
Dua wanita memasuki sebuah mansion yang tidak kalah besar dari mansion Alvino. Seorang perempuan muda yang kini tengah mengedarkan pandangan itu merasa takjub dengan rumah yang di injak olehnya saat ini.
Sebuah hunian yang sangat megah, dan mewah. Walaupun hanya terdapat 2 lantai di mansion itu, akan tetapi besarnya terlihat lebih luas dari mansion yang baru saja dia tinggalkan dengan terpaksa.
Saking luasnya mansion itu, untuk naik ke lantai 2 terdapat dua tangga berukuran besar yang berada di sisi kanan dan kiri lantai utama.
Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dengan bibir yang berwarna merah terang, menggandeng seorang perempuan muda dengan pelan. Wanita itu tersenyum lembut kepada perempuan muda yang memandangnya dengan raut wajah tidak percaya.
"Kamu akan tinggal disini bersama Mama, Fana. Mama tidak akan mengijinkan suamimu itu menjemput kamu, sebelum dia sadar dengan kesalahannya." Wanita itu membantu perempuan muda yang berjalan dengan tertatih itu untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Tapi, Mama, Fana akan berdosa kalau meninggalkan suami tanpa izin darinya."
Wanita yang di panggil Mama oleh Syifana itu duduk di samping perempuan muda yang menggunakan sweter tebal dan syal yang melingkar di lehernya. "Suama seperti apa dulu, Sayang? Al bukan suami baik yang pantas untuk kamu hormati," ujarnya dengan sedikit malu.
"Mama bahkan menyesal karena melahirkan anak seperti monster itu!"
Perempuan muda itu langsung memeluk tubuh sang mertua. Dia tahu, wanita paruh baya itu begitu sangat kecewa dengan sifat anaknya sendiri. Namun, mereka juga tidak bisa menyalahkan hanya dari segi ibu yang tidak mendidik anaknya dengan benar.
__ADS_1
"Mam, tolong jangan bilang seperti itu. Suami Syifana, tetaplah suami terbaik yang Fana punya. Sampai kapanpun, Bang Vino tetap suami Fana, Mam."
Mama Seren tersenyum lalu tangannya mengelus puncak rambut menantu yang berada tepat di sampingnya. "Kamu memang wanita yang baik, Fana. Mama bersyukur karena mendapatkan kamu sebagai pendamping Al, putra Mama," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Setelah cukup lama beristirahat dan berbincang di ruang tamu, kini kedua wanita itu naik ke lantai dua. Masih dengan sang mertua yang menggandeng menantunya dengan hati-hati, takut jika sang menantu akan merasa lemas ataupun pingsan.
Satu persatu anak tangga di pijaki oleh kedua wanita itu, Syifana sampai pusing karena berusaha menghitung total anak tangga dari lantai satu menuju lantai dua.
Ketika sudah berada di lantai dua mansion. Mama Seren langsung membawa sang menantu untuk menuju kamar yang berada tepat di samping kamar yang dia gunakan.
Saat pintu di buka oleh wanita paruh baya itu, Syifana terkejut dengan penampakan bagian dalam kamar yang akan menjadi tempat istirahatnya.
Perempuan itu menatap setiap sudut yang ada di sana. Kamar itu terlihat mewah dengan ornamen-ornamen klasik yang menghiasi.
"Ini kamar kamu, Sayang!" seru Mama Seren memberi tahu sang menantu.
Syifana menatap sang mertua tidak percaya, dia merasa tidak pantas mendapatkan kebaikan dari mertuanya itu.
__ADS_1
"Mam, ini terlalu berlebihan untuk Fana."
.
.
.
.
.
Sementara Alvino yang baru saja kembali ke mansion, terkejut saat tidak mendapati ibunya atau sang istri di dalam mansion tersebut. Pria itu mencari ke semua penjuru mansion berukuran besar itu seorang diri. Dia terlalu gengsi untuk bertanya kepada penjaga atau pembantu yang sedang bertugas tentang istri yang sejak awal dia bawa tidak pernah dia perlakukan dengan baik.
Namun, sekian lama mencari pria itu sama sekali tidak menemukan tanda-tanda keberadaan sang istri. Frustasi, pria itu kembali ke kamar sederhana yang menjadi kamar Syifana sejak perempuan itu tinggal di tempat itu.
Alvino langsung menuju lemari untuk memastikan bahwa apa yang dia pikirkan tidak terjadi, akan tetapi harapannya hancur ketika membuka lemari itu dalam keadaan kosong.
__ADS_1
"Mama!"
Bersambung...