Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Jatuh talak


__ADS_3

Alvino melangkah dengan gontai menuju kamar rawat sang istri yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya. Pria itu tidak pernah menyangka bahwa usia pernikahannya akan secepat ini berakhir. 


Namun, semua harus dia terima. Tidak akan ada asap jika tidak ada api, pribahasa itulah yang kini terjadi dalam kehidupannya. Mau tidak mau, iklas ataupun tidak, dia harus melepaskan perempuan yang baru saja berhasil merebut hatinya. 


Di belakangnya, Ara dan sang mertua berjalan mengikutinya. Hati pria itu terasa teriris manakala bibirnya harus terlatih mengucapkan kata talak untuk sang istri. 


Pintu ruangan itu terbuka, ketiga orang itu masuk ke kamar inap Syifana. Saat memasuki tempat itu, kedua mata Alvino terasa panas. Menyaksikan sendiri sang istri terbaring lemah di brankar pasien. Wajahnya terlihat pucat pasi. 


Rasanya Alvino ingin menangis detik itu juga. Namun, sebisa mungkin dia berusaha menahannya. Dia tidak mau terlihat lemah oleh istrinya. 


"Bang Vino." Syifana yang semula berbaring langsung berusaha bangkit ketika melihat kedatangan suaminya. 


"Fana." Alvino yang akan berlari guna melarang perempuan itu bangun, mengurungkan niatnya ketika sang ayah mertua sudah lebih dulu melakukannya. 


"Ayah, kalian juga ada disini?" tanya Syifana dengan nada yang masih lemah. 


"Tentu saja, Nak. Mulai saat ini, ayah akan menjaga kamu." 

__ADS_1


Syifana tersenyum lembut disertai gelengan kepala pelan. "Ayah, Syifana sudah punya suami. Jadi, suami Syifa yang akan menjaga Syifa. Benar, 'kan, Bang Vino?" Tatapan Syifana beralih pada suaminya yang hanya berdiri mematung. 


Perempuan itu merasa sedikit bingung saat melihat sang suami tidak berniat mendekat. Pria itu bahkan terkesan seperti sedang menjaga jarak darinya. 


"Bang Vino, sini." Syifa melambaikan tangan ke arah sang suami. 


"Sudahlah, Syifa. Biarkan saja dia disana," sahut Hendra melarang putrinya. 


"Apa, sih, Yah. Bang Vino itu suami Syifa, mana boleh dia jauh-jauh dari Syifa." 


Perempuan itu belum juga sadar dengan situasi yang terjadi saat ini. Dia bahkan belum mengetahui tentang janin dalam kandungan nya yang tidak bisa diselamatkan. 


"Bang! Sini. Fana punya kabar baik, loh," ucapnya dengan nada gembira. 


Wajah pucat itu menyamarkan rona kebahagiaan seorang perempuan dengan pakaian khas pasien rumah sakit itu. Hal itu yang semakin membuat hati Alvino terasa hancur berkeping-keping. 


"Bang Vino enggak mau dengar kabar gembira dari Fana?" tanya Syifana saat melihat reaksi datar sang suami. 

__ADS_1


"Kak Al, dia begitu hebat menyembunyikan perasaannya sendiri. Padahal aku tahu, dia tengah hancur sekarang." Ara membatin dengan perasaan sedih. 


"Aku tidak peduli lagi padamu, Fana. Mulai saat ini, kau bukan istriku lagi. Aku menjatuhkan talak atas kamu," ujar Alvino dengan suara lantang. 


Kedua tangan Alvino mengepal sempurna hingga buku tangannya memutih. Bibirnya terasa kelu setelah mengucapkan kata menyakitkan barusan. Matanya sudah terasa sangat panas akibat terlalu lama menahan air mata yang sebentar lagi akan mendobrak keluar dari tempatnya. 


Kebahagiaan yang di rasakan oleh Syifana seketika hancur lebur, mendengar kata talak yang di ucapkan suaminya membuat hatinya terasa di ledakan menggunakan bom atom. Semua hancur berkeping-keping hingga tidak tersisa. 


Syifana masih menatap wajah tampan suaminya, pria yang biasanya rapi itu kini terlihat acak-acakan. Tubuh yang dulu berisi kini terlihat kurus. Perempuan itu mengira sang suami mencarinya selama ini. Namun, ternyata ketika mereka bertemu pria itu justru tega menjatuhkan talak atas dirinya yang masih dalam keadaan mengandung. 


"Enggak, Bang Vino bercanda. Jangan bercanda dengan kata-kata talak, Bang! Itu tidak di perbolehkan. Lagi pula Fana sekarang hamil, di perut Fana ada calon anak Bang Vino." Syifana menggelengkan kepala keras seraya tangannya mengelus perut, menunjukkan bahwa disana ada buah hati mereka. 


"Saya serius, Fana. Saya tidak pernah main-main dengan ucapan saya." Alvino membalikkan tubuhnya lalu bergegas pergi meninggalkan tempat itu. 


Meskipun berat, dia melanjutkan langkahnya untuk segera keluar dari tempat itu. Dia merasa tidak kuat lagi menahan air mata yang sejak tadi memenuhi kelopak matanya. Benar saja saat melangkah keluar dari pintu, air mata mengalir deras dari kedua mata tajam Alvino.


Kehilangan Syifana ternyata lebih sakit dari pada saat dia kehilangan Ara dulu. Dia sadar bahwa dia sudah benar-benar mencintai perempuan berusia 18 tahun itu, berbeda dengan perasaannya saat mengejar Ara, karena itu hanyalah obsesi belaka. 

__ADS_1


"Semoga kamu bahagia, Fana." Alvino mempercepat langkahnya. 


"Berhenti, Bang Vino!" Teriakan itu membuat langkah Alvino berhenti sejenak, akan tetapi pria itu kembali melangkah saat merasa keputusannya saat ini adalah yang terbaik. 


__ADS_2