
Alvino hanya berani melirik seseorang yang sudah membuat dirinya terkejut dan mengorbankan bok*ngnya tanpa alas empuk itu tanpa sedikitpun mengajukan komentar. Pria yang masih menggunakan pakaian kantor itu bangkit lalu mengelus pelan bagian yang masih terasa nyeri.
"Kenapa, Al? Sakit, yah?" tanya seseorang itu pura-pura lugu.
"Sudah tahu sakit, ngapain nanya?" gumamnya kesal.
Seseorang itu menyeringai penuh kepuasan. Meski begitu diapun merasa lega karena dapat melihat wajah kesal putranya. Kekhawatirannya beberapa hari ini selama berada di luar negeri ternyata tanpa alasan. Alvino, putranya ternyata sudah berubah menjadi pria kuat dan tegar. Tidak seperti saat kehilangan Ara, dulu.
"Mama rasa masih kurang, Al. Seharusnya mama kagetkan kamu kalau lagi melamun di balkon saja, yah! Ah, ternyata rencanaku gagal total." Seren meracau untuk menggoda si putra.
Mendengar itu Alvino menatap tajam sang ibu sekilas sebelum akhirnya mendudukkan dirinya di ranjang empuk. "Silahkan jika mama ingin membun*hku," ucapnya seraya mengendurkan dasi yang terasa mencekik leher.
Si ibu tertawa lepas ketika mendengar ucapan yang keluar dari bibir sang putra. Anaknya itu sudah berlagak seperti orang yang dilanda keputusasaan. Wanita paruh baya itu berjalan mendekat lalu duduk di samping putranya.
Seren menggenggam erat tangan putranya lalu memberikan elusan lembut di punggung tangan itu. "Al, boleh mama bicara serius sama kamu?" tanyanya dengan suara lembut.
Alvino tidak menjawab dengan ucapan, hanya anggukan kecil yang dilakukan olehnya. Tidak biasa sang ibu akan meminta izin jika hanya ingin berbicara dengannya.
"Mama pernah kecewa oleh takdir. Takdir yang tidak berpihak pada mama sejak menjadi istri papa kamu. Tahu sendiri bagaimana papamu selalu memperlakukan mama seperti itu. Dia memang tidak pernah menyiksa mama, Al." Seren menjeda ucapannya untuk menarik napas dalam-dalam, rasa sesak itu kembali muncul di dada.
"Tapi dia tidak pernah memberikan mama hak sebagai istri, dan paling parahnya ternyata papa tidak hanya memiliki mama sebagai pendampingnya." Seren mengenang tentang kilas balik hubungan pernikahannya dengan seorang pria yang memberinya satu keturunan.
"Mah," potong Alvino saat sang ibu akan kembali membuka suara.
"Mama tidak apa-apa, biarkan apa yang terjadi pada mama menjadi contoh untuk kamu, Al. Mama berharap kamu tidak akan mengikuti sifat dan sikap buruk papa kamu," timpal sang ibu saat tahu maksud sang putra.
__ADS_1
Alvino terdiam dengan pandangan menunduk, bukan karena lantai di bawah sana terlalu mengalihkan perhatian. Namun, rasa malu tengah menyergapnya. Ya, Alvino malu karena pada kenyataannya diapun tidak lebih baik dari sang ayah. Mereka sama-sama brengsek dan tidak pernah menghargai keberadaan pasangannya.
"Kamu kenapa diam, Al?" tanya si ibu seraya berusaha menegakkan kepala sang anak dengan memegang dagu lalu sedikit mengangkatnya.
"Mah, bukankah Al dan papa sama saja? Kami adalah kepala rumah tangga dan suami yang jauh dari kata baik. Semua yang kami lakukan hanya menyakiti perempuan yang mencintai kami, Mah."
Kedua sudut bibir Seren terangkat membentuk sebuah haris senyum yang begitu menenangkan. Wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan ucapan si putra.
"Kamu berbeda, Al. Kamu tidak sama seperti papa. Mama sudah melihat sendiri bagaimana kamu sekarang berjuang dan berusaha memperbaiki diri. Kamu sudah bisa melepaskan ambisi yang sudah merusak kamu, Al. Mama percaya kamu akan berhasil," ujarnya seraya mengacak rambut Alvino yang sedikit lebih panjang dari biasanya.
"Maksud mama tahu tentang apa?" tanya Alvino seraya menatap sang ibu.
Lagi-lagi Seren tersenyum hangat, wajah yang masih terlihat cantik meski sudah berumur itu terpancar kebahagiaan. "Mama bangga karena kamu sudah melepaskan wild wolf, nama itu hanya akan membawa kamu pada ambisi jahat seperti papamu, Al."
Alvino sedikit terkejut karena ternyata berita itu sudah sampai di telinga sang ibu. Awalnya dia merasa ragu dan takut jika wanita yang sudah melahirkannya itu akan mengajukan keberatan atas keputusan yang diambil.
Sang ibu menggeleng masih dengan senyum hangat itu untuk sang putra. "Mama tahu kamu sudah dewasa, kamu pasti memiliki alasan kenapa kamu memilih jalan itu, 'kan? Dengan kehilangan calon keturunanmu, mama yakin kamu tidak akan lagi sembarangan dalam mengambil keputusan," jawabnya tanpa keraguan, raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkan gurat rasa kecewa.
"Pikirkan baik-baik, Al. Kamu masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki semuanya, mama pergi dulu." Seren berdiri lalu melangkah menuju pintu.
Saat sudah membuka pintu kamar sang putra, wanita itu menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah sang putra yang juga sedang menatapnya. "Berjuang boleh, Al. Tapi urus juga dirimu. Jangan sampai jadi kerempeng dan gondrong seperti ini. Nanti Syifa kecantol pemuda yang lebih tampan darimu," ujarnya menggoda sang putra agar mau tersenyum.
Usaha mama Seren ternyata tidak sia-sia. Alvino menunjukkan lengkungan tipis di kedua sudut bibirnya. "Dia hanya mencintaiku, Mah. Jadi jangan pernah berpikir dia akan melirik pria lain," jawabnya penuh percaya diri.
"Bagus kalau begitu, berarti kamu akan lebih mudah membawa menantu mama untuk kembali. Buktikan omong besarmu itu, Al. Mama menunggu," tantang si ibu sebelum akhirnya benar-benar keluar dari kamar.
__ADS_1
Setelah pintu kamar tertutup, meninggalkan kesunyian di dalam kamar besar nan megah itu. Saking sunyinya tempat itu, suara embusan napas dari hidung Alvino sampai terdengar oleh kedua telinganya sendiri. Lagi-lagi senyum kecut yang menghiasi wajah Alvino saat ini.
"Aku tidak yakin akan bisa membawanya kembali, Mah. Dia berhak mendapatkan pasangan yang lebih baik dariku," gumamnya dengan mata terpejam.
"Bang, Fana menunggu saat itu tiba. Berjuanglah dan jemput aku kembali," Bisikan lembut yang mampir ke pendengarannya membuat kedua mata Alvino terbuka lebar.
Pria itu menatap ke segala penjuru untuk mencari dari manakah sumber suara itu berasal. Namun, nihil. Kamar megah itu hanya berisikan dia seorang.
"Perasaan aku tidak mabuk, kenapa aku berhalusinasi?" gumamnya heran. "Ah, mungkin aku hanya sedang sangat merindukannya saja," lanjutnya dengan wajah sedih.
Tidak mau larut dan meratapi nasib yang justru nanti akan mendatangkan dampak buruk baginya, Alvino memutuskan untuk masuk ke kamar mandi guna membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket.
Beberapa saat kemudian pria itu keluar dari kamar mandi saat merasakan tubuhnya jauh lebih segar setelah terkena guyuran air dingin dari shower. Alvino berjalan menuju lemari besarnya hanya menggunakan selembar handuk putih yang melilit tubuh bagian bawahnya saja, dengan cepat dia mengambil pakaian lalu memakainya.
Teringat dengan ucapan sang ibu yang menghina penampilannya, Alvino segera melangkah menuju cermin besar. Pria itu penasaran, apakah penampilannya sekarang memang seburuk itu sampai mendapat hinaan dari ibunya sendiri. Namun, saat melihat pantulan cermin yang menampilkan seluruh tubuhnya dari kepala hingga kaki, pria itupun menatap geli tubuhnya sendiri.
"Sial, kenapa aku terlihat sangat tua? Pantas saja mama sampai mengolokku. Jika disandingkan dengan Fana, pasti terlihat seperti tokoh beauty and the beast!" racaunya memaki diri sendiri.
"Bagus jika kau sadar! Aku tidak akan pernah membiarkan adikku memiliki suami buruk rupa sepertimu."
Alvino menoleh seketika dan terkejut saat melihat siapa yang berdiri di ambang pintu kamar. "Siapa yang mengizinkanmu masuk ke ruangan pribadiku?" tanyanya dengan nada tidak bersahabat.
Bersambung…
Hay, Gays. Author punya rekomendasi novel keren, nih! Karya Momoy Dandelion dengan judul Menikahi Mafia Arogan. Jangan lupa tinggalkan jejak cantiknya guys.
__ADS_1