Dendam Cinta Tuan Alvin

Dendam Cinta Tuan Alvin
Pelukan Ibu


__ADS_3

Ali duduk termenung sendirian di taman kecil di belakang rumah sang ayah. Di sanalah tempat almarhumah ibunya sering menghabiskan waktu dengan menanam aneka bunga. Tatapan matanya tertuju pada setangkai bunga mawar putih yang sedang mekar. 


Bunga itulah tanaman terakhir yang di tanam oleh sang ibu sebelum sakit dan akhirnya meninggal dunia. "Ibu, kalau saja ibu masih disini. Ali yakin, ayah tidak mungkin mengekang Syifa dengan keegoisannya," ujar Ali yang masih berandai-andai. 


Calon ayah dari bayi kembar itu memejamkan kedua matanya. Membayangkan sang ibu tiba-tiba berada tepat di sampingnya. Ketika Ali merasakan ada tangan yang memegang bahunya, diapun membuka mata. 


"Ibu," lirihnya disertai senyum ceria. 


"Kamu sehat, Sayang?" tanya si ibu penuh perhatian. 


Ali mengangguk mantap. "Ali sehat, Ibu. Tapi Syifa … Ali sudah gagal menjaganya," sesal Ali dengan mata berkaca-kaca. 


Ibu Salma menggeleng pelan. "Kamu tidak gagal, Ali. Kamu hanya belum berhasil, ibu yakin kamu akan tetap menjadi abang terbaik untuk syifa. Jangan menyerah," tutur ibu dengan suara lembutnya. 


Ali menggenggam tangan sang ibu begitu erat. "Jangan pergi, Bu. Ali tidak bisa menyadarkan ayah," pinta Ali memohon. 


Ibu Salma menarik Ali kedalam dekapan hangatnya. "Maaf, Ali. Tapi tugas ibu di dunia sudah selesai. Sekarang lanjutkan tugas ibu untuk menjaga Syifa dengan baik, hanya kamu harapan dia satu-satunya." 


"Tapi, Ali tidak bisa selalu berdebat dengan ayah. Ali tidak ingin menjadi anak durhaka, Bu." Ali meracau di pelukan sang ibu. 


Elusan lembut di kepalanya membuat Ali sedikit merasa lebih baik. Pria itu akhirnya bisa menetralkan perasaan bersalah dalam hatinya atas nasib yang di alami oleh sang adik. 


"Jangan pernah membantah ayah lagi. Kamu bisa membantu Syifa tanpa sepengetahuan ayah. Mintalah tolong pada istrimu," ujar sang ibu begitu lembut dan menenangkan. 

__ADS_1


"Tapi bagaimana caranya, Bu?" Saat Ali mendongak, sosok sang ibu tiba-tiba menghilang. 


Ali mengedarkan pandangan ke seluruh sudut taman untuk mencari keberadaan sang ibu. Namun, dia sama sekali tidak menemukan wanita yang sudah melahirkannya 25 tahun yang lalu. 


"Ibu!" teriak Ali dengan suara lantang. 


"Sun, sun! Bangun. Hey, Danish." Suara di susul tepukan keras di pipi membangunkan Ali dari tidurnya. 


Ali mengucek kedua matanya perlahan lalu mencoba membuka mata dengan sempurna. Betapa terkejutnya dia saat ternyata dia tengah berada di atas pusara sang ibu, memeluk gundukan tanah kering bertabur bunga. 


"Moon, kenapa aku ada di tempat ini?" Ali mengedarkan pandangan. "Ibu dimana?" tanya Ali kebingungan. 


Ara menggelengkan kepalanya dengan helaan napas panjang. "Kamu kabur ke makam ibu, dan malah tidur disini. Kamu mencari ibu, beliau ada di dalam pusara." 


Ali menatap papan nisan yang bertuliskan nama sang ibu dengan wajah sendu. Ternyata barusan dia hanya bermimpi, bertemu dengan wanita lemah lembut itu. Padahal pelukan hangatnya sangat terasa nyata untuknya. 


Meski belum sadar sepenuhnya, Ali menuruti ajakan sang istri untuk pulang ke rumah. Pria itu berjalan berdampingan dengan Ara menuju mobil miliknya.


"Mana kunci mobilnya?" pinta Ara mengulurkan tangan. 


"Biar aku yang menyetir," tolak Ali dengan cepat. 


"Aku tidak mau mengambil resiko. Cepat berikan kunci mobilmu!" perintah Ara garang. 

__ADS_1


Terpaksa Ali memberikan kunci mobilnya pada Ara. Istrinya itu tidak akan pernah mau mengalah jika sudah menentukan keputusan. 


"Dean," panggil Ara dengan tegas. 


"Ya, Nona." Dean muncul dari balik mobil milik Ali. 


"Bawa pulang mobil suamiku, biar kami ikut bersama Boy." Perintah Ara tanpa pikir panjang. 


Ali menatap tidak suka pada pemuda di hadapannya. Nama itu masih saja mengingatkannya pada saat sang istri membandingkan dirinya dengan seorang sekretaris kepercayaan sang istri. 


"Ayo, pulang! Kasihan Syifa kalau kita terlalu lama pergi." Ara menarik tangan suaminya untuk segera masuk mobil yang di kendarai oleh Boy. 


Mereka dalam perjalanan kembali ke rumah sang ayah. Untuk sementara waktu mereka memang tinggal bersama untuk mengurus Syifana. Ara tidak mau jika adik iparnya itu tidak ada yang mengurus. 


"Danish, jika kamu mau membantu Syifa, tolong tidak perlu mendebat ayah. Kasihan beliau sudah tua, ibu juga sudah tidak ada. Semua yang di lakukan oleh ayah, itu semata-mata karena ayah tidak mau Syifa disakiti lagi oleh Kak Al." Ara menasehati sang suami. 


"Tapi bagaimana caranya membantu Syifa, Moon. Aku harus bagaimana?" tanya Ali frustasi. 


"Aku yang akan membantumu, tapi berjanjilah padaku bahwa kamu tidak akan pernah membangkang perintah ayah lagi."


"Baiklah, aku berjanji. Sekarang kamu pergi menyusulku, lalu Syifa bersama siapa?" tanya Ali dengan tatapan curiga. 


"Ku tinggal bersama dengan Gevano," jawab Ara singkat. 

__ADS_1


Kedua mata Ali membola sempurna saat mendengar jawaban istrinya. Jika memang mau membantunya, lalu apa maksud sang istri justru meninggalkan Syifa bersama dengan pria lain. 


"Kamu sudah gila, yah!" 


__ADS_2