
Sekian lama berlutut di depan pintu rumah ayah mertuanya guna ingin bertemu sang istri yang hingga kini belum juga keluar, Alvino akhirnya memutuskan untuk pergi. Mungkin sudah cukup perjuangan hari ini. Masih ada hari esok yang mungkin akan lebih baik.
Mobil yang dikendarai oleh Alvino keluar dari gerbang rumah sang ayah mertua, bertepatan dengan mobil yang membawa kedua perempuan yang menghuni rumah tersebut.
Syifana sedikit menajamkan penglihatannya untuk memastikan bahwa mobil yang baru saya dia lihat keluar dari rumah adalah benar milik suaminya.
"Kak, itu mobil punya Bang Vino," pekik Syifana ketika yakin bahwa mobil itu memang milik Alvino.
Ara yang sebelumnya tidak memperhatikan pemandangan di depan kini mencoba memastikan apakah yang dikatakan oleh Syifana memang benar. Meski sudah sedikit agak jauh, akan tetapi mata tajam Ara masih berfungsi dengan baik.
"Iya, Syifa! Itu plat mobil milik Kak Al." Ara menunjuk sebuah mobil yang semakin menjauh itu. "Kejar mobil itu, Pak!" perintah Ara kepada supirnya.
"Baik, Nona." Supir itu menuruti perintah sang nona tanpa berani membantah.
Mobil itu yang membawa Ara dan Syifana akhirnya mengikuti mobil yang di kendarai oleh Alvino. Namun, si sopir mengendarai mobilnya terlalu lambat hingga membuat ibu hamil yang ada di kursi belakang merasa kesal.
"Pak, memangnya tidak bisa lebih cepat lagi? Kalau seperti ini kita pasti akan tertinggal jauh."
"Maaf, Nona. Tapi Tuan tidak memperbolehkan saya mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Anda sedang hamil," tolak si sopir dengan sopan.
"Ah menyebalkan sekali. Tahu begitu tadi aku tidak perlu membawa sopir!" gerutu Ara kesal.
Cukup jauh mereka mengikuti mobil yang ada di depan. Ara semakin kesal karena sampai saat ini belum berhasil menyalip mobil Alvino.
"Kak, tidak apa-apa. Kalaupun kita tidak bisa menghentikan Bang Vino, Syifa tidak masalah," ujar Syifana yang khawatir karena beberapa kali Ara sampai memaksa sopir untuk menambah kecepatan.
"Tidak! Pokoknya kali ini kita harus berhasil!"
Ara yang semakin gemas karena si sopir tidak kunjung menurut, akhirnya mengeluarkan sebuah pistol dari tas miliknya. Perempuan hamil itu menodongkan tepat di pelipis kanan si sopir.
"Turuti mauku, atau peluru ini akan bersarang di otakmu?" tawar Ara memberikan ancaman.
"Kak-,"
__ADS_1
"Diamlah!"
Pada akhirnya sopir itu menurut pada perintah nona mudanya. Dia segera menambah kecepatan laju mobilnya hingga berada di jarak yang sangat dekat dengan mobil Alvino.
"Salip lalu potong jalan!" perintah Ara tanpa ragu.
Sopir itupun terpaksa menurut daripada nyawanya melayang sia-sia. Dia menyalip kendaraan di depan hingga berjarak sekitar lima meter dari mobil tersebut lalu berhenti dengan posisi melintang di jalan untuk menghadang jalannya mobil yang di kendarai oleh Alvino.
Alvino yang terkejut dengan apa yang dilakukan oleh mobil di depan langsung menginjak rem hingga mobilnya berhenti tepat di jarak setengah meter. Jengkel dengan apa yang di perbuat oleh pengendara di dalam mobil itu, Alvino segera turun untuk menegur cara berkendaranya yang ugal-ugalan.
Ketika Alvino sedang berjalan untuk menghampiri, tiba-tiba seseorang berlari ke arahnya. Seseorang itu berhasil membuat Alvino terpaku hingga menghentikan langkahnya. Seseorang itu tanpa aba-aba langsung mendekap tubuh gagah yang begitu dirindukan.
"Bang, Fana rindu," ujarnya semakin mengeratkan pelukan.
Alvino baru tersadar ketika merasakan ada sesuatu yang membasahi dadanya. Pria itu reflek ikut membalas pelukan hangat dari perempuan itu.
"Kamu menangis, Fana?" tanyanya berusaha memeriksa wajah perempuan tercinta.
