Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Pengecut


__ADS_3

Usai berhasil memberi pengertian kepada Syfana, Ara menemui Reiner yang memang juga dia panggil ke mansion. Lelaki berparas tampan yang semula duduk di sofa, kini bangkit setelah melihat kedatangan sang adik.


"Gimana, Ra?" tanya Reiner cemas.


"Syfa masih seperti dulu, Kak. Dia masih saja memikirkan Kak Al," jawab Ara seadanya.


"Ya sudah, biarkan saja dulu. Kita harus memahami dia. Pasti tidak mudah berada di posisinya," ucap Reiner yang diangguki oleh adiknya.


Ara kini duduk di sofa ruang tamu, diikuti oleh Reiner yang juga mendaratkan bokongnya di samping sang adik. "Pencarianku belum membuahkan hasil. Andri juga tidak mau membuka mulut," kata Reiner, sambil menghela napas.


"Aku curiga ada sesuatu yang direncanakan oleh Andri, Kak," sahut Ara, sambil menatap sang kakak.


Reiner dan Ara sedang berbincang serius tentang sekretaris Alvino itu. Namun, pembicaraan mereka terpaksa berhenti usai kedatangan Dafid, anak angkat Syfana dan Alvino. Anak lelaki itu baru saja pulang dari sekolahnya.


"David," panggil Ara ketika melihat keponakannya itu.


Anak lelaki itu menoleh, lalu tersenyum saat melihat sang tante ada di sana. Tanpa membuang waktu David langsung menghampiri om dan tantenya.


"Om dan Tante kapan datang?" tanya David setelah mencium punggung tangan kedua orang dewasa itu.


"Tante dari pagi, Sayang. Kak Arina telfon dan minta Tante buat ke sini," jawab Ara lembut, sambil menepuk ruang kosong di antara dirinya dan Reiner.


David mengerti dengan apa yang diperintahkan oleh Ara. Anak kecil itu langsung duduk di tengah-tengah om dan tantenya. "Tante mau enggak nginep di sini sampai Oma pulang?" tanya David dengan sorot mata penuh harap.


Ara tersenyum tipis, kemudian mengangguk kecil. "Tante dan Twins A akan nginep di sini selama satu pekan. Minggu depan Oma akan pulang ke sini," ucap Ara yang langsung membuat David bersorak.

__ADS_1


*****


Di negara lain, seorang wanita paruh baya baru saja turun dari sebuah mobil mewah. Dia melangkah dengan tegas menuju rumah minimalis yang terlihat sepi. Setiap orang yang lewat pasti akan mengira rumah itu tidak berpenghuni. Namun, nyatanya ada sesosok pria yang tinggal di sana.


Pintu rumah itu terbuka usai si wanita paruh baya menekan kode yang valid. Sosok wanita itu masuk tanpa permisi ke dalam rumah yang memang sangat sepi. Tanpa basa-basi, dia mengayunkan langkah menuju kamar yang terdapat di rumah tersebut.


Begitu pintu kamar terbuka, si wanita paruh baya menggeleng seraya berdecak. "Kamu masih saja keras kepala, Al," ucapnya, sambil mengayunkan langkah menghampiri seorang pria yang masih duduk di depan jendela kamar.


Pria itu hanya menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada pemandangan di luar yang sebenarnya hanya menampilkan beberapa awan cerah. Sementara itu, si wanita yang merasa diabaikan pun geram dan membalik kursi roda yang diduduki oleh si pria.


"Kenapa, sih, Mam?" tanya si pria lirih.


"Kapan kamu mau kembali, Al?" tanya balik si wanita paruh baya geram. "Kamu tidak kasihan pada istri dan anak-anak kamu?"


"Mereka akan lebih baik tanpa aku, Mam. Jika bersamaku, mereka akan selalu hidup dalam bahaya," ucapnya lemah, dia kembali membalikkan kursi rodanya menghadap jendela kamar.


"Alvino Maladeva sudah m*ti, Mam. Sekarang aku hanyalah Alvin si lumpuh dan cacat," jawabnya tanpa semangat.


