
Seorang pria berjalan dengan langkah tegas memasuki sebuah ruangan VVIP di restoran ternama, di depannya seorang pelayan wanita yang mengantarkan dia untuk menemui seseorang yang mengajaknya bertemu disana.
"Silahkan, Tuan. Sudah di tunggu didalam," ujar pelayanan sambil membuka pintu.
Setelah pria itu masuk si pelayan langsung menutup kembali pintu tersebut. Pria itu melangkah mendekat pada seseorang yang sudah duduk di kursi memunggunginya.
"Rei," panggil si pria kepada orang yang duduk di kursi.
Namanya di panggil oleh suara yang sangat begitu dia kenali, Reiner menoleh lalu berdiri untuk menyambut seseorang yang dia ajak bertemu di tempat itu.
"Dev, gue kira lo enggak akan datang," ujarnya dengan wajah berbinar.
Alvino hanya tersenyum sekilas lalu menarik kursi dan duduk di sana. "Ada apa, kenapa mengajak bertemu disini?" tanyanya kembali ke setelan awal.
"Gue mau minta maaf sama lo, Dev. Kalau bukan karena ulah gue, Syifa …."
"Udahlah, enggak perlu di bahas. Kejadian itu enggak pengen gue inget-inget lagi," potong Alvino yang tahu kemana arah pembicaraan Reiner.
"Tapi … gimana kondisi Syifa sekarang?" tanya Reiner penuh sesal.
"Dia udah bisa terima kenyataan, kok! Lo tenang aja. Kita berdua udah berusaha untuk mengiklaskan," jawab Alvino singkat.
"Lo udah banyak berubah, Dev."
"Gue hanya berusaha untuk memperbaiki diri agar pantas menjadi pendamping perempuan sebaik istri gue," timpalnya jujur.
Reiner mengangguk setuju. "Jadi Lo maafin gue?" tanya Reiner ragu.
"Lo enggak salah apapun, enggak perlu merasa bersalah dan minta maaf. Gue udah tahu kejadian sebenarnya," jawab Alvino tersenyum kecut.
Reiner mengerutkan keningnya saat merasa tidak paham dengan pembicaraan pria di depannya. "Maksud lo?"
"Jonathan yang udah sengaja celakain istri gue. Dia menganggap Syifana adalah batu sandungan buat gue terus kembangin wild wolf," ungkap Alvino dengan suara tercekat.
__ADS_1
"Jonathan, bukankah dia kaki tangan lo?" tanyanya memperjelas.
Alvino mengangguk. "Dia berkhianat karena setelah gue menikahi Syifa, gue udah jarang ngurusin klan warisan papa."
Reiner menggeleng tidak percaya. Hanya karena masalah itu dia sampai mencelakai istri pemimpinnya. "Terus sekarang gimana kondisi klan mafia lo itu?"
"Wild wolf udah bukan punya gue, Rei. Nama, markas, serta beberapa anak buah gue udah menjadi hak Jonathan."
Mata tajam Reiner membulat sempurna. "Gimana bisa, Dev? Itu hak Lo."
Alvino menghela napas panjang. "Gue emang udah sengaja bubarin klan ciptaan papa. Gue udah enggak mau lagi jadi orang jahat," jawabnya jujur.
"Tapi seharusnya lo bisa alih fungsikan menjadi klan mafia pembela kebenaran," timpal Reiner memberi usul.
"Kaya Deadly Scorpio? Awalnya juga gue berniat gitu, tapi ternyata Jonathan enggak terima. Dia sampai melakukan pemb*ntaian besar-besaran terhadap anggota yang mau bertahan sama gue," jelas Alvino menceritakan kejadian itu.
"Keterlaluan Jonathan! Dia tega bant*i rekannya sendiri demi kekuasaan. Jadi lo rela lepasin klan mafia warisan papa Lo demi nyawa anggota setia lo?" tebak Reiner mengurai benang merah dari cerita Alvino.
Alvino mengangguk lalu tangannya mengambil secangkir kopi yang tersedia di meja dan meneguk minuman itu.
Mereka melanjutkan obrolan mereka sambil menyantap makanan yang dipesan oleh Reiner. Malam sudah semakin larut saat Alvino sedang dalam perjalanan pulang ke mansionnya. Dia memang sengaja membiarkan sang istri untuk kembali tinggal bersama sang ayah sampai saatnya tiba untuk mereka berkumpul.
Ya Alvino Maladeva yang sekarang bukan lagi Aldev yang dulu. Jika dulu dia adalah sosok yang arogan, sekarang dia sudah lebih bisa mengendalikan diri. Tenang layaknya air mengalir, mengikuti takdir akan membawanya kemanapun.
Beberapa saat kemudian mobil yang di kendarainya sampai di mansion miliknya. Begitu masuk halaman, dia menajamkan penglihatan saat netranya melihat satu mobil yang terparkir di halaman mansion.
"Bukannya itu mobil milik Ace?" monolog Alvino yang kini turun dari mobil.
Pria itu memeriksa plat nomor yang tertera di mobil itu. "Benar ini mobil Ace, mau apa dia kesini?" gumam Alvino heran.
Saat dia masih mengitari mobil itu, tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya dari belakang. Suara itu adalah suara yang begitu dia sukai saat ini. Reflek dia menoleh dan terkejut ketika kedua matanya melihat seseorang yang berdiri di ujung anak tangga mansion.
"Fana," lirih Alvino dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Bang Vino." Syifana berlari menuruni anak tangga tanpa hati-hati, sampai kakinya terpeleset dan tubuhnya limbung.
"Awas!" Alvino dengan cepat berlari untuk menangkap tubuh istrinya yang seperti akan jatuh.
Beruntung pria itu berhasil menahan tubuh istrinya agar tidak terjatuh dengan posisi Alvino menahan pinggang Syifana, sedangkan Syifana memegang leher suaminya. Kedua pasang mata itu saling bersitatap.
"Ehem," Deheman dari ambang pintu mengejutkan dua insan yang sedang di mabuk asmara itu.
Alvino dengan perlahan melepaskan sang istri saat perempuan itu sudah berdiri tegak dengan kakinya. Pria itu menundukkan wajah saat melihat sang mertua menatap tajam ke arahnya.
"Dari mana, kamu?" tanya Hendra dengan ekspresi datar.
"Maaf, Yah. Saya baru bertemu dengan Kak Rei," jawab Alvino jujur tanpa berani menatap mertuanya.
"Hanya karena Reiner, kau meninggalkan istrimu di rumahku."
Alvino reflek mendongak saat mendengar ucapan sang ayah mertua. Mulutnya kini terkunci rapat karena rasa terkejut.
"Kau sebenarnya mencintai putriku tidak?" tanya Hendra lagi dengan suara tinggi.
Alvino mengalihkan pandangan ke arah sang istri yang kini mengangguk dengan senyum sumringah seperti sedang menyuruhnya menjawab pertanyaan dari pria paruh baya di atas sana.
"Sa-ya men-cintai Syifa, Yah. Sangat!"
Hendra berjalan menuruni anak tangga. Tatapannya masih tertuju pada sang menantu. Raut wajahnya bahkan sulit di artikan bahkan oleh Alvino yang sebenarnya bisa membaca raut wajah seseorang. Alvino sedikit merasa takut saat pria paruh baya itu semakin dekat ke arahnya.
Alvino sudah berpikiran bahwa sebentar lagi tubuhnya akan kembali menjadi samsak tinju sang mertua. Dia hanya pasrah jikalau memang akan kembali menerima amukan mertuanya itu. Namun, kenyataannya tidak begitu, sang mertua justru menepuk pelan pundaknya.
"Kalau begitu, jaga dia untukku. Jangan kecewakan istriku lagi," ujar Hendra seraya memaksa bibirnya untuk tersenyum.
Setelah mengucapkan kata itu, Hendra kembali berjalan menjauh dari anak serta menantunya. Dia belum bisa terlalu lama menatap orang yang sudah pernah menyakiti putrinya. Namun, kini dia sadar bahwa mungkin dia memang harus memberikan kesempatan pada menantunya itu.
Alvino menatap kepergian mertuanya dengan perasaan bingung. Campur aduk antara senang dan sedih. "Fana, coba tampar saya!"
__ADS_1