"Bawa aku pergi, Bang!" pinta Syifana di sela-sela tangisannya.
"Syifa, kakak pulang dulu, yah!" pamit Ara kepada adiknya.
Mendengar kakaknya berpamitan, Syifana melepaskan pelukan hangat di tubuh kekar suaminya. Perempuan muda itu mengangguk setuju.
Ara pergi meninggalkan Syifana bersama Alvino. Perempuan itu sengaja memberikan ruang untuk keduanya agar dapat mencari jalan keluar bersama.
"Fana, kalau ayah mencari kamu, bagaimana?"
"Fana tidak peduli, Bang. Fana ingin bersama Abang!" Syifana tetap kekeh pada pendiriannya.
Perasaan campur aduk kini memenuhi dadanya. Alvino bingung harus mengekspresikan perasaannya seperti apa. Di satu sisi dia sangat merasa bahagia dengan pertemuan itu, akan tetapi di sisi lain dia juga tidak ingin semakin membuat ayah mertuanya marah. Namun, Syifana sepertinya juga tidak mau mendengar alasan apapun darinya.
Meskipun takut jika sang ayah mertua akan marah, akan tetapi pada akhirnya Alvino membawa Syifana untuk pulang ke rumahnya. Entah masalah apa lagi yang akan muncul nanti, yang jelas saat ini diapun tidak mau mengecewakan Syifana.
__ADS_1
Berbeda dengan kebahagiaan yang di rasakan oleh Syifa dan Alvino karena dapat bertemu setelah cukup lama terpisahkan. Ara justru sedang menghadapi kemarahan sang ayah mertua yang merasa tidak terima dengan kelancangan Ara.
"Kenapa kamu turuti permintaan anak itu, Ara? Bukankah ayah sudah memperingatkan kalian untuk tidak ikut campur masalah ini?"
"Maaf, Yah. Tapi Ara tidak tega melihat Syifa terus menangis dan bersedih. Dia berhak bahagia dengan pilihannya," jawab Ara tanpa rasa takut.
Hendra menggelengkan kepalanya. "Syifa masih kecil, Ra! Dia belum tahu apa yang dia putuskan untuk kehidupannya," tutur sang ayah.
"Mungkin ayah menganggapnya masih anak-anak, Yah. Tapi dia seorang istri. Dia berhak untuk hidup bahagia bersama suaminya," timpal Ara.
"Bahagia? Kamu bilang bahagia? Apakah selama ini Syifa pernah bahagia?" tanya Hendra dengan nada tinggi.
"Apa ayah juga bisa menjamin kebahagiaan Syifana jika memisahkan dia dari suaminya?"
Mendengar ucapan sang menantu, Hendra semakin terbakar amarah. "Kamu disini hanya menantu, Ara. Seharusnya kamu tahu batasan," ujarnya tanpa sadar.
"Ayah!" teriak Ali dari luar, dia segera berlari mendekati istrinya.
Ali memang langsung pulang begitu mendapat laporan tentang perseteruan yang terjadi. Pria itu mengkhawatirkan istrinya yang tengah hamil besar. Namun, Ara justru pergi meninggalkan kedua pria itu di tempat. Perempuan itu merasa sedikit tersinggung dengan ucapan mertuanya.
"Kenapa ayah memarahi Ara? Istriku salah apa, Yah?" tanya Ali menatap pada ayahnya.
"Tanya saja pada istrimu. Dia berpamitan akan mengajak Syifa untuk berbelanja, lalu sekarang dimana adikmu itu?" tanya balik Hendra yang belum juga bisa mengontrol emosi. "Dia memberikan adikmu pada pria pecundang itu."
Ali sedikit terkejut atas penjelasan ayahnya. Namun, dia juga tidak bisa membenarkan ucapan sang ayah yang saat ini melukai hati Ara.
"Apapun kesalahannya, seharusnya ayah tidak sekasar itu pada istriku. Ingat, Yah! Ara sedang hamil cucu ayah."
"Kalian sama saja! Sudahlah. Percuma bicara padamu, Ali. Kau sama sekali tidak becus melindungi adikmu!" Hendra bergegas pergi meninggalkan putranya yang merasa frustasi.
Bersambung...
Kak, Mampir kuy ke karya rekomendasi dari author. Ceritanya keren loh! Author DTYAS dengan judul Cinta Aku Menyerah.
__ADS_1