Seren menghela napas berat. Sudah sebulan lamanya dia berusaha meyakinkan sang anak untuk kembali bangkit. Namun, anak tunggalnya ini sepertinya benar-benar sudah tidak memiliki gairah untuk hidup normal lagi.


"Mami tidak menyangka kamu selemah ini, Vin. Kasihan sekali Fana. Dia hamil, tetapi harus kehilangan suaminya," ucap Seren tanpa sadar.


Alvino seketika menoleh dengan raut wajah terkejut. "Fana hamil, Mam?" tanyanya dengan suara bergetar.


Seren terdiam, dia enggan menjawab pertanyaan sang putra. Wanita paruh baya itu sudah muak dengan sikap kekanak-kanakan sang putra yang justru memilih bersembunyi daripada kembali pada keluarganya.

__ADS_1


"Mam, jawab Vino!" seru Alvino menuntut.


"Iya. Fana hamil anak kamu, Vin. Setelah sekian lama menunggu, kalian akhirnya akan memiliki keturunan yang berasal dari benih kamu sendiri," jawab Seren gamblang.


Kini giliran Alvino yang terdiam, lelaki itu benar-benar syok dengan berita yang disampaikan oleh sang ibu. Istrinya hamil? Mereka akan segera memiliki anak setelah lama menunggu? Waktu itu kini tiba? Tetapi kenapa harus dalam keadaan seperti ini? Banyak sekali pertanyaan yang bersarang di otak lelaki lumpuh itu.


"Vin, kamu benar-benar tidak ingin pulang?" Untuk kesekian kalinya seren bertanya pertanyaan yang sama. Berharap sang putra akan berubah keputusan. Namun, anaknya itu hanya menggeleng.


"Kenapa, Vin? Apa kamu tidak lagi menyanyangi Syifana?" tanya Seren, belum mau menyerah.


"Mereka lebih aman jika tidak bersamaku, Mam. Cobalah mengerti," ucapnya lirih, "lagipula, Fana pasti akan ketakutan jika melihat rupaku sekarang," lanjut Alvino dengan senyum kecut.


Ya, Alvino Maladeva memilih menghilang dari kehidupan semua orang yang dicintainya usai kejadian balas dendam Gevano dan Felix waktu itu. Sebuah kejadian yang mengakibatkan Alvino lumpuh dan wajahnya terluka parah. Dokter sampai menyarankan agar lelaki itu menjalani operasi plastik. Namun, Alvino menolak karena tidak ingin ada yang berubah dari dirinya.


Lagi, Seren menggeleng tak percaya. Wanita yang masih terlihat cantik di usia senjanya itu sama sekali tidak habis pikir dengan jalan pikiran sang putra. "Kamu menganggap Fana mencintai kamu hanya karena fisik, Vin? Sehingga dia akan kabur jika melihat kamu yang buruk rupa ini?"


Alvino tidak menjawab, lelaki itu hanya terdiam seribu bahasa. Kini pikirannya melayang, membayangkan sang istri yang saat ini tengah hamil dan tanpa kehadirannya sebagai seorang suami.


"Baik, Mami akan pulang dan menjaga menantu serta cucu Mami sendiri. Kamu, silahkan berteman dengan keegoisan kamu ini," ucap Seren yang sudah kehilangan kesabaran.


Ibu kandung dari alvino itu kini melangkah pergi, meninggalkan sang putra yang masih saja diam seperti patung. Entah alasan apa yang sebenarnya menjadi pemicu lelaki itu bersembunyi. Rasanya jika hanya karena takut, itu tidak mungkin.


Usai kepergian sang ibu, air mata Alvino luruh begitu saja. Lelaki itu sudah tidak mampu menahan gejolak kerinduan yang kian membuncah di dalam hati. Kabar bahagia yang dibawa oleh ibunya, dia tidak tahu harus bahagia atau sedih menanggapi kabar tersebut.


"Fana, maafkan aku yang terlalu pengecut. Aku hanya tidak ingin kamu dalam bahaya jika terus bersamaku," ucapnya lirih disertai derai air mata.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka jika kamu selemah ini, Kak Al." Suara seorang wanita mengejutkan Alvino yang tengah meratap.


__ADS_2