melakukan hal itu. Selain membahayakan pengendara lain, keselamatan mereka juga menjadi taruhannya.
Perempuan yang duduk di kursi penumpang bagian depan itu mendelik tajam ke arah sang suami. Pria itu baru kali ini membentaknya setelah pernyataan cinta mereka berdua saat itu.
"Kau sekarang berani membentakku, yah! Merasa sudah hebat dalam beladiri membuat kamu menjadi pria angkuh. Aku turun disini!" seru Ara seraya membuka pintu mobil.
Perempuan itu keluar lalu membanting pintu mobil. Emosi karena sang suami mempermasalahkan masalah yang sama sekali tidak penting. Sudah jelas-jelas cintanya hanya untuk pria itu, kenapa harus cemburu dengan pria lain yang sama sekali tidak ada di hatinya.
Sejak dulu saja, dia yang sampai mengejar cinta Ali, lalu untuk apa sekarang dia berurusan dengan pria lain ketika dalam keadaan hamil. Sungguh, saat ini emosi Ara tengah berada di puncaknya.
Melihat istrinya turun dari mobil, Ali ikut turun setelah menepikan mobilnya. Pria itu mengejar langkah sang istri yang semakin jauh. Ketika berhasil mengejar langkah istrinya yang terlihat susah berjalan tetapi memaksa melangkah dengan cepat, Ali mencekal pergelangan tangan istrinya.
Langkah sepasang suami istri itu berhenti. Ali langsung menarik Ara ke dalam pelukannya. "Aku minta maaf, Moon. Entah kenapa aku tidak suka melihat foto itu, apa lagi ketika melihat kamu juga masih menyimpan foto pria itu dalam ponselmu."
__ADS_1
Saat mendengar penjelasan dari suaminya itu, Ara justru langsung melepaskan diri dari pelukan sang suami. "Kalau aku tidak simpan foto itu, dengan apa aku membuktikannya padamu?" tanya perempuan itu menatap nyalang pada suaminya.
"Maaf, Moon. Aku hanya kesal," ucapnya dengan jujur.
"Jika kamu masih meragukan cintaku, silahkan saja! Memang apa kurang semua bukti yang sudah aku lakukan? Hartaku sudah atas nama kita berdua, cintaku hanya aku berikan padamu, bahkan aku sudah mengandung anakmu, Danish!" papar Ara.
Perempuan itu merasa sang suami masih meragukan cinta yang dia berikan, padahal semua sudah dia lakukan hanya untuk sang suami. Kesalahan yang di lakukan pria itu, bahkan dia tidak pernah mengungkitnya satupun.
Kedua mata perempuan itu berkaca-kaca, bahkan sudah terlihat bagaikan bendungan air yang hampir jebol. Hanya saja Ara masih menahan air matanya agar tidak jatuh saat ini, dia tidak mau sang suami menganggapnya lemah.
"Aku mau pulang sendiri." Ara melambaikan tangan ketika melihat sebuah taksi yang akan melintas.
Taksi yang memang sedang dalam keadaan kosong itu berhenti tepat di depan sepasang suami istri itu. Ali berusaha menahan sang istri, akan tetapi Ara tetap teguh pada pendiriannya. Perempuan itu menyentak kasar tangan Ali yang menahan tangannya hingga terlepas, lalu masuk ke dalam taksi dan menutup pintu itu dengan kasar.
"Jalan, Pak!" pinta Ara pada sopir taksi.
"Baik, Nona." Taksi berjalan setelah sopir itu menginjak pedal gas.
Ali masih berusaha mengejar istrinya, pria itu bahkan mengetuk-ngetuk kaca pintu mobil taksi yang di naiki oleh Ara. Hingga dia terpaksa menghentikan langkah ketika taksi itu berjalan semakin cepat.
Pria yang merupakan suami Ara itu berlari untuk kembali ke mobilnya yang terparkir di pinggir jalan. Ketika dia akan menaiki mobil itu, pandangannya tertuju pada ban mobil yang kempes. Semakin kesal saja Ali saat ini. Pria itu bahkan menendang ban mobil yang kempes itu dengan emosi memuncak.
"Sial!" serunya frustasi.
Bersambung...
__ADS_1