
Sementara itu, disisi Syifana yang kini merasa dirinya sudah lebih baik sejak penuturan sang kakak ipar tentang tulisan tangan Alvino. Perempuan itu mulai menghabiskan waktunya untuk merawat bunga pemberian sang suami.
Ara dan Ali yang melihat kegiatan positif sang adik dari kejauhan tersenyum lega. Pada akhirnya Ara mengetahui jika apapun yang berkaitan dengan Alvino mampu memberikan semangat untuk Syifana. Terbukti saat ini, perempuan itu sudah tidak lagi meratapi nasibnya hanya di dalam kamar saja. Berbeda dengan Ali yang belum tahu apa-apa.
"Moon, aku lega karena Syifa mulai menyibukkan diri dengan hal positif. Tidak hanya mengurung diri didalam kamar saja," tutur Ali jujur.
Ara yang semula masih intens menatap kegiatan sang adik yang nampak menyenangkan seketika menoleh ke arah sang suami. Dia mengangguk setuju dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh suaminya.
"Kamu tahu kenapa Syifa bisa semangat itu merawat bunga-bunga yang kemarin sempat dia tolak mentah-mentah?" tanya Ara kepada suaminya.
"Ini pasti karena ulah kamu semalam, Moon. Aku lihat juga semalam dia mulai mau makan bersama kita," tebak Ali masih menatap wajah ceria sang istri.
Ara menggeleng pelan, masih dengan senyum ceria di wajah cantiknya. "Bukan karena aku, Sun. Ini semua karena Kak Al," jawab Ara gamblang.
Ketika mendengar pengakuan istrinya, Ali memicingkan matanya. Berusaha menelisik raut wajah sang istri. Mengira bahwa perempuan itu mungkin hanya mengada-ada saja.
__ADS_1
"Maksud kamu Alvino?" tanya Ali memastikan.
Anggukan kecil yang dilakukan Ara membuat Ali terkejut. "Dia berani datang kemari?" tanya Ali dengan nada sedikit meninggi.
Ara kembali mengalihkan pandangan ke arah sang adik ipar. Perempuan muda itu terlihat sedang berbicara sendiri dengan deretan bunga berwarna-warni di depannya. "Kak Al tidak pernah takut untuk datang kesini, dia menjauhi Syifa hanya karena menghargai permintaan ayah, Sun."
"Kamu sepertinya tahu banyak tentangnya," timpal Ali dengan lirih.
"Kamu cemburu?" tebak Ara sedikit membulatkan matanya.
Tingkah suaminya itu berhasil membuat Ara terkekeh geli. "Kamu ingat, Sun. Dia yang menyelamatkan aku dari kekejaman Rico Maladeva, ayahnya sendiri," ungkap Ara mengingatkan sang suami.
"Yah, terlepas dia menyebalkan. Dia memang selalu baik padamu, Moon. Aku tidak menyangka jika dia mampu melampiaskan dendamnya pada adikku," keluh Ali tersenyum kecut.
"Maaf, Sun. Semua ini karena aku. Kalian sama sekali tidak bersalah," ujar Ara penuh sesal.
__ADS_1
Ara cukup sadar diri bahwa semua bermula karena dirinya. Syifana menjadi target dendam dari Alvino juga karena dia.
"Jangan salahkan dirimu, Moon. Aku tahu kalau dia melakukan ini semua untuk membalasku. Jika saja dulu aku tidak pernah menyakiti kamu, aku yakin dia tidak akan melakukan ini semua." Ali mengelus bahu sang istri dengan senyum tipisnya.
Saat mereka sedang berbincang, terlihat Bude Nur datang mendekati Syifana yang tengah berada di taman. Mereka seperti mengobrol sebelum akhirnya Syifana terlihat terkejut. Perempuan muda itu bahkan sampai jatuh ke tanah dengan posisi berjongkok.
"Syifana kenapa?" gumam Ali yang penasaran.
"Coba kita datangi saja dulu. Pembicaraan mereka tidak terdengar sampai sini," ajak Ara yang berjalan lebih dulu.
Ali mengikuti dari belakang hingga mereka sampai tepat di depan kedua perempuan berbeda generasi tersebut. Melihat sang adik menangis, Ara segera memeluk adik iparnya itu. Meski harus bersusah payah berjongkok, Ara tetap melakukan itu demi ketenangan sang adik.
"Kamu kenapa menangis, Syifa." Ara bertanya sambil mengelus lembut punggung bergetar sang adik.
"Ba-ng V-ino, K-ak. Sy-ifa t-idak mau bercerai dengannya. Bude bil-ang, Ayah sudah mendaftarkan gugatan lewat pengacara," jelas Syifana dengan suara terbata.
__ADS_1
"Apa? Ayah sudah kelewatan." Ali mengepalkan kedua tangannya, emosi saat mendengar penuturan sang adik tentang perlakuan sang ayah yang terlalu ikut campur terlalu dalam pada masalah pribadi anaknya