Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Tidak Bisa Pulang


__ADS_3

Orang-orang yang keluar dari balik pepohonan itu diyakini adalah orang-orang kiriman mantan suami Sintia. Alvino menatap kelima orang itu bergantian. Mereka sudah siap menyerang sang mangsa empuk yang hanya sendirian. 


Ketika kelima orang itu berlari mendekat, Alvino dengan cepat menyerang satu lawan yang memiliki tubuh paling kecil. Alvino memiting tangan kiri lawannya, sedang tangan kanannya yang memegang senjata diarahkan pada leher sang lawan itu sendiri. 


Keempat musuh yang lain pun mengitari Alvino yang berhasil menjadikan salah satu dari mereka sebagai perisai. Meski sudah dikepung oleh beberapa orang, nyatanya Alvino sama sekali tidak merasa terpojok. Laki-laki itu masih bersikap tenang bagaikan air. 


Ketika salah satu dari mereka maju, Alvino sigap melakukan tendangan dengan bertumpu pada si tawanannya. Orang itu terpukul mundur oleh tendangan Alvino. 


Merasa lawan mereka terlalu kuat untuk diserang secara bergantian, mereka akhirnya maju secara bersamaan. Namun, lagi-lagi Alvino sigap dalam menghadapi situasi itu. Dia kembali melakukan tendangan memutar hingga keempat lawannya terpental jauh. 


"Kau beruntung karena aku sudah tidak memiliki rasa ingin membunuh musuhku dengan keji." Alvino mendorong lawan yang sempat dia jadikan tameng itu hingga terjerembab ke tanah. 


Alvino segera berjalan menuju mobilnya pada saat itu tiba-tiba Sintia keluar dan berlari ke arahnya. Wanita itu menarik Alvino hingga laki-laki itu berada di balik tubuhnya. Matanya membelalak saat melihat seseorang telah berhasil menghunuskan sebuah belati ke perut Sintia. 


Wanita itu luruh ke tanah dengan darah mengucur deras. Alvino yang geram langsung mengeluarkan pistol miliknya lalu menembak semua musuhnya itu. Setelah melihat kelima orang itu terkapar tidak berdaya, Alvino segera mengangkat tubuh Sintia dan membawanya masuk ke mobil. 


Beruntung para musuh tadi hadir setelah dia berhasil mengganti ban mobilnya. Tanpa memperdulikan barang apa yang tertinggal. Alvino segera mengendarai mobilnya untuk menuju rumah sakit. 


"Sintia, bertahanlah. Jangan pejamkan matamu," teriak Alvino dengan khawatir. 


Laki-laki itu menambahkan kecepatan mobilnya agar cepat sampai. Suara rintihan kesakitan memenuhi mobil itu. Alvino bukannya takut, hanya saja dia merasa cemas dan khawatir jika Sintia tidak mampu bertahan. 


Beberapa saat kemudian Alvino segera menuju rumah sakit terdekat setelah berhasil keluar dari area hutan lindung itu. Prioritas utamanya sekarang adalah memastikan bahwa Sintia bisa diselamatkan.


Dia benar-benar lupa akan sang istri yang ternyata tengah menunggunya di mansion. Syifana mondar-mandir di depan pintu mansion. Berulang kali dia memeriksa ponselnya. Berharap sang suami mengiriminya pesan singkat ataupun menghubunginya. Namun, tidak ada notifikasi apapun di layar benda pipih tersebut. 


"Bang Vino kemana, sih? Kok sampai saat ini belum pulang juga." 


Seorang penjaga mendekati nyonya mudanya yang masih terlihat mondar mandir itu. "Nyonya, lebih baik anda masuk ke dalam. Angin malam tidak baik untuk kesehatan," tegur sang penjaga. 


"Tapi … suamiku belum pulang," jawab Syifana dengan ekspresi cemas. 


"Anda masuk saja dulu. Biar saya yang mencari tahu keberadaan tuan muda," pungkasnya seraya mempersilahkan Syifana masuk.


"Kabari aku jika ada kabar tentang suamiku," pinta Syifana sebelum masuk.  

__ADS_1


Akhirnya mau tidak mau Syifana masuk ke mansion. Meskipun masih mengkhawatirkan sang suami, tetapi perkataan penjaga itu ada benarnya juga. Angin kencang malam ini terasa sangat dingin, terlebih lagi hujan yang juga belum reda. 


"Bang, kamu kemana, sih?"


Syifana kembali mengotak-atik ponselnya untuk menghubungi Alvino. Jika sejak tadi panggilan tidak tersambung, kini panggilan itu tersambung juga. Namun, Syifana belum bisa bernapas lega, karena sang suami belum juga menerima panggilan darinya. 


Alvino merogoh ponselnya yang berada di saku celana. Dia buru-buru menekan tombol hijau di layar, tetapi belum sempat panggilan terhubung ponsel milik laki-laki itu tiba-tiba mati. Sepertinya kehabisan daya. 


Umpatan demi umpatan keluar dari bibir tebal laki-laki itu. Dia menjambak rambutnya kasar. Rasa bersalah merasuki dirinya karena sudah melupakan sang istri. 


"Bagaimana bisa aku lupa untuk mengabari istriku sendiri?" 


Laki-laki itu merasa frustasi karena merasa sangat bersalah. Lagi-lagi dia mengecewakan wanita tercintanya. Padahal mereka pernah saling berjanji akan selalu saling memberi kabar apapun dan tidak menutupi sesuatu satu sama lain. 


"Kalau aku tinggalkan Sintia, kasihan dia. Dia celaka juga karena menyelamatkan aku," gumam Alvino seraya memijat pelipisnya. 


Laki-laki itu menghentikan seseorang yang sedang berjalan di sana. "Berikan ponselmu padaku," ujar Alvino dengan wajah datarnya. 


Seseorang itu tentu ketakutan karena merasa sedang ditodong oleh pria di depannya. Namun, mau berteriak dan minta tolong juga percuma. Tempat ini sepi tanpa satupun orang yang melintas. 


Orang itu langsung merogoh ponselnya dan memberikan benda yang diminta oleh laki-laki garang yang masih mencekal pergelangan tangannya. 


"Ini tuan," ucapnya dengan nada bergetar ketakutan. 


Alvino menerima ponsel tersebut lalu mengeluarkan dompet miliknya. Dia mengambil uang lembaran merah yang terlihat sangat tebal lalu memberikannya pada orang tersebut. 


"Pergi sana!" 


Orang itu pergi setelah menerima uang pemberian dari si pria yang dia kira adalah penodong. Dia berlari dengan cepat untuk menghindari pria garang itu. 


Begitu sudah mendapatkan ponsel di tangan Alvino segera menghubungi sang istri. Dia benar-benar tidak ingin jika Syifana mengkhawatirkan dirinya. Terlebih lagi istrinya itu sering bertindak nekat jika memiliki kemauan. 


"Hallo," sapa Syifana dengan suara cemas. 


"Sayang," panggil Alvino kepada sang istri. 

__ADS_1


"Bang Vino. Ini beneran kamu, Bang?" tanya Syifana antusias. 


"Iya, Sayang. Ini aku," jawabnya singkat. 


"Abang dimana?" tanya Syifana dengan cepat. 


"Kamu kenapa belum tidur?" tanya balik Alvino mengalihkan pembicaraan. 


"Fana belum bisa tidur, biasanya Abang yang menidurkan Fana," ujarnya frontal. 


Alvino terkikik geli ketika mendengar ucapan frontal sang istri. Perempuan itu sudah tidak malu-malu lagi menunjukkan sisi manjanya. 


"Sayang, jangan memancingku. Aku sedang tidak bisa pulang sekarang," ucap Alvino yang seketika membuat Syifana diam. 


"Sayang," panggil Alvino ketika tidak mendengar suara sang istri. 


"Kenapa tidak bisa pulang? Abang punya istri lain." Syifana kembali bersikap kekanak-kanakan.


"Ya ampun, Sayang. Aku tidak mungkin memiliki istri lain. Hanya kamu yang aku cintai," jawab Alvino dengan cepat. 


"Kalau begitu pulang sekarang!" perintahnya dengan tegas. 


"Maaf, Sayang. Aku benar-benar belum bisa pulang." 


"Fana tidak mau tahu. Abang pulang sekarang atau Fana keluar dari mansion?" tanyanya mengancam. 


Alvino menghela napas berat. Istrinya itu memang sekarang lebih berkuasa dari pada dia. Perempuan tercintanya itu kerap kali memerintahnya tanpa mau mendengar penawaran darinya. 


"Fana, tolong mengerti. Aku benar-benar belum bisa pulang malam ini." 


"Maaf, Tuan, Nyonya memerlukan transfusi setelah kehilangan banyak sekali darah." 


Suara dokter yang tiba-tiba berucap tanpa permisi itu membuat Alvino tersentak kaget. Laki-laki itu tidak sengaja menjatuhkan ponsel yang awalnya menempel di telinga hingga membentur lantai dan pecah. 


"Hallo, Abang. Bang Vino!" bentak Syifana lalu memeriksa ponselnya, ternyata panggilan telah berakhir. 

__ADS_1


"Suara siapa tadi? Lalu, yang dimaksud nyonya itu siapa? Apakah benar, Bang Vino sudah menikah lagi dibelakangku?" monolog Syifana dengan nada kecewa. 


__ADS